Di era digital saat ini, orang tua harus lebih ekstra dalam mengawasi sang buah hatinya. Karena karakter anak tidak lagi ditentukan oleh pergaulan fisik, tetapi juga melalui gadget yang ada di genggaman tangannya.
Teknologi memang bisa membuka akses ke berbagai pengetahuan dan keterampilan baru. Namun, di sisi lain, jika tidak diawasi dengan tepat, paparan digital yang berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental, fisik, dan bahkan sosial anak.
Melalui pola asuh digital yang tepat, kita tidak hanya melindungi anak dari ancaman siber, tetapi juga mempersiapkan generasi emas yang cerdas secara intelektual dan luhur secara spiritual di era modern.
Imam Abu Hamid Al-Ghazali (Wafat 505 H) menyebutkan bahwa metode dalam membentuk karakter anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan paling ditekankan. Anak-anak adalah amanah di tangan kedua orang tuanya.
Hatinya yang suci adalah permata yang amat berharga, polos, serta bersih dari segala bentuk ukiran dan gambar. Ia siap menerima potret apa pun yang diukirkan kepadanya, dan cenderung kepada apa saja yang diarahkan kepadanya.
Jika ia dibiasakan dan diajarkan kebaikan, maka ia akan tumbuh di atas kebaikan itu, serta akan berbahagia di dunia dan akhirat. Orang tuanya, serta setiap guru dan pendidiknya, akan bersama dalam mendapatkan pahalanya.
Namun, jika ia dibiasakan dengan keburukan dan ditelantarkan layaknya binatang ternak, niscaya ia akan sengsara dan binasa, sedangkan dosa atas dosanya akan dikalungkan di leher orang tua yang bertanggung jawab atasnya.” (Ihya’ Ulumiddin, [Semarang: Karya Thaha Putra, t.th] juz III halaman 69)
Berikut beberapa panduan parenting anak menurut para ulama
Pertama, awasi aktivitas anak di dunia maya
Awasi jenis konten yang dikonsumsi anak dengan memanfaatkan aplikasi dan fitur kontrol orang tua yang tersedia pada perangkat digital untuk memantau aktivitas online mereka serta memblokir konten yang tidak sesuai.
Salah satu cara mendidik anak agar tetap aman di era digital adalah dengan memantau aktivitas anak di dunia maya. Anda bisa melihat riwayat penelusuran video yang ia tonton, apakah sudah sesuai dengan usianya atau belum.
Kalau anak sudah bermain media sosial, pantau daftar teman di akunnya. Lihat juga isi kolom komentar pada unggahan akun media sosial anak.
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa fondasi utama dalam mendidik anak adalah menjaga pergaulannya. Hindarkan anak dari bergaul dengan orang-orang yang suka bermaksiat, berkata kasar dan kotor, serta memiliki kebiasaan buruk. (Ihya’ Ulumiddin, juz III halaman 69-71)
Kedua, Screen Time: berapa jam batas waktu harian yang boleh untuk anak dalam menggunakan gawai.
Pastikan mereka memiliki waktu yang cukup untuk aktivitas fisik, belajar, dan interaksi langsung dengan orang-orang di sekitar mereka.
Salah satu yang bisa dilakukan agar anak tidak terus bermain gadget, orang tua dapat memasukkan anak di lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal, seperti di madrasah diniyah.
Syekh Najmuddin Al-Ghazzi (wafat 1061 H / abad ke-17 M) menjelaskan bahwa dengan memasukkan anak ke lembaga pendidikan, ia akan terjaga dari bermain berlebihan dan dari pergaulan yang tidak jelas.
Namun, ada catatan kritis dari Najmuddin al-Ghazzi. Beliau mengingatkan bahwa lembaga pendidikan (al-kuttab) hanya efektif dalam membentuk karakter anak jika para gurunya disiplin dan amanah. Jika gurunya lalai, lingkungan sekolah pun bisa berubah menjadi tempat penularan sifat-sifat buruk.
فَائِدَةٌ حَادِيَةٌ وَسَبْعُونَ رَوَى السُّلَمِيُّ أَيْضًا عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ التِّرْمِذِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى قَالَ: صَلَاحُ خَمْسَةِ أَصْنَافٍ فِي خَمْسَةِ مَوَاطِنَ: صَلَاحُ الصِّبْيَانِ فِي الكُتَّابِ، وَصَلَاحُ القُطَّاعِ فِي السِّجْنِ، وَصَلَاحُ النِّسَاءِ فِي البُيُوتِ، وَصَلَاحُ الفِتْيَانِ فِي العِلْمِ، وَصَلَاحُ الكُهُولِ فِي المَسَاجِدِ.
وَبَيَانُهُ: أَنَّ الصِّبْيَانَ يَنْكَفُّونَ بِالكُتَّابِ عَنِ اللَّعِبِ وَمُخَالَطَةِ الصِّبْيَانِ العَارِمِينَ، وَعَنِ الفَسَادِ، وَبِذَلِكَ صَلَاحُهُمْ وَصِيَانَتُهُمْ. وَلَعَلَّ هَذَا بِاعْتِبَارِ زَمَانِ تَقَدُّمٍ، وَأَمَّا الآنَ فَقَدْ يَكُونُ فِي بَعْضِ المَكَاتِبِ فَسَادُ بَعْضِ الصِّبْيَانِ لِتَقْصِيرِ المُعَلِّمِينَ وَتَسَاهُلِهِمْ.
Artinya “As-Sulami juga meriwayatkan dari Abu Abdillah Muhammad bin Ali at-Tirmidzi Ra, ia berkata: ‘Kebaikan lima golongan manusia itu berada di lima tempat:
Kebaikan anak-anak berada di tempat belajar (al-kuttab), kebaikan para begal jalanan berada di dalam penjara, kebaikan wanita berada di dalam rumah, kebaikan para pemuda berada di dalam ilmu, dan kebaikan orang-orang tua berada di dalam masjid.’
Penjelasannya: Bahwa anak-anak dapat dicegah dari bermain-main, dari bergaul dengan anak-anak nakal, serta dari kerusakan dengan berada di tempat belajar. Dengan cara itulah letak kebaikan dan penjagaan bagi mereka.
Namun, barangkali pandangan ini berlaku pada zaman dahulu. Adapun sekarang, terkadang di sebagian tempat belajar justru terjadi kerusakan pada sebagian anak-anak akibat kelalaian dan sikap meremehkan para pengajarnya.” (Husnut Tanabbuh lima Warada fit Tasyabbuh, [Beirut: Maktabah Nuruddin Thalib, 2011] juz III halaman 151)
Ketiga, buat aturan penggunaan digital di rumah
Dalam menerapkan parenting, anak perlu diberi kesempatan untuk bermain, agar pikirannya bisa berkembang dan tidak penat. Namun, perlu ada aturan dan batasan yang ditetapkan.
Buat aturan yang jelas tentang penggunaan teknologi digital di rumah, dan pastikan peraturan tersebut berlaku untuk semua orang. Ini bisa mencakup kapan dan di mana perangkat boleh digunakan, serta konsekuensinya jika aturan tersebut dilanggar.
Menurut Imam Al-Ghazali, sebaiknya anak diizinkan bermain dengan permainan yang baik untuk mengistirahatkan dirinya dari kelelahan belajar. Karena terus memaksanya belajar dapat mematikan hatinya dan merusak kecerdasannya. (Ihya’ Ulumiddin, juz III halaman 98).
Namun di sisi lain, Imam Al-Ghazali (juz III, hlm. 71) juga menyampaikan bahwa jika anak tumbuh terbiasa dengan permainan (yang berlebihan), perkataan kotor, dan lain sebagainya, maka hatinya akan menolak kebenaran. Hal ini dapat kita lihat, ketika anak sudah kecanduan gadget, ia tidak akan menerima nasehat dan cenderung marah jika diperintah melakukan kebaikan.
Keempat, Berikan contoh yang positif
Anak belajar dari orang tuanya. Kalau orang tua ingin anak mengurangi penggunaan gadget, maka orang tua juga perlu menunjukkan bahwa anak bisa mengatur waktu layar sendiri. Jadilah contoh yang baik dalam menggunakan teknologi secara bijak.
Bagi anak, orang tua adalah panutan pertama. Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha al-Dimyathi menjelaskan bahwa karakter manusia terbentuk dari orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, orang tua harus memberi contoh yang baik dalam menggunakan gadget.
الطَّبْعُ يَسْرِقُ مِنَ الطَّبْعِ وَالنَّفْسُ مَجْبُولَةٌ عَلَى الِاقْتِدَاءِ بِمَنْ تَسْتَحْسِنُ حَالَهُ
Artinya, “Karakter (tabiat) itu mencuri dari karakter orang lain, dan jiwa manusia itu secara alami cenderung untuk meniru siapa saja yang keadaannya ia anggap baik.” (Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2016] halaman 86)
Kelima, lakukan parenting secara bertahap
Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan pentingnya metode bertahap dalam mendidik karakter anak.
فَإِنَّ النُّزُوعَ عَمَّا وَقَعَ الأُلْفُ بِهِ دَفْعَةً وَاحِدَةً عَسِرٌ بَلْ مُمْتَنِعٌ. وَلِذَلِكَ يُرَقَّى الصَّبِيُّ الَّذِي يُعَلَّمُ الأَدَبَ بِالتَّرْغِيبِ فِي اللَّعِبِ بِالصَّوْلَجَانِ وَالطُّيُورِ ثُمَّ يُكَفُّ عَنِ اللَّعِبِ بِالتَّرْغِيبِ فِي الثَّرْوَةِ وَالْمَالِ وَالتَّزْيِينِ بِالثِّيَابِ الْجَمِيلَةِ وَغَيْرِهَا ثُمَّ يُرَقِّيهِ مِنْ ذَلِكَ بِالتَّرْغِيبِ فِي الْمَحْمَدَةِ وَالثَّنَاءِ وَنَيْلِ الْكَرَامَةِ وَالرِّيَاسَةِ ثُمَّ يُرَقِّيهِ بِالتَّرْغِيبِ فِي سَعَادَةِ الآخِرَةِ … وَلَا يُمْكِنُ الْخَلَاصُ إِلَّا بِهَذَا التَّدْرِيجِ فَلْيُرَاعَ ذَلِكَ فِي كُلِّ صِفَةٍ اسْتَوْلَتْ عَلَى النَّفْسِ، وَاشْتَدَّتْ عَلَاقَتُهَا
Artinya , "Melepaskan diri secara seketika dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan itu sangatlah sulit, bahkan mustahil. Oleh karena itu, seorang anak kecil yang sedang dididik adabnya akan dibimbing naik secara bertahap;
Mula-mula ia dimotivasi untuk belajar melalui kesenangannya bermain polo dan memelihara burung. Kemudian, ia dialihkan dari permainan tersebut dengan cara dimotivasi melalui pemberian harta, uang, serta perhiasan dan pakaian yang indah dan sejenisnya.
Setelah itu, ia dibimbing untuk naik lagi dari fase tersebut dengan cara dimotivasi melalui pujian, sanjungan, serta pencapaian kehormatan dan kepemimpinan. Barulah kemudian ia dibimbing untuk naik lagi dengan dimotivasi oleh kebahagiaan akhirat.
Seseorang tidak akan mungkin bisa lepas melainkan lewat tahapan-tahapan ini. Maka, hendaklah metode ini diperhatikan dalam menghadapi setiap sifat buruk yang telah menguasai jiwa, dan ikatannya telah menguat." (Mizanul 'Amal, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2018] juz I halaman 164).
Jika anak sudah terlanjur kecanduan gadget, maka parenting harus dilakukan secara bertahap agar jiwa anak tidak berontak dan menolak.
Demikian panduan parenting menurut ulama. Sebagai penutup, gawai dan media sosial hanyalah wasilah (sarana). Ia bisa menjadi ladang amal saleh jika digunakan untuk menyebarkan kebaikan, namun bisa menjadi malapetaka jika merusak moral.
Mari bimbing anak-anak kita dengan penuh kesabaran, kuatkan dengan doa, dan bentengi dengan akhlak mulia. Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang melek teknologi, namun tetap tunduk pada wahyu Ilahi. Wallahu a'lam bisshawab.
Ustadz Muhammad Zainul Millah, Wakil Katib PCNU Kab. Blitar dan pengajar di pesantren Fathul Ulum Wonodadi, Blitar.

2 minggu yang lalu
20





English (US) ·
Indonesian (ID) ·