Perang AS vs Iran Sudah Berlangsung 5 Bulan, Trump Semakin Frustrasi

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki lima bulan dan belum menunjukkan tanda berakhir.

Para pejabat Gedung Putih dan orang-orang dekat Presiden Donald Trump bahkan menyebut pemimpin Partai Republik itu semakin frustrasi dan skeptis tentang prospek perdamaian abadi di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut laporan Wall Street Journal Kamis, sejumlah penasihat khawatir konflik yang berkepanjangan ini membebani Trump di kursi kekuasaannya. Konflik yang tak kunjung selesai itu semakin memicu kenaikan harga, mengikis peringkat dukungan publik terhadap Trump, dan merugikan prospek Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu mendatang.

Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan Trump meyakini bahwa satu-satunya hal yang dipahami Iran adalah kekuatan militer dan berada dalam "mode balas dendam" terhadap Teheran.

Pilihan baginya pun nyaris tak ada selain melanjutkan serangan ke Iran, seperti dikutip dari Anadolu Agency.

AS mengerahkan lebih banyak pasukan dan senjata ke Timur Tengah karena Trump mempertimbangkan eskalasi militer meskipun ada kekhawatiran tentang biaya dan dukungan publik.

Ironisnya lagi, perang dengan Iran justru semakin menambah renggang hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sekutu dekat sejak awal perang.

Seorang pejabat senior pemerintahan yang enggan diungkap identitasnya menyebut Trump enggan berbicara atau bertemu lagi dengan Netanyahu.

Perang tersebut juga berdampak serius pada Trump secara pribadi dan para penasihat seniornya. Ia kini kerap diperingatkan oleh badan intelijen tentang ancaman pembunuhan dari Iran dan disarankan untuk menghindari penggunaan layanan mobil, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Saat menghadiri KTT NATO di Turki, Trump diberi informasi oleh intelijen Israel mengenai dugaan rencana Iran untuk membunuhnya. Meskipun pejabat AS mempertanyakan kredibilitasnya, pengarahan tersebut dikatakan telah mendorongnya untuk kembali dengan pesawat Air Force One yang lebih tua daripada jet hadiah Qatar.

Trump dikatakan marah setelah New York Times mengungkapkan alasan pergantian tersebut, membeberkan kebocoran itu sebagai risiko keamanan, sementara pemerintahannya berupaya mengidentifikasi sumbernya ke media itu.

Trump juga mendorong penurunan harga bensin menjelang pemilihan paruh waktu dan kurang khawatir daripada para penasihatnya tentang dampak politik perang tersebut, kata orang-orang yang mengetahui diskusi tersebut.

(bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya