Jakarta, CNN Indonesia --
Operasi penyelamatan lima warga yang terjebak di dalam gua banjir di Laos menyisakan kisah dramatis dari para tim penyelamat. Seorang penyelam veteran yang pernah terlibat dalam penyelamatan legendaris tim sepak bola remaja di Thailand pada 2018 bahkan mengaku lebih takut menghadapi medan di Laos.
Penyelam penyelamat asal Finlandia, Mikko Paasi, mengatakan kondisi di dalam gua di Provinsi Xaisomboun, Laos tengah, jauh lebih menyesakkan dibanding operasi penyelamatan di Gua Tham Luang, Thailand, yang menyita perhatian dunia delapan tahun lalu.
"Saya lebih takut di sini. Tempat ini sangat membuat sesak. Jika ada kondisi yang benar-benar menggambarkan klaustrofobia, inilah contohnya," kata Paasi kepada CNN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan itu menggambarkan betapa beratnya medan yang harus dilalui para korban maupun tim penyelamat. Empat warga yang sempat terjebak bahkan berhasil berjalan dan merangkak keluar dari gua sebelum tim penyelamat mencapai lokasi mereka.
Paasi, yang dikenal sebagai instruktur penyelaman teknis dan penjelajah bawah air berpengalaman, merupakan salah satu anggota paling senior dalam operasi penyelamatan tersebut. Menurut dia, ada beberapa kesamaan dengan misi penyelamatan di Thailand pada 2018, tetapi karakteristik gua di Laos menghadirkan tantangan yang sangat berbeda.
"Lingkungannya benar-benar berbeda," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa selama operasi berlangsung, tim penyelamat harus melewati lorong-lorong sempit yang membentang hingga ratusan meter tanpa jeda. Kondisi itu membuat proses evakuasi menjadi jauh lebih rumit dan berisiko.
Lima pria yang terjebak akhirnya berhasil diselamatkan setelah menghabiskan sekitar 10 hari di dalam gua yang terendam banjir. Mereka sebelumnya memasuki kawasan tersebut untuk mencari emas sebelum hujan deras memicu banjir bandang yang menutup akses keluar.
Gua kapur tempat mereka terjebak berada di kawasan perbukitan proyek pertambangan dekat Desa Long Tieng, wilayah yang dikenal memiliki cadangan mineral melimpah serta lanskap lembah yang luas.
Long Tieng terletak di Provinsi Xaisomboun, sekitar 55 kilometer di sebelah timur Vang Vieng, destinasi wisata alam populer di Laos yang terkenal dengan pegunungan karst dan pemandangan hijau yang membentang.
Meski kini hanya dihuni beberapa ribu penduduk, Long Tieng memiliki sejarah penting. Pada era 1960-an hingga awal 1970-an, wilayah ini pernah menjadi markas rahasia Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dalam operasi selama Perang Vietnam.
Lokasi gua yang terpencil turut memperumit upaya penyelamatan. Akses menuju area tersebut harus ditempuh melalui jalan berlumpur yang diguyur hujan musim penghujan selama berhari-hari.
Untuk mencapai lokasi, tim CNN harus menempuh perjalanan helikopter selama 45 menit, dilanjutkan perjalanan darat sekitar 30 menit dan berjalan kaki melintasi medan berbatu.
Hujan lebat yang mengguyur kawasan itu menjadi penyebab utama banjir bandang yang menutup pintu keluar gua dan menjebak para penambang amatir tersebut selama lebih dari sepekan.
Tim penyelamat kemudian mengerahkan berbagai upaya untuk menurunkan permukaan air, termasuk memompa air dari sejumlah titik di hilir gua. Langkah itu dilakukan agar jalur menuju lokasi korban dapat diakses dengan lebih aman.
Kelima pria tersebut akhirnya ditemukan pada Rabu (28/5) di sebuah ruang dalam gua yang berada lebih dari 260 meter dari pintu masuk. Posisi mereka berada jauh di bawah tanah, di jalur yang menurun dengan kemiringan sekitar 45 derajat.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

3 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·