PBNU Siapkan Peluncuran Sa'adatuna, Ekosistem Digital Penghubung Warga NU hingga Akar Rumput

3 jam yang lalu 4

Jakarta, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah merampungkan persiapan peluncuran Sa'adatuna, platform digital yang dirancang sebagai ekosistem untuk menghubungkan warga Nahdlatul Ulama (NU) hingga tingkat akar rumput. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan platform tersebut dijadwalkan diluncurkan setelah Muktamar Ke-35 NU.


"Mungkin tidak apa-apa jika saya sedikit membocorkan rencana ini. Dalam waktu dekat kami akan meluncurkan sebuah inisiatif bernama Sa'adatuna," ujar Gus Yahya saat membuka pelatihan Community Emergency Response Partnership (CERP) di Hotel Acacia, Jakarta, Selasa (28/7/2026).


Gus Yahya menjelaskan, Sa'adatuna dalam bahasa Arab berarti kebahagiaan kita. Nama tersebut juga merupakan akronim dari Satu Alam Digital untuk Nahdlatul Ulama.


"Kami sedang menyelesaikan seluruh persiapannya. Berbagai sistem aplikasi telah siap dan insyaallah akan diluncurkan setelah Muktamar Nahdlatul Ulama," katanya.


Menurut Gus Yahya, PBNU mulai membangun platform digital Nahdlatul Ulama sejak 2023 dengan tujuan menghadirkan ekosistem digital yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan warga NU dan masyarakat.


"Platform tersebut telah berjalan dengan baik untuk kebutuhan internal organisasi. Kini siap dikembangkan hingga ke tingkat akar rumput," ujarnya.


Ia menjelaskan, sejak awal NU didirikan, semangat utamanya adalah membangun sistem yang memungkinkan masyarakat saling membantu secara lebih efektif melalui koordinasi organisasi yang kuat.


Sebagai contoh, Gus Yahya mengingatkan kembali gerakan Mabadi' Khaira Ummah yang diprakarsai Ketua Pengurus Besar NU KH Mahfudz Siddiq pada 1939. Gerakan tersebut bertujuan membangun masyarakat terbaik melalui penguatan nilai-nilai saling menolong.


Lima prinsip yang menjadi fondasi gerakan itu meliputi As-Shidq (kejujuran), Al-Wafa bil 'Ahdi (menepati janji), Al-Amanah (dapat dipercaya), Al-'Adl (keadilan), dan At-Ta'awun (saling tolong-menolong).


"Gagasannya adalah menghubungkan masyarakat satu sama lain agar mereka mengetahui kebutuhan sesamanya setiap saat, sehingga setiap orang siap membantu siapa pun yang membutuhkan dengan kemampuan yang dimilikinya," jelasnya.


Gus Yahya mengatakan tantangan tersebut kini semakin besar seiring berkembangnya jumlah warga NU. Berdasarkan berbagai survei, sekitar 57 persen umat Islam Indonesia mengidentifikasi diri sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama, atau setara lebih dari 120 juta orang.


"Karena itu, tantangan strategis kami saat ini adalah bagaimana menjangkau seluruh warga NU dan menghubungkan mereka satu sama lain," tegasnya.


Ia menambahkan, apabila pada 1939 jumlah warga NU diperkirakan masih berkisar lima hingga sepuluh juta orang, saat ini tantangan menghubungkan lebih dari 120 juta warga tentu jauh lebih kompleks. Karena itu, perkembangan teknologi digital menjadi peluang besar untuk memperkuat jejaring antarsesama Nahdliyin.


"Syukurlah, sekarang teknologi sudah berkembang sangat pesat. Kami dapat memanfaatkan teknologi digital untuk menghubungkan warga NU sehingga mereka dapat saling membantu kapan pun diperlukan," tandasnya.

Baca Artikel Selengkapnya