Jakarta (ANTARA) - Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, keputusan penyedia indeks saham global MSCI mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market menjadi kabar positif bagi pasar modal karena tetap menjaga kepercayaan investor.
Status Emerging Market dinilai penting memastikan Indonesia tetap berada dalam radar investor institusi global dan berbagai dana investasi internasional yang menjadikan indeks MSCI Emerging Markets sebagai acuan penempatan dana.
“Dengan tetap bertahannya status tersebut, risiko keluarnya dana asing secara besar-besaran akibat perubahan klasifikasi pasar dapat dihindari sehingga memberikan stabilitas yang lebih baik bagi pasar saham domestik,” ujar Hendra dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Meski demikian, MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada kriteria Information Flow dari sebelumnya positif ("+") menjadi negatif ("-").
Menurut Hendra, catatan itu menunjukkan MSCI masih menaruh perhatian terhadap aspek transparansi pasar, terutama terkait keterbukaan struktur kepemilikan saham, kualitas arus informasi, serta konsentrasi kepemilikan yang dinilai berpotensi memengaruhi pembentukan harga saham yang wajar.
“MSCI secara tegas menyoroti keterbukaan informasi dan aksesibilitas pasar bagi investor global. Catatan ini menjadi pengingat bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan tata kelola, likuiditas, dan kualitas pasar modal agar semakin dipercaya investor internasional,” katanya.
Maka dari itu, keberlanjutan status Emerging Market ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan regulator dan pelaku pasar dalam memperbaiki kualitas tata kelola dan transparansi.
Hendra menuturkan sejumlah aspek yang perlu diperkuat, antara lain peningkatan free float emiten, perlindungan investor, keterbukaan informasi perusahaan tercatat, serta efisiensi mekanisme perdagangan di bursa.
"Jika reformasi berjalan efektif, bukan hanya status Emerging Market yang dapat dipertahankan, tetapi Indonesia juga berpotensi memperoleh peningkatan bobot investasi global di masa mendatang," jelasnya.
Dari sisi pasar, keputusan MSCI diperkirakan memberikan sentimen positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek. Kepastian bahwa Indonesia tidak mengalami penurunan klasifikasi dinilai mampu meredakan ketidakpastian yang selama beberapa bulan terakhir membayangi pasar.
“Pelaku pasar sebelumnya cukup khawatir terhadap kemungkinan penurunan klasifikasi yang dapat memicu arus keluar dana asing. Dengan skenario tersebut tidak terjadi, ruang pemulihan kepercayaan investor menjadi lebih terbuka,” kata Hendra.
Secara teknikal, sentimen MSCI berpotensi mendorong IHSG bergerak menguat dalam perdagangan akhir pekan dan menguji area resistensi di kisaran 6.377.
Apabila level tersebut mampu ditembus dengan dukungan volume yang kuat, peluang penguatan lanjutan akan semakin terbuka. Sementara itu, area 6.074 menjadi level support penting yang perlu dijaga untuk mempertahankan momentum pemulihan pasar.
"Dengan demikian, pengumuman MSCI dapat menjadi katalis positif jangka pendek bagi IHSG, meskipun dalam jangka menengah hingga panjang perhatian investor masih akan tertuju pada realisasi reformasi transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia yang menjadi sorotan utama MSCI," tambah Hendra.
Baca juga: Indef: Ulasan MSCI pertegas pasar RI relevan bagi investor global
Baca juga: Legislator sebut penguatan IHSG sinyal membaiknya perekonomian
Baca juga: AEI: Ulasan MSCI momen perkuat kualitas pasar modal lebih kompetitif
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·