Pentagon Restui Drone Bersenjata Shotgun dan Peluncur Granat, Era Baru Perang Udara Jarak Dekat?

40 menit yang lalu 1

JAKARTA -- Pentagon membuka jalan bagi penggunaan drone bersenjata senapan shotgun dan peluncur granat oleh militer Amerika Serikat (AS). Drone bernama Cerberus MI yang dikembangkan Skyborne Technologies itu telah masuk daftar sistem pesawat tanpa awak yang lolos pemeriksaan pemerintah, menandai perkembangan teknologi ketika wahana udara berukuran relatif kecil mulai dirancang untuk membawa persenjataan tembak langsung dan dapat digunakan berulang kali.

Skyborne Technologies mengumumkan pada Senin (26/10/2026) bahwa Cerberus MI resmi dimasukkan dalam Blue UAS Cleared List milik Departemen Pertahanan AS. Pencantuman tersebut memungkinkan satuan militer Amerika melakukan pengadaan dan mengoperasikan platform drone itu tanpa harus memperoleh pengecualian khusus terhadap kebijakan pengadaan pesawat tanpa awak yang berlaku.

Business Insider pada Selasa (27/10/2026) melaporkan bahwa Cerberus MI merupakan salah satu perkembangan terbaru dalam perlombaan teknologi drone bersenjata. Berbeda dengan drone kamikaze yang menghancurkan dirinya bersama sasaran, pesawat ini dirancang untuk menembakkan senjata, kembali ke operator, diisi ulang, dan diterbangkan kembali untuk menjalankan misi berikutnya.

Keputusan Pentagon itu bukan berarti Cerberus MI sudah digunakan dalam pertempuran atau seluruh kemampuan senjatanya telah dinyatakan siap secara operasional. Status Blue UAS Cleared terutama berkaitan dengan kelayakan platform untuk pengadaan dan penggunaan berdasarkan persyaratan keamanan serta kepatuhan pemerintah, sedangkan pengerahan dan penggunaan senjata dalam operasi militer tetap mengikuti kewenangan serta ketentuan tersendiri.

Meskipun demikian, perkembangan tersebut menunjukkan perubahan penting dalam arah teknologi pesawat tanpa awak. Jika selama ini drone kecil banyak digunakan sebagai alat pengintaian, pembawa bahan peledak, atau wahana serangan satu arah, Cerberus MI menawarkan pendekatan berbeda dengan menggabungkan kemampuan terbang, sensor, kecerdasan buatan, dan persenjataan yang dapat digunakan berulang kali.

Membawa Shotgun dan Peluncur Granat 40 Milimeter

Cerberus MI dikategorikan sebagai pesawat tanpa awak kecil kelompok 2 atau Group 2 UAS menurut klasifikasi militer Amerika. Skyborne menyebut drone itu memiliki bobot sekitar 18 kilogram dalam konfigurasi yang diumumkan, sehingga dapat dibawa oleh personel dan dikerahkan tanpa membutuhkan fasilitas peluncuran pesawat berukuran besar.

Drone tersebut dirancang sejak awal untuk membawa persenjataan tembak langsung, bukan sekadar drone komersial yang kemudian dimodifikasi dengan menambahkan senjata. Salah satu pertimbangan desainnya adalah menjaga kestabilan pesawat ketika senjata dilepaskan, sebab daya hentak tembakan dapat mengganggu kendali dan posisi wahana udara yang relatif ringan.

Skyborne menyediakan dua pilihan persenjataan utama yang dapat dipasang secara bergantian. Senjata pertama adalah CHAOS kaliber 12-gauge, jenis shotgun yang dirancang untuk dipasang pada sistem tanpa awak. Pilihan kedua adalah HAVOC, peluncur granat berkecepatan rendah kaliber 40 milimeter.

Kedua sistem tersebut dirancang menggunakan amunisi berstandar militer yang sudah dikenal luas. Menurut perusahaan, penggunaan amunisi yang tersedia dalam rantai pasokan pertahanan dapat mempermudah dukungan logistik dibandingkan mengembangkan jenis amunisi khusus yang sepenuhnya baru.

Berdasarkan keterangan perusahaan, Cerberus MI mampu terbang sekitar 35 menit ketika membawa persenjataan. Skyborne juga menyebut sistem tersebut dapat membantu pelaksanaan penembakan dari jarak lebih dari 300 meter melalui integrasi sensor dan perangkat pengendalian tembakan.

Namun, angka 300 meter tersebut merupakan klaim kemampuan sistem dari pengembang, bukan bukti bahwa drone mampu menghancurkan seluruh jenis sasaran pada jarak tersebut. Efektivitas penembakan akan dipengaruhi jenis amunisi, karakteristik sasaran, kondisi penerbangan, serta hasil pengujian yang belum seluruhnya dipublikasikan.

Kehadiran shotgun dan peluncur granat pada satu platform memberi Cerberus MI dua karakteristik persenjataan yang berbeda. Shotgun dapat digunakan dalam konsep penanggulangan sasaran jarak dekat, sedangkan peluncur granat memperluas kemungkinan penggunaan drone dalam misi serangan terhadap sasaran yang sesuai dengan karakteristik amunisinya.

Namun, kedua jenis persenjataan itu tidak dapat dianggap memiliki efektivitas yang sama untuk seluruh misi. Kemampuan menghadapi drone lain di udara, misalnya, memerlukan pengujian tersendiri yang berbeda dari penembakan terhadap sasaran di darat.

Kecerdasan Buatan Membantu Penentuan Sasaran

Selain membawa senjata, Cerberus MI dilengkapi perangkat lunak bernama EXITUS AI. Skyborne mengembangkan teknologi tersebut untuk membantu operator mengenali sasaran, menggabungkan informasi sensor, dan menghitung solusi penembakan ketika pesawat berada dalam posisi yang sesuai.

Sistem tersebut memanfaatkan sensor elektro-optik, inframerah, dan pengukur jarak laser. Data dari berbagai sensor diolah bersama untuk membantu operator memahami posisi serta karakteristik sasaran tanpa harus sepenuhnya mengandalkan pengamatan visual secara langsung.

Menurut Skyborne, teknologi kecerdasan buatan pada Cerberus MI tidak berarti keputusan menembak diserahkan sepenuhnya kepada komputer. Perusahaan menyatakan sistem itu menggunakan pendekatan human-in-the-loop, yakni manusia tetap terlibat dalam pengambilan keputusan penggunaan senjata.

Pembedaan ini penting karena pengembangan pesawat tempur otonom semakin menimbulkan pertanyaan mengenai pembagian tanggung jawab antara operator dan mesin. Sistem yang membantu mengenali atau melacak sasaran tidak otomatis sama dengan sistem yang berwenang memilih dan menyerang sasaran tanpa persetujuan manusia.

Pada Cerberus MI, fungsi kecerdasan buatan yang dijelaskan perusahaan terutama diarahkan untuk mendukung pengamatan dan penentuan solusi tembak. Sampai saat ini, belum tersedia laporan pengujian independen yang secara menyeluruh menunjukkan akurasi sistem tersebut dalam seluruh kondisi medan perang.

Keterbatasan semacam itu penting diperhitungkan karena lingkungan pertempuran menghadirkan tantangan berbeda dibandingkan demonstrasi teknologi. Sasaran dapat bergerak tidak menentu, komunikasi bisa terganggu, dan kondisi pengamatan dapat berubah akibat cuaca, asap, maupun gangguan elektronik.

Karena itu, keberhasilan menggunakan kecerdasan buatan tidak cukup dinilai dari kemampuan mendeteksi objek. Sistem juga harus mampu membedakan objek yang sah untuk diserang dengan benda atau aktivitas lain yang tidak boleh menjadi sasaran berdasarkan hukum dan aturan operasi militer.

Baca Artikel Selengkapnya