Heboh Pemilihan Serbia: Gerakan Mahasiswa Tumbangkan Partai Penguasa

47 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Gerakan rakyat Serbia yang dibentuk mahasiswa dan Gen Z, Student List, berhasil menang pemilihan parlemen versi hitung cepat dan mengalahkan rezim penguasa Partai Progresif Serbia (SNS), Minggu (25/10).

Kemenangan itu sekaligus mengakhiri 14 tahun kekuasaan partai berkuasa pimpinan mantan Presiden Aleksandar Vucic yang mengundurkan diri pada September lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hasil sementara menunjukkan mahasiswa unggul secara meyakinkan di hampir semua tempat pemungutan suara," kata kandidat dari Daftar Mahasiswa, Radomir Saicic, di markas gerakan ini, dikutip AFP.

Dia lalu berujar, "Mahasiswa menang dan bersama mereka juga harapan Serbia bisa jadi negara yang menjunjung keadilan, kebebasan, dan martabat."

Anak muda lain, Mila Martic, mengaku kemenangan itu jadi angin segar bagi dirinya.

"Saya merasa seperti akhirnya saya hidup di negara yang bebas," kata dia.

Pemilihan legislatif kali ini diikuti 6,4 juta warga atau 65 persen dari total penduduk dan menjadi salah satu pemilihan yang paling disorot lantaran berlangsung ketika demonstrasi berkepanjangan yang terjadi di negara tersebut sejak 2024.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, tak lama setelah hasil hitung cepat keluar, Vucic mengakui kekalahan partainya hanya dua jam setelah pemungutan suara ditutup. Namun, dia juga menuduh kemenangan lawannya, yaitu Student List, dibantu kekuatan asing.

"Saya ingin orang-orang tahu, ini adalah pengesahan revolusi yang dilakukan dengan dukungan langsung dari berbagai negara Eropa dan 'negara bayangan' AS, yang menentang Presiden Trump," kata dia.

Vucic adalah tokoh sayap kanan yang punya kebijakan nasionalis-populis dan mengontrol ketat media guna mempertahankan dominasi parpolnya.

Ribuan orang membanjiri jalan-jalan ibu kota turut merayakan kemenangan Student List. Klakson dari mobil-mobil yang lewat bersaut-sautan dan seirama dengan yel-yel yang digemakan warga. Beberapa orang juga menyalakan kembang api.

Pemilu ini digelar usai Serbia diguncang demonstrasi besar-besaran selama dua tahun imbas tragedi kanopi runtuh di stasiun Novi Sad pada 2024. Insiden tersebut menewaskan 14 orang. Sebelum kejadian ini, stasiun baru selesai direnovasi.

Setelah itu, warga menggelar aksi solidaritas dan doa bersama. Namun, pemerintah disebut mengerahkan kelompok preman bayaran yang terafiliasi dengan SNS dan polisi untuk membubarkan massa. Petugas juga memukuli massa.

Tindakan brutal itu memicu protes yang lebih luas dan masif dari mahasiswa-mahasiswi serta dosen. Mereka juga menggemakan slogan Corruption Kills dan menuntut keadilan untuk korban, akuntabilitas hukum, pejabat yang bertanggung jawab mundur, hingga mahasiswa yang ditangkap dibebaskan.

Kemudian pada Desember 2024 hingga Januari 2025, massa menduduki gedung kuliah hingga pemerintahan. Namun, mereka tak melihat ada perubahan dari rezim.

Para pengunjuk rasa akhirnya mengubah strategi dengan membentuk entitas peserta pemilu untuk menggeser Vucic dari kekuasaan. Sadar posisinya terdesak, dia mempercepat pemilu yang seharusnya digelar pada 2027 tapi akhrinya digelar pada Minggu.

(isa/rds)

Baca Artikel Selengkapnya