Jakarta, CNN Indonesia --
Israel cemas Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggerus kebebasan Tel Aviv di Lebanon lewat nota kesepahaman (MoU) yang diteken beberapa waktu lalu dengan Iran di Swiss.
Dua pejabat Israel mengatakan kepada Axios bahwa MoU baru AS-Iran yang ditandatangani di Swiss berpotensi merusak upaya Israel selama berbulan-bulan untuk melemahkan milisi Hizbullah Lebanon. Tel Aviv khawatir kesepakatan itu mengikis kebebasan operasi Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pejabat terusik dengan penolakan AS setiap kali Israel ingin melancarkan serangan ke wilayah Lebanon. Tekanan dari Trump agar Israel menarik diri dari Lebanon selatan juga tidak bisa mereka terima.
AS dan Iran meneken nota kesepahaman (MoU) pekan lalu yang menetapkan bahwa pertempuran di semua front, termasuk Lebanon, harus dihentikan. Dalam MoU, kedua negara sepakat untuk memastikan integritas teritorial dan kedaulatan Lebanon, yang belakangan terancam oleh pendudukan Israel.
Israel telah menolak mematuhi MoU dengan alasan bukan pihak yang terlibat perundingan. Serangan-serangan ke Lebanon pun terus diluncurkan hingga Iran marah dan mengancam menutup lagi Selat Hormuz.
Selain itu, Iran juga mengancam akan membatalkan pembicaraan teknis damai di Swiss dengan AS.
AS lantas turun tangan dan mendesak Israel berhenti berulah. Perundingan di Swiss pun lanjut pada Minggu (21/6) dan isu Lebanon menjadi salah satu yang utama ditekankan.
Berdasarkan pernyataan Qatar dan Pakistan selaku mediator, AS dan Iran sepakat untuk membentuk unit de-konflikasi guna memastikan operasi militer di Lebanon benar-benar berhenti.
Menurut para pejabat Israel, perjanjian AS-Iran ini menggerus kesepakatan gencatan senjata Israel dan Lebanon yang ditengahi pemerintahan Presiden Joe Biden, di mana Tel aviv tetap memiliki hak untuk menanggapi ancaman dari Hizbullah, baik yang sedang terjadi maupun yang mungkin akan terjadi.
Dalam perjanjian saat ini, Israel tampaknya hanya boleh bertindak pada ancaman yang kemungkinan akan terjadi.
Mekanisme pemantauan implementasi gencatan senjata Biden juga melibatkan Israel, Lebanon, AS, dan Prancis. Kali ini, Israel tidak berpartisipasi secara langsung. Iran yang berpartisipasi.
Lebih lanjut, mekanisme pemantauan era Biden berfokus pada koordinasi untuk membongkar infrastruktur militer Hizbullah di Lebanon selatan. Sementara mekanisme yang sekarang berfokus pada dekonflikasi antara militer Israel dan Hizbullah.
Masalah Hizbullah, menurut seorang pejabat, memang menjadi beban pikiran Israel, terutama Netanyahu. Sebab isu ini punya dampak domestik yang sangat besar menjelang pemilihan umum (pemilu) Israel Oktober mendatang.
"Bibi sangat histeris soal itu," kata pejabat tersebut, merujuk pada panggilan akrab Netanyahu.
Menurut pejabat yang sama, Netanyahu akhirnya meminta orang kepercayaannya, Ron Dermer, untuk menggunakan hubungannya dengan pemerintahan AS guna memengaruhi pembicaraan AS-Iran. Dermer merupakan mantan menteri urusan strategis Israel dan mantan duta besar Israel untuk AS.
Pejabat itu mengeklaim keterlibatan Dermer membantu memunculkan unggahan Trump di Truth Social, yang mengancam akan menyerang Iran jika Teheran tidak menahan tindakan Hizbullah.
Seorang pejabat AS membenarkan partisipasi Dermer dan mengatakan para negosiator AS di Swiss telah bicara beberapa kali dengannya untuk memberinya informasi mengenai proses perundingan dengan Iran.
"Kami transparan dengan mereka," kata pejabat AS tersebut.
(blq/rds)
Add
as a preferred source on Google

2 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·