Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Indonesia (UI) sekaligus Pengamat Pasar Modal Budi Frensidy mengatakan bahwa posisi kepala eksekutif sangat strategis, dan keputusannya pada tahun pertama akan menentukan kredibilitas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) dalam jangka panjang.
Selain itu, ia mengatakan posisi tersebut akan turut membangun dari awal kerangka pengawasan pasar yang berpotensi menjadi tempat pembentukan harga komoditas strategis Indonesia.
“Kepala eksekutif akan ikut membangun dari awal kerangka pengawasan pasar yang berpotensi menjadi tempat pembentukan harga komoditas strategis Indonesia. Karena itu, keputusan pada beberapa tahun pertama dapat menentukan kredibilitas BMKS untuk jangka panjang,” ujar Budi saat dihubungi oleh ANTARA di Jakarta, Rabu.
Adapun, nama calon kepala eksekutif BMKS yang telah diajukan oleh Presiden Prabowo Subianto melalui Surat Presiden (Surpres) dan telah dikirimkan ke DPR RI yaitu M Sarjito.
Menurut Budi, rekam jejak M Sarjito cukup relevan, karena merupakan orang lama di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta pernah menjadi Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal dan Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen.
Namun demikian, ia mengingatkan perlunya dilakukan fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) yang lebih substantif terhadap kepala eksekutif BMKS, bukan hanya sekedar formalitas.
“Yang perlu diuji bukan hanya pengalaman regulasinya, tetapi pemahamannya mengenai perdagangan komoditas fisik, derivatif, pembentukan benchmark harga, mitigasi manipulasi pasar, serta independensinya terhadap pelaku industri,” ujar Budi.
Terkait kepengurusan di BMKS, Budi mengingatkan pentingnya independensi, kompetensi, serta pencegahan konflik kepentingan. Selain itu, perlunya pengurus dan pengawas BMKS yang bebas dari kepentingan produsen besar, trader maupun kepentingan politik.
“Pengawasan terhadap manipulasi harga, transaksi afiliasi dan konsentrasi pemain juga harus kuat,” ujar Budi.
Menurut Budi, BMKS dapat memperkuat price discovery di dalam negeri, sehingga tidak terus bergantung pada benchmark luar negeri untuk komoditas yang justru banyak diproduksi di Indonesia.
Selain itu, katanya lagi, transaksi yang lebih transparan dapat membantu mengurangi under-invoicing dan transfer pricing, memperbaiki penerimaan negara, serta memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perdagangan komoditas global.
Ia mengatakan bahwa keberhasilan BMKS akan sangat ditentukan oleh likuiditas, kredibilitas harga, serta tata kelolanya.
“Yang terpenting adalah menciptakan likuiditas, jumlah penjual pembeli yang cukup, transparansi harga dan volume, standardisasi kualitas komoditas, clearing-settlement yang kuat, serta kontrak derivatif untuk hedging. Kalau transaksi diwajibkan tetapi pasarnya tipis, harga yang terbentuk justru tidak akan menjadi benchmark yang kredibel,” ujar Budi.
Sebelumnya, Ketua DPR RI Puan Maharani telah mengungkapkan nama calon Kepala Eksekutif BMKS yang diajukan oleh Presiden melalui Surat Presiden (Surpres) dan dikirimkan ke DPR RI yaitu M Sarjito.
Puan mengatakan bahwa Komisi XI DPR RI pun sudah ditugaskan untuk memproses nama tersebut sesuai mekanisme, ketentuan, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
"Namanya itu Pak M Sarjito yang akan diproses sesuai dengan mekanismenya di Komisi XI," kata Puan.
Baca juga: DPR: M Sarjito jadi calon Kepala Bursa Mineral dan Komoditas Strategis
Baca juga: Bahlil: Indonesia bisa atur harga komoditas SDA lewat Bursa Mineral
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·