Jakarta (ANTARA) - Perusahaan BUMN farmasi PT Phapros Tbk (PEHA) membukukan laba bersih yang tumbuh 511,01 persen year on year (yoy) menjadi senilai Rp14,97 miliar pada semester I 2026, dibandingkan senilai Rp2,45 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama PEHA Intan Abdams Katoppo, dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin, menjelaskan pertumbuhan kinerja perseroan ditopang oleh kenaikan penjualan, perbaikan margin laba kotor akibat perbaikan portofolio produk, serta efisiensi operasional proses produksi di pabrik.
"Kinerja cemerlang itu dicapai melalui strategi yang dijalankan, yaitu penguatan finansial yang sehat dan berkelanjutan seperti pengendalian biaya yang lebih terukur, strategi peningkatan kepuasan pelanggan, penguatan portofolio, transformasi sistem dan proses bisnis, serta optimalisasi sumber daya manusia dan budaya perusahaan," ujar Intan.
Ia melanjutkan perseroan berhasil menjaga tren pertumbuhan kinerja keuangan, serta optimistis kinerja laba akan terus bertumbuh lebih dari dua digit hingga akhir tahun 2026.
"Untuk itu, kami konsisten menjalankan strategi perusahaan untuk terus memperkuat inovasi dan profitabilitas, sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan kesehatan masyarakat Indonesia," ujar Intan.
Pertumbuhan laba bersih perseroan ditopang oleh pertumbuhan penjualan sebesar 5,37 persen (yoy) menjadi Rp482,85 miliar pada semester I 2026, dibandingkan senilai Rp458,22 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Selain itu, perseroan mampu melakukan efisiensi dengan menurunkan harga pokok penjualan (HPP) atau cost of goods sold (COGS) pada Januari hingga Juni 2026.
Adapun, cost ratio HPP terhadap penjualan hanya sebesar 49 persen pada Juni 2026, sedangkan pada periode sama tahun sebelumnya mencapai 52 persen (efisiensi cost ratio mencapai 3 persen).
"Hal tersebut menunjukkan bahwa kenaikan penjualan 5,37 persen (yoy) atau lebih tinggi dari kenaikan COGS/HPP, sehingga membuat margin laba kotor naik menjadi 50,4 persen dibandingkan dengan semester I 2025 sebesar 48,0 persen," ujar Intan.
Lebih lanjut, perseroan mencatatkan kas dan setara kas sebesar Rp162,47 miliar per 30 Juni 2026, atau tumbuh 215,6 persen (yoy) dibandingkan sebesar Rp51,49 miliar per 30 Juni 2025.
Per 30 Juni 2026, perseroan mencatatkan total aset yang tumbuh 4,66 persen (yoy) menjadi Rp1,45 triliun, dibandingkan sebesar Rp1,39 triliun per 31 Desember 2025.
Saat ini, perseroan tengah mempersiapkan produksi inovasi produk baru dalam bentuk serbuk dari kelas terapi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), yang ditujukan secara spesifik untuk membantu mengatasi nyeri dan inflamasi pada kasus penyakit dental (gigi), untuk memperkuat lini produk dental yang telah dimiliki dan cukup kuat, salah satunya produk Pehacaine yang merupakan produk Anestesi.
"Produk tersebut saat ini dalam tahap persiapan produksi dan segera memasuki tahap komersialisasi dan ditargetkan rilis pada kuartal IV 2026," ujar Intan.
Selain bisnis domestik, perseroan telah menginisiasi bisnis ekspor sejak 2014, yang mana saat ini telah melakukan ekspor ke beberapa negara, di antaranya Kamboja, Filipina, Myanmar, Nigeria, Peru, dan Papua Nugini.
Adapun produk andalan ekspor yang telah berjalan hampir lebih dari satu dekade, diantaranya produk analgesik, produk anti-TB, produk multivitamin, produk antimabuk perjalanan, dan produk antibiotik.
Pada kuartal III dan kuartal IV 2026, perseroan berencana untuk melakukan pengiriman produk ekspor ke beberapa negara, diantaranya Filipina, Timor-Leste, dan Kamboja, dengan nilai target penjualan ekspor ini mencapai Rp5 miliar.
"Ke depannya, perseroan terus menargetkan pertumbuhan double digit atas penjualan ekspor untuk mendukung bisnis dalam negeri, termasuk penambahan jumlah calon buyer dan penambahan lini produk," ujar Intan.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·