Jakarta, NU Online
Penanganan warga terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan logistik. Trauma akibat gempa dan ketakutan terhadap gempa susulan masih membuat sebagian masyarakat belum berani kembali ke rumah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian NU Care-LAZISNU PBNU. Setelah menyalurkan bantuan logistik dan melakukan asesmen di sejumlah wilayah terdampak, lembaga filantropi NU itu akan menyiapkan pendampingan psikososial sebagai bagian dari tahap berikutnya.
Wakil Direktur Fundraising, Humas dan IT NU Care-LAZISNU PBNU Anik Rifqoh menyampaikan bahwa kondisi masyarakat masih rentan karena gempa susulan terus terjadi di sejumlah wilayah.
“Tadi saya di Nagekeo masih ada sekitar M5, terus di Ngada juga masih, jadi memang getaran-getarannya masih beberapa kali ada seperti itu, sehingga memang masyarakat belum berani kembali ke rumah. Masyarakat itu masih mengalami trauma atas gempa kemarin yang juga ini terjadi dari tahun 1992,” ujarnya saat dihubungi NU Online pada Senin (24/8/2026).
Anik mengungkapkan bahwa trauma tersebut semakin kuat karena sebagian warga NTT pernah mengalami gempa besar pada 1992. Bahkan, sejumlah rumah yang kini terdampak merupakan bangunan yang dahulu dibangun pemerintah setelah bencana tersebut.
“Ini kenapa mereka masih trauma, masih belum berani kembali ke rumah, masih takut ada gempa, karena memang ini kedua kalinya mereka mengalami gempa besar,” ungkapnya.
Karena itu, LAZISNU PBNU memandang pemulihan psikologis sebagai kebutuhan penting, bukan sekadar pelengkap dalam penanganan pascabencana.
“Nanti insyaallah karena trauma masyarakat untuk gempa cukup kuat, sehingga nanti di tahap kedua kita akan segera berikan untuk psikososial, yang itu memang tidak hanya disasarkan untuk anak-anak, tapi juga ibu-ibu dan juga langsia yang memang mereka masih ketakutan, sehingga memang psikososial dirasa termasuk hal yang kita prioritaskan nanti,” tutur Anik.
Selain pemulihan psikososial, kerusakan fasilitas keagamaan dan pendidikan juga menjadi perhatian. Anik mengatakan bahwa banyak masjid mengalami kerusakan, mulai dari kategori sedang hingga berat. Sejumlah madrasah juga mengalami kerusakan.
“Memang banyak sekali masjid-masjid yang rusak, dari rusak ringan sampai dengan berat. Kemudian juga madrasah banyak yang mengalami kerusakan, itu nanti mungkin bisa jadi prioritas di masa recovery,” katanya.
Ia menyampaikan bahwa saat ini, NU Care- LAZISNU PBNU masih melakukan pendataan terhadap kerusakan rumah, masjid, dan madrasah. Pembangunan belum dilakukan karena wilayah masih berada dalam fase darurat.
Menurut Anik, hasil asesmen tersebut akan menjadi pijakan untuk menentukan bentuk intervensi pada fase pemulihan, termasuk renovasi masjid dan pesantren. Sementara untuk rumah warga, NU Care-LAZISNU akan melihat terlebih dahulu sejauh mana kebutuhan relokasi atau hunian sementara dapat dipenuhi pemerintah.
“Di masa recovery, NU Care-LAZISNU akan memfokuskan di pilar tersebut, nantinya dalam model merenovasi masjid atau merenovasi pesantren,” katanya.
“Kalau rumah nanti kita lihat, biasanya kalau rumah itu yang berperan untuk melakukan relokasi ataupun pengadaan hunian sementara dari pemerintah, nanti baru kita lihat apakah dari pemerintah sudah tercukupi atau belum, kalau belum nanti sejauh mana peran yang bisa LAZISNU ambil,” sambungnya.
Tim NU Peduli Gempa Flores juga membuka donasi melalui LAZISNU NTT untuk mempercepat distribusi bantuan logistik, evakuasi, layanan kesehatan, serta pendampingan masyarakat. Penggalangan kepedulian dapat disalurkan melalui BSI 7164790007 atas nama LAZISNU NTT dan konfirmasi ke kontak 082144503651 Gus Sholeh. Donasi juga dapat melalui nucare.id/campaign/pedulibencana dan NU Online Super App melalui fitur Galang Dana Korban Bencana.

1 jam yang lalu
1




English (US) ·
Indonesian (ID) ·