Prancis, BRIN tanda tangan kontrak pembangunan dua kapal riset

2 jam yang lalu 3

Jakarta (ANTARA) - Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani kontrak pembangunan dua kapal riset ilmiah kelautan dengan galangan kapal asal Prancis, PIRIOU.

Menurut siaran pers Kedubes Prancis di Jakarta, Rabu, kerja sama strategis antara Indonesia dan Prancis, melalui Badan Prancis untuk Pembangunan (AFD), dan Uni Eropa (EU) bertujuan untuk memperkuat kapasitas riset ilmiah kelautan di Indonesia.

Disebutkan bahwa penandatanganan kontrak tersebut merupakan realisasi dari proyek KRisNa (Kapal Riset Nasional), dan penunjukan galangan kapal PIRIOU dilaksanakan melalui proses tender internasional terbuka yang diikuti oleh 12 peserta tender.

Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, mengatakan bahwa penandatanganan kontrak tersebut merupakan pencapaian nyata dari hubungan maritim bilateral antara kedua negara.

Dia menambahkan bahwa sebagai negara dengan wilayah teritori laut terbesar kedua, Prancis memiliki keahlian yang signifikan dalam riset kelautan, khususnya di wilayah Indo-Pasifik.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, mengatakan bahwa keahlian Eropa dan kapal riset rancangan Prancis akan membantu meningkatkan kemampuan riset kelautan di Indonesia serta memperkuat pengetahuan ilmiah tentang kelautan.

Sementara itu, Country Director AFD, Yann Martres, menegaskan bahwa pengelolaan laut berkelanjutan merupakan prioritas utama bagi AFD di Indonesia.

Martres mengatakan bahwa penandatanganan kontrak itu menjadi tonggak sejarah dalam kerja sama BRIN dan AFD dan menyatakan dirinya sangat senang galangan kapal Prancis, PIRIOU, terpilih sebagai mitra utama.

Presiden PIRIOU, Vincent Faujour, menekankan bahwa PIRIOU merasa terhormat atas kepercayaan yang diberikan oleh BRIN dan bangga dapat berkontribusi dalam program strategis tersebut bersama Indonesia dan AFD.

Menurutnya, proyek itu menggambarkan kompetensi PIRIOU dalam pembangunan kapal riset yang kompleks dan kemampuan PIRIOU untuk mendukung program maritim internasional, yang berkontribusi pada kedaulatan negara.

Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara maritim yang berperan penting dalam keanekaragaman hayati laut, konektivitas global, sumber daya kelautan, dan dinamika iklim dunia.

Menurutnya, potensi tersebut perlu didukung oleh kapasitas riset yang memadai agar dapat diubah menjadi keunggulan nasional.

“Data dan informasi yang dihasilkan kapal riset modern sangat penting untuk mendukung penyusunan kebijakan maritim, pengelolaan sumber daya alam, pelindungan lingkungan, hingga pengembangan teknologi kelautan,” kata Arif.

Proyek KrisNa, pengadaan dua unit kapal riset modern, bermula dari komitmen Pemerintah Indonesia bersama AFD yang telah disepakati sejak 2021.

Dua kapal riset itu adalah satu kapal riset penjelajah samudera dengan kemampuan riset laut dalam, dan satu kapal riset penjelajah pesisir untuk mendukung riset di wilayah pantai dan perairan dangkal.

Armada kapal riset baru itu merupakan infrastruktur strategis yang akan menjadi tulang punggung riset dan inovasi dalam upaya pemanfaatan sumber daya kelautan secara inklusif dan berkelanjutan guna menunjang prioritas nasional di bidang energi, pangan, dan kemaritiman.

Baca juga: Pemprov Papua-BRIN bangun Bandar Antariksa di Kabupaten Biak Numfor

Baca juga: Kementan gandeng BRIN perkuat riset demi swasembada dan hilirisasi

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya