Jakarta (ANTARA) - Pakar ekonomi syariah dan kebijakan keuangan Islam, Patria Yunita mendorong Indonesia memanfaatkan pembiayaan syariah untuk mengembangkan biodiesel guna menekan dampak kenaikan biaya energi global terhadap industri halal dalam negeri.
Menurut Patria dalam diskusi di Jakarta, Selasa, di tengah gejolak harga minyak global akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, industri halal dunia akan tetap tumbuh dan berdampak pada Indonesia.
Namun demikian, kenaikan harga minyak dinilai berdampak tidak langsung terhadap industri halal, terutama melalui tekanan inflasi dan peningkatan biaya produksi serta distribusi.
Untuk itu, Patria mendorong pengembangan energi alternatif berbasis pembiayaan syariah.
“Indonesia perlu membuat satu biodiesel yang dibiayai oleh sukuk yang akan bermanfaat untuk industri halal … untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak,” ujarnya.
Berdasarkan Global Islamic Economy Indicator Score 2024/2025, Indonesia berada di peringkat ketiga dunia. Secara sektoral, Indonesia menempati posisi pertama untuk modest fashion, kedua farmasi, keempat makanan halal, keenam keuangan syariah, serta ketujuh media dan rekreasi.
Indonesia juga menempati posisi keenam dunia dalam keuangan syariah global.
Posisi ini dinilai membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menarik investasi, termasuk dari negara-negara Teluk (GCC) maupun investor nonmuslim.
Ia menyebut industri keuangan syariah global yang menjadi sumber pembiayaan juga menunjukkan kapasitas besar.
Patria mengutip laporan riset Global Growth Insights yang mencatat nilai pasar keuangan Islam pada 2025–2026 telah mencapai sekitar 3–4 triliun dolar AS, dengan konsentrasi utama di kawasan Teluk yang menguasai 1,44 triliun dolar AS atau 42 persen pangsa pasar.
Wilayah Asia-Pasifik menempati posisi kedua dengan nilai 1,13 triliun dolar AS atau 33 persen, disusul Eropa sebesar 0,51 triliun dolar AS atau 15 persen.
Pasar ini diproyeksikan tumbuh rata-rata 13,23 persen per tahun hingga 2035.
Selain sukuk, ia juga menyoroti potensi pemanfaatan instrumen keuangan sosial Islam seperti zakat dan wakaf untuk mendukung penguatan industri halal, sejalan dengan rencana pengembangan ekonomi syariah nasional oleh Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) bersama Bank Indonesia.
Ia menambahkan industri halal merupakan aset nasional karena berkontribusi langsung terhadap produk domestik bruto (PDB) serta memiliki efek berganda terhadap perekonomian, termasuk penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, dan peluang ekspor produk-produk halal ke negara bukan mayoritas muslim.
Baca juga: Bank Muamalat: Pembiayaan multiguna naik 37,1 persen sepanjang 2025
Baca juga: Transaksi Bale Syariah tembus hampir Rp2 triliun
Baca juga: LPPI: Perbankan syariah tumbuh, literasi publik masih jadi tantangan
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·