Spanduk protes dipasang di gerbang Kedubes Azerbaijan di Teheran menentang pelarangan Muslimah berhijab masuk sekolah-sekolah di Azerbaijan.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Seorang anggota senior parlemen Iran menyatakan bahwa Azerbaijan akan mengalami nasib yang sama dengan Iran era pra-Revolusi jika tetap memaksakan larangan jilbab bagi anak-anak di sekolah.
Dikutip dari Press Tv, Ali Motahari dalam sebuah artikel opini singkat yang diterbitkan pada Sabtu(17/10/2026), mengatakan bahwa tindakan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev terhadap sentimen keagamaan rakyatnya menyerupai kebijakan mantan shah (raja) Iran, yang berujung pada penggulingan pada Revolusi Islam 1979.
Motahari menyebut Aliyev bisa saja mengalami nasib yang sama seperti Shah Iran karena meniru agenda mantan penguasa Iran tersebut, yang menginginkan hubungan lebih dekat dengan rezim Israel serta berupaya mengikis peran Islam di tengah masyarakat.
"Langkah Aliyev dalam melarang jilbab bagi siswi sekolah ini akan menjerumuskannya ke dalam jurang ketidakstabilan, karena seseorang tidak bisa bermain-main dengan sentimen keagamaan rakyatnya," kata dia.
Azerbaijan memberlakukan aturan baru bulan lalu yang melarang para siswa sekolah mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan pendidikan sekuler.
Aksi protes pun pecah di negara tersebut pekan ini setelah munculnya laporan bahwa sejumlah siswi dan guru berkerudung dilarang masuk ke sekolah.
Otoritas Azerbaijan telah menangkap lebih dari 200 orang karena menentang penegakan aturan baru tersebut. Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran juga mendesak Azerbaijan untuk menghormati hak anak-anak atas pendidikan tanpa harus melepas jilbab.

1 minggu yang lalu
11





English (US) ·
Indonesian (ID) ·