PDNU Soroti Lemahnya Deteksi Dini, Kematian DBD Tak Bisa Hanya Dibebankan kepada Masyarakat

3 jam yang lalu 1

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PP PDNU), Muhammad S. Niam, menilai kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) tidak dapat semata-mata dikaitkan dengan rendahnya kesadaran masyarakat. Menurutnya, lemahnya sistem deteksi dini di fasilitas kesehatan juga menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian.


Niam mengakui masih banyak warga yang menganggap demam sebagai penyakit ringan dan melakukan swamedikasi selama beberapa hari tanpa pemeriksaan. Sebagian juga belum mengenali tanda bahaya, seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas berat, atau penurunan kesadaran, sehingga baru datang ke fasilitas kesehatan setelah memasuki fase kritis.


“Di banyak wilayah, (kesadaran masyarakat) masih menjadi penyebab penting,” ujar Niam kepada NU Online, Sabtu (8/8/2026).


Namun, Niam menegaskan bahwa tanggung jawab tidak boleh sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat. Menurutnya, sistem kesehatan juga memiliki peran besar dalam mencegah pasien berkembang menjadi DBD berat.


“Di sisi lain, sistem kesehatan juga berperan,” katanya.


Ia mengungkapkan sejumlah tantangan masih ditemukan di lapangan. Di antaranya, belum semua fasilitas kesehatan menerapkan skrining dengue secara konsisten terhadap pasien demam dan pemantauan pasien yang dipulangkan belum selalu dilakukan secara optimal.


“Keterlambatan rujukan pada kasus yang mulai menunjukkan tanda bahaya, serta perbedaan pengalaman tenaga kesehatan dalam mengenali fase kritis dengue,” ucapnya.


Niam menegaskan bahwa penguatan sistem deteksi dini dapat membantu mengurangi risiko pasien berkembang menjadi DBD berat, termasuk ketika pasien terlambat mencari pertolongan.


“Misalnya, ketika pasien datang pada hari ketiga demam dalam kondisi belum berat, fasilitas kesehatan dapat mengenali risiko dengue sejak awal, memberikan edukasi tertulis mengenai tanda bahaya dan jadwal kontrol,” katanya.


Dengan sistem tersebut, lanjut Niam, pasien dapat dipantau kembali ketika memasuki periode berisiko mengalami fase kritis.


“Dilakukan pemantauan ulang pada saat risiko memasuki fase kritis. Dengan sistem seperti itu, meskipun kesadaran awal pasien belum optimal, peluang berkembang menjadi DBD berat dapat berkurang,” tegasnya.


Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa sistem deteksi dini yang lemah dapat menyebabkan pasien yang sebenarnya telah datang cukup awal tidak dikenali sebagai kasus dengue atau tidak dipantau secara memadai.


“Bila sistem deteksi dini lemah, pasien yang sebenarnya sudah datang cukup awal tetap berisiko tidak dikenali sebagai dengue atau tidak dipantau secara memadai,” tuturnya.


Fogging Bukan Solusi Tunggal

Niam juga menyoroti masih kuatnya ketergantungan pada pengasapan atau fogging dalam pengendalian DBD. Menurutnya, metode tersebut memiliki keterbatasan karena tidak membunuh telur, larva, dan pupa nyamuk.


Fogging tidak membunuh telur, larva, dan pupa. Itu efeknya sementara dan bukan pengganti pengendalian sumber perkembangbiakan nyamuk,” ucapnya.


Ia menekankan perlunya perubahan pendekatan dari reaktif menjadi proaktif melalui penguatan sistem peringatan dini berbasis surveilans epidemiologi, entomologi, dan data iklim. Pengendalian vektor juga perlu dilakukan secara berkelanjutan sepanjang tahun.


“Peningkatan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan, edukasi masyarakat yang berkelanjutan, penggunaan intervensi berbasis bukti, serta evaluasi program secara berkala guna menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD,” tegasnya.

Baca Artikel Selengkapnya