REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Parlemen Ukraina menyetujui pengunduran diri Perdana Menteri Yulia Svyrydenko pada Selasa (14/7/2026), ketika militer negara itu sedang meningkatkan serangan drone jarak jauh terhadap kilang minyak dan kompleks petrokimia Rusia.
Sebanyak 258 anggota Verkhovna Rada mendukung pengunduran diri Svyrydenko. Jumlah itu melampaui ambang mayoritas yang dibutuhkan, yakni 226 suara. Keputusan parlemen sekaligus membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan baru setelah Svyrydenko hanya sekitar satu tahun menduduki jabatan perdana menteri.
Pengunduran diri tersebut bukan disebabkan oleh serangan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia. Kedua perkembangan itu terjadi dalam waktu bersamaan, tetapi tidak terdapat bukti yang menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat di antara keduanya.
Secara formal, Svyrydenko mengundurkan diri. Namun, secara politik, keputusannya merupakan konsekuensi dari langkah Presiden Volodymyr Zelensky yang pada Ahad (12/7/2026) mengumumkan rencana mengganti perdana menteri dan merombak kabinet.
Berdasarkan hukum Ukraina, pengunduran diri perdana menteri harus memperoleh persetujuan parlemen dan secara otomatis diikuti pengunduran diri seluruh kabinet. Para menteri akan tetap menjalankan tugas sebagai pejabat sementara sampai pemerintahan baru terbentuk.
Svyrydenko menjabat sebagai perdana menteri sejak Juli 2025. Ekonom berusia 40 tahun itu sebelumnya menjadi wakil kepala kantor kepresidenan dan selama empat tahun menjabat wakil perdana menteri yang menangani pembangunan ekonomi serta perdagangan.
Dalam pidato perpisahannya di parlemen, Svyrydenko mengatakan satu tahun pemerintahannya dipenuhi keputusan sulit. Ia menekankan bahwa tantangan terbesar pemerintahan berikutnya adalah mempersiapkan Ukraina menghadapi musim dingin ketika Rusia diperkirakan kembali meningkatkan serangan terhadap jaringan listrik dan sistem gas negara tersebut.
Sebab Mengundurkan Diri
Zelensky menyatakan perombakan diperlukan untuk memastikan pelaksanaan “strategi politik yang diperbarui”. Ia berterima kasih kepada Svyrydenko atas pekerjaannya yang dinilai stabil dan efektif, tetapi tidak menjelaskan secara terperinci kegagalan atau kebijakan tertentu yang menyebabkan perdana menteri harus diganti.
Dalam penjelasan lebih luas, Zelensky mengatakan pemerintah membutuhkan penyegaran untuk memperkuat upaya mendapatkan tambahan sistem pertahanan udara dari negara-negara mitra, mempercepat proses keanggotaan Ukraina di Uni Eropa, dan mempersiapkan infrastruktur energi menghadapi serangan Rusia pada musim dingin mendatang.
Dengan demikian, alasan resmi pengunduran diri Svyrydenko adalah restrukturisasi pemerintahan, bukan kekalahan militer ataupun kegagalan serangan Ukraina terhadap Rusia. Meski demikian, alasan spesifik mengapa Svyrydenko yang harus diganti tetap menjadi pertanyaan di kalangan anggota parlemen.
sumber : Xinhua

1 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·