Netanyahu Serukan Serangan ke Tepi Barat

1 jam yang lalu 1

Pasukan Israel menggerebek Rumah Sakit Nablus di Tepi Barat, Jumat (24/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, TEPI BARAT – Setidaknya 15 kendaraan militer Israel menyerbu kota Nablus di Tepi Barat tempat terjadinya baku tembak mematikan antara pemukim yang didukung pasukan Israel dan warga Palestina pada Jumat. Serbuan ini setelah pemerintahan Zionis Israel menyatakan peningkatan agresi ke wilayah Palestina tersebut.

Kantor berita WAFA melaporkan, pasukan penjajahan Israel (IDF) juga  menggerebek Rumah Sakit Spesialis Nablus. Dani al-Masri, wakil ketua dewan direksi rumah sakit tersebut, mengatakan kepada WAFA bahwa pasukan Israel mengepung rumah sakit, menyerbu unit gawat darurat, menganiaya tenaga medis, serta memborgol para dokter dan perawat.

Koresponden WAFA melaporkan bahwa sejumlah besar kendaraan militer Israel menyerbu kota Nablus melalui pos pemeriksaan militer Huwwara dan bergerak menuju Rumah Sakit Spesialis Nablus, yang saat berita ini dilaporkan masih dalam keadaan terkepung.

Dalam pernyataan bersama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan mereka telah menginstruksikan militer Israel untuk menerapkan serangkaian tindakan sebagai respons terhadap insiden di Tepi Barat yang diduduki selama 24 jam terakhir.

Pernyataan itu mengatakan mereka telah memerintahkan “penghancuran rumah tersangka dalam serangan penembakan pagi ini di dekat desa Tal”.

Setidaknya empat warga Palestina dan satu orang Israel tewas dalam baku tembak tersebut. kejadian itu setelah para pemukim memasuki wilayah terlarang di wilayah Tepi Barat yang diduduki tanpa berkoordinasi dengan tentara, sebuah tindakan yang oleh tentara digambarkan sebagai “berbahaya”.

Radio Tentara Israel mengatakan bahwa penyelidikan militer atas insiden tersebut menyimpulkan bahwa “penembakan terhadap orang Israel tidak direncanakan”.

Netanyahu dan Katz mengatakan bahwa mereka akan “melakukan operasi militer intensif di desa-desa yang dianggap Israel sebagai ‘pusat teror’, termasuk penyitaan senjata, pencabutan izin kerja dan tindakan lainnya”.

Kedua pria tersebut mengatakan mereka akan memperkuat pasukan Israel di seluruh Tepi Barat yang diduduki dan “memisahkan rute lalu lintas dan mendirikan pos pemeriksaan tambahan”.

Mereka juga akan “mempercepat legalisasi pos-pos pemukiman pertanian dan membangun pos-pos baru”. Kedua pejabat tersebut mengatakan pasukan keamanan Israel harus diizinkan beroperasi secara bebas dan dengan “kekuatan maksimum”.

Baca Artikel Selengkapnya