Jakarta, NU Online
Direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU Asrul Raman menyampaikan bahwa kegiatan Penggerak Orang Muda Indonesia (POMI) menjadi ruang penting untuk menumbuhkan daya kritis mahasiswa dan pemuda.
Menurutnya, konsolidasi antarpersonal, kelompok, dan gerakan kemahasiswaan perlu terus diperkuat agar masyarakat sipil memiliki kekuatan dalam mengawasi kebijakan negara.
“Karena hanya dengan itu ada kontrol yang baik bagi kebijakan-kebijakan pemerintah dan negara saat ini,” ujarnya saat ditemui NU Online.
Ia mengatakan bahwa gerakan masyarakat sipil, termasuk POMI, harus terus menjaga sikap kritis agar kebijakan pemerintah berpihak kepada masyarakat, terutama kelompok yang selama ini terpinggirkan.
Asrul mengatakan POMI telah hadir di tujuh provinsi. Sejak tahun lalu, para anggotanya menggelar diskusi kritis untuk membahas ketimpangan dan berbagai persoalan di daerah masing-masing. Hasil diskusi tersebut kemudian menjadi bahan untuk memberikan masukan kritis terhadap kebijakan pemerintah daerah.
Menurutnya, isu yang diangkat tidak terbatas pada demokratisasi dan pemerintahan, tetapi juga menyangkut persoalan yang dihadapi masyarakat terbelakang dan kelompok terpinggirkan.
“Tidak hanya pada isu demokratisasi, pemerintahan, tetapi juga isu-isu yang cukup melekat dengan isu-isu yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat terbelakang, terpinggir di daerah masing-masing,” katanya.
Asrul berharap semakin banyak anak muda memiliki kepedulian terhadap persoalan di lingkungan sekitarnya.
“Global saat ini itu mendorong kita harus saling memperkuat satu sama lain, sehingga punya mata rantai yang sangat baik dalam menyikapi setiap problem-problem yang ada, baik nasional maupun di dunia saat ini,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua POMI Supariyanto mengatakan agenda Bersatulah Orang Muda merupakan upaya menjawab kegelisahan generasi muda terhadap berbagai persoalan sosial dan kebijakan negara.
“Yang di mana kita pengin anak-anak muda, orang-orang muda khususnya bersatu, berkolaborasi untuk sadar terkait dengan bahwa sadar kita dipajak, sadar kita dimiskinkan, sadar kita dibakar,” ungkapnya.
Ia menyampaikan bahwa POMI ingin membangun kolaborasi antarkomunitas anak muda sekaligus menentukan keberpihakan kepada masyarakat yang mengalami penindasan oleh penguasa.
“Kita membutuhkan ruang-ruang bersuara seperti itu, makanya kita menggandeng komunitas-komunitas yang diisi oleh orang-orang muda,” ujarnya.
Selain memperluas solidaritas, POMI mendorong transformasi digital untuk menghubungkan gerakan di tingkat pusat dan daerah.
“Sehingga apa yang disuarakan di pusat itu menjadi suara di daerah, apa yang menjadi suara di daerah itu akan menjadi suara di pusat. Sehingga kolektivitas, ruang gerak kita itu tetap terkoneksi satu sama lain,” pungkas Supariyanto.

1 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·