OJK ajak gen z waspadai risiko keuangan di tengah paparan teknologi 

36 menit yang lalu 3
Gen Z ini bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga penggerak ekonomi digital

Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengajak generasi muda untuk mewaspadai risiko keuangan yang dihadapi seiring tingginya penggunaan teknologi digital, termasuk potensi terjebak pinjaman daring dan layanan beli sekarang bayar nanti (buy now, pay later/BNPL) akibat keterbatasan pemahaman dan perilaku keuangan.

Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan gen Z memiliki potensi besar dalam mendorong ekonomi digital karena menjadi generasi pertama yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi. Namun, kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi pengetahuan dan perilaku keuangan yang sehat.

“Gen Z ini bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga penggerak ekonomi digital. Makanya hari ini OJK hadir untuk membekali kalian dengan pengetahuan tentang digitalisasi dan keuangan,” kata Friderica saat hadir di Sekolah Rakyat Menengah Atas 10 Jakarta, Selasa.

Ia mengingatkan bahwa kecakapan digital tidak selalu diikuti kemampuan mengelola keuangan. Akibatnya, sebagian anak muda berisiko terpapar pinjaman daring dan menumpuk utang jika tidak memahami konsekuensi penggunaan produk keuangan tersebut.

Data dalam paparan OJK menunjukkan, Gen Z yang lahir pada 1997–2012 mencakup sekitar 26 persen populasi Indonesia atau sekitar 75 juta jiwa berdasarkan data Dukcapil 2026. Generasi ini juga menghabiskan rata-rata 6,5 jam per hari untuk aktivitas melalui telepon pintar dan media sosial.

Di sisi lain, paparan tersebut menyoroti pola penggunaan BNPL yang berpotensi menimbulkan masalah keuangan. Sebanyak 41 persen generasi muda mengaku kehilangan jejak kewajiban pembayaran BNPL setiap bulan, 39 persen menggunakannya untuk pembelian nonesensial, dan 52 persen menilai BNPL mendorong pengeluaran berlebihan.

“Jadi banyak Gen Z yang kemudian terekspos dan mereka sudah banyak hutang dari pinjaman-pinjaman online yang ini bisa bahaya kalau tidak segera belajar dan keluar dari situasi yang sangat tidak baik ini,” kata Friderica.

Friderica juga mengingatkan pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumsi anak muda. Kebiasaan melihat unggahan mengenai liburan, kendaraan mewah, atau gaya hidup orang lain dapat memicu kecemasan dan dorongan untuk mengikuti standar hidup yang ditampilkan di ruang digital.

Paparan OJK turut menunjukkan bahwa 52 persen Gen Z mempercayai influencer sebagai sumber informasi dan panduan keuangan, sementara 56 persen mempercayai media sosial secara umum dan 64 persen menggunakan platform kecerdasan artifisial (AI) sebagai sumber informasi.

Kondisi tersebut memperkuat pentingnya kemampuan memeriksa informasi keuangan sebelum mengambil keputusan.

Melalui kegiatan Digiclass dari OJK bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Komisi Informasi Pusat, dapat memberikan pemahaman bagi generasi muda terkait risiko utang, menyusun anggaran, dan membedakan kebutuhan dari keinginan.

Gen Z diharapkan dapat memanfaatkan layanan keuangan digital secara bijak sekaligus memperkuat perannya dalam perekonomian.

Baca juga: OJK: Baki debet "paylater" tumbuh 33,54 persen, didorong KBMI 1 dan 3

Baca juga: Ekonom sebut pembatasan paylater perkuat pelindungan konsumen

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya