Perbanas: Bank perkuat prudential measures di tengah risiko geopolitik

4 minggu yang lalu 16
Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan

Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memastikan industri perbankan memperketat "prudential measures", termasuk kerangka manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian (prudential banking), di tengah meningkatnya risiko geopolitik antara Iran-Israel yang melibatkan Amerika Serikat (AS).

“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan. Dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset,” kata Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Hery menegaskan bahwa indikator fundamental perbankan domestik masih berada pada level yang solid, meskipun volatilitas eksternal meningkat.

Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, likuiditas yang memadai, serta permodalan yang kuat.

Perbanas mencatat sejumlah langkah mitigasi telah dan terus diperkuat oleh industri perbankan di tanah air.

Baca juga: Bank masih konservatif, proyeksi kredit 2026 "single digit"

Baca juga: Perbanas salurkan bantuan Sumatera Rp300 juta melalui PMI Jaksel

Beberapa langkah tersebut di antaranya melalui stress test sektoral dan penguatan early warning system untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas kredit.

Adapun stress test sektoral dilakukan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi seperti transportasi, logistik dan manufaktur.

Selain itu, jelas Hery, perbankan juga meningkatkan disiplin penyaluran kredit melalui pendekatan risk-based pricing serta menjaga kecukupan likuiditas melalui optimalisasi rasio liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NFSR).

Di sisi lain, perbankan mengelola eksposur nilai tukar secara lebih konservatif melalui strategi lindung nilai dan pengendalian posisi devisa neto.

“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas, khususnya di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” kata Hery yang juga merupakan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Dengan bauran kebijakan tersebut, industri perbankan diharapkan tetap resilien dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi domestik, meskipun tekanan eksternal berpotensi meningkat dalam jangka pendek hingga menengah.

Baca juga: Aftech-Perbanas perkuat kolaborasi guna jawab tantangan inklusi kredit

Baca juga: Perbanas: Perbankan perlu payung hukum perangi kejahatan keuangan

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya