Negara di Ambang Krisis dan Resesi, Komunitas di Rembang Dorong Warga Hindari Budaya Konsumtif

2 jam yang lalu 6

Rembang, NU Online

Komunitas literasi dinilai memiliki peran penting dalam membangun gerakan sosial berbasis solidaritas masyarakat di tengah krisis ekonomi dan lingkungan apalagi ditambah budaya konsumtif yang semakin menguat. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi dan pemutaran film Menolak Punah karya Dandhy Laksono dan Aji Yahuti yang menghadirkan pegiat lingkungan serta aktivis literasi di Kabupaten Rembang.


Pegiat budaya Rembang, Ahmad Fajar Setyoaji, menilai kehidupan modern telah menggeser cara pandang manusia terhadap pakaian. Jika dahulu pakaian berfungsi sebagai pelindung tubuh, kini bergeser menjadi bagian dari gaya hidup dan budaya konsumerisme.


Menurutnya, kondisi tersebut bertentangan dengan falsafah Jawa yang diajarkan Ki Ageng Suryomentaram, yakni hidup secukupnya. Nilai itu juga dinilai selaras dengan ajaran agama yang menekankan kesederhanaan dalam kehidupan.


“Ketimpangan antara komoditas kapas dan kebutuhan fashion harus disadari bersama dan dicarikan solusi yang baik ke depan,” ujar Fajar kepada NU Online, Selasa (19/5/2026).


Fajar mengkritik pola pikir kapitalisme yang hanya berorientasi pada keuntungan maksimal. Ia menilai paradigma tersebut sulit berjalan berdampingan dengan keberlanjutan lingkungan apabila laba terus dijadikan tujuan utama.


Sebagai alternatif, ia menawarkan konsep bebrayan agung, yakni hubungan harmonis antara manusia, alam, dan seluruh makhluk semesta. Dalam konsep itu, alam tidak dipandang sebagai objek eksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga bersama.


Ia juga menegaskan bahwa kerusakan lingkungan menjadi salah satu akar kemiskinan sistemik. Masyarakat yang menggantungkan hidup pada air, tanah, dan udara bersih akan menjadi kelompok paling terdampak ketika lingkungan tercemar.


“Ketika lingkungan rusak, masyarakat miskin ikut terdampak melalui munculnya penyakit. Kondisi itu semakin berat ketika akses kesehatan mahal dan fasilitas kesehatan terbatas,” imbuhnya.


Fajar turut menyinggung konsep kosmologi Jawa tentang jagad kecil dan jagad besar yang memandang manusia dan alam semesta sebagai satu kesatuan yang saling terhubung. Karena itu, pencemaran air, tanah, dan udara pada hakikatnya sama dengan meracuni kehidupan manusia sendiri.


Ia juga menyoroti ancaman mikroplastik yang kini semakin luas mencemari lingkungan dan berpotensi memicu berbagai penyakit dalam jangka panjang.


Dalam konteks tersebut, komunitas literasi dinilai dapat menjadi oase kewarasan di tengah derasnya arus modernitas. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas membaca buku, tetapi juga kemampuan membaca realitas sosial dan tanda-tanda kerusakan lingkungan.


“Gerakan literasi diharapkan melahirkan tindakan nyata yang istiqamah, mulai dari membatasi konsumsi, memilah sampah, hingga mendampingi hak-hak hidup masyarakat,” tandas Fajar.


Senada, aktivis lingkungan Thoriqul Ulum mengatakan film Menolak Punah menggambarkan fenomena kehidupan serba cepat yang tanpa disadari memengaruhi pola hidup manusia.


Menurutnya, film tersebut tidak hanya memberikan dampak emosional, tetapi juga membuka kesadaran publik terhadap bahaya budaya fast fashion dan konsumsi berlebihan.


“Pesan utama film ini mengajak masyarakat hidup lebih sederhana dan minimalis,” ungkap Ulum kepada NU Online, Rabu (20/5/2026).


Ia juga menyinggung ironi kapas sebagai simbol sandang dalam Pancasila, sementara Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor kapas. Selain itu, mikroplastik disebut telah menyebar luas, termasuk di ekosistem laut.


Thoriqul menilai pemerintah perlu hadir melalui dukungan terhadap produksi lokal dan pengembangan UMKM tekstil yang lebih ramah lingkungan.


Lebih jauh, ia menegaskan perubahan sosial harus dimulai dari diri sendiri, diperkuat melalui komunitas, dan didukung kebijakan pemerintah yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan.


“Komunitas literasi memiliki posisi strategis sebagai ruang belajar alternatif yang mampu membangun kesadaran kritis masyarakat sekaligus memperkuat solidaritas sosial di akar rumput,” ujarnya.


Menurutnya, melalui budaya membaca dan berdiskusi, komunitas literasi juga dapat menjadi penggerak aksi kolektif dalam merespons persoalan lingkungan dan ketimpangan sosial.

Baca Artikel Selengkapnya