Rembang, NU Online
Di tengah situasi sosial-ekonomi yang dirasakan semakin berat oleh masyarakat kecil, komunitas stand up comedy di Kabupaten Rembang memilih satu cara yang mungkin terdengar sederhana: menertawakan kenyataan. Namun, di balik tawa itu tersimpan kegelisahan, kritik sosial, sekaligus solidaritas yang tumbuh kuat di antara para pelaku seni komedi lokal.
Salah satunya datang dari Machzun Zabidi, komika asal Sale, Rembang, yang tengah menyiapkan pertunjukan tunggal dengan judul yang telah ia simpan sejak dua tahun lalu saat masih berkuliah di Universitas Terbuka (UT) Salut Kartini Rembang. Baginya, judul tersebut bukan sekadar nama pertunjukan, melainkan simbol realitas hidup masyarakat akar rumput.
“Judul itu punya makna ganda, tentang urusan perut dan juga urusan per-UT. Sedikit banyak UT mengantarkan saya ada di titik ini, baik secara pekerjaan maupun akademik,” ujar Machzun kepada NU Online, Rabu (20/5/2026).
Lebih jauh, ia menilai pertunjukan tersebut ingin mewakili suara masyarakat kecil yang bekerja keras di tengah keterbatasan ekonomi.
“Harapannya bisa mewakili teman-teman akar rumput yang kerjanya berat, susah sekali, tapi gajinya hanya ‘mak pluk’, sekadar lewat dan tidak sebanding dengan risikonya. Tapi tetap dipertahankan demi keluarga tetap kenyang,” tambahnya.
Di tengah derasnya perdebatan politik dan kritik terhadap pemerintah yang kerap hadir dalam format formal dan serius, stand up comedy justru menawarkan pendekatan berbeda. Menurut Machzun, komedi menjadi ruang alternatif bagi masyarakat yang mulai jenuh dengan pola komunikasi politik konvensional.
“Sebenarnya masih banyak metode lain yang mungkin lebih pas untuk kritik pemerintah. Tapi stand up punya tempat tersendiri untuk masyarakat yang sudah lelah dengan kabar politik terus-menerus. Stand up datang dengan pukulan ke atas, tapi tetap menggelitik masyarakat kecil,” paparnya.
Dalam materi pertunjukannya nanti, berbagai persoalan publik yang dekat dengan kehidupan warga akan menjadi sorotan. Mulai dari jalan utama yang berlubang, sulitnya lapangan pekerjaan, rendahnya UMK, hingga isu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) yang belakangan ramai diperbincangkan masyarakat.
“Karena memang sudah banyak suara sumbang di luar sana terkait isu-isu itu,” katanya.
Berbicara tentang solidaritas, Machzun menyebut dukungan terhadap komunitas stand up comedy di Rembang tidak hanya datang dari komika aktif, tetapi juga para senior yang sudah lama vakum.
“Alhamdulillah solidaritas antar-komika di Rembang sangat bagus. Senior-senior yang sudah lama vakum pun ikut membantu secara moral, tenaga, bahkan material,” tandas Machzun.
Dukungan itu juga datang dari pendiri Stand Up Indo Rembang (SIR), Galih Soejiwo, yang disebut aktif membantu membuka peluang sponsor agar pertunjukan dapat terlaksana dengan baik.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa komunitas komika di Rembang tidak sekadar menjadi ruang hiburan, tetapi juga tumbuh sebagai ruang kolektif untuk saling menguatkan di tengah keresahan sosial yang sama.
Meski berasal dari latar belakang dan sudut pandang berbeda, para komika di Rembang disebut tetap memiliki titik temu ketika berbicara tentang persoalan sosial dan pemerintahan.
“Kami sering tidak sependapat karena background dan sudut pandang masing-masing berbeda. Tapi ketika yang menyeruak adalah isu sosial-politik dan pemerintahan, sepertinya kami satu suara,” ucapnya.
Ia menilai para komika memiliki tanggung jawab moral dalam menyampaikan keresahan publik. Sebab, materi komedi yang dibawakan di atas panggung maupun di media sosial dapat memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap suatu persoalan.
“Sedikit banyak apa yang kami sampaikan akan memberi insight baru pada masyarakat. Tapi kalau cara membahasnya terlalu sensitif, bisa berbalik menjadi kemarahan atau ketersinggungan kepada kami,” ujarnya.
Dalam pandangan Machzun, stand up comedy pada dasarnya merupakan medium untuk membangun perspektif dan melempar opini kepada penonton. Karena itu, komedi juga dinilai tidak lepas dari kepentingan politik.
“Tak sedikit komika yang bisa dititipi materi untuk menjilat pejabat atau bahkan terang-terangan menjadi buzzer,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa panggung komedi hari ini tidak lagi sekadar ruang hiburan, tetapi juga arena pertarungan narasi di tengah situasi politik dan sosial yang semakin kompleks.
Lebih dari sekadar pertunjukan tunggal, Machzun berharap acaranya nanti dapat membuka ruang diskusi publik yang lebih cair dan sehat di Rembang. Ia membayangkan sebuah forum tempat masyarakat bisa duduk bersama, membahas persoalan, lalu menertawakannya bersama-sama.
“Untuk itu, mari kita bedah dan ketawain bersama,” sahutnya.
Baginya, kemampuan menertawakan persoalan hidup merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan mental masyarakat. Ia meyakini ruang-ruang komedi dan diskusi publik dapat membantu meredam tekanan sosial yang selama ini dirasakan warga.
“Kalau masalah besar saja bisa kita tertawakan dan ajak bercanda, pasti masalah kecil tidak akan jadi kendala,” terangnya.
Komunitas Stand Up Indo Rembang sendiri disebut tengah memiliki mimpi lebih besar, yakni membawa stand up comedy masuk ke kampus-kampus di Rembang. Mereka ingin membuka ruang baru bagi mahasiswa, aktivis, dan akademisi untuk menyampaikan gagasan secara lebih kreatif dan komunikatif, bukan hanya melalui demonstrasi jalanan.
“Saya yakin para aktivis dan akademisi punya banyak argumen yang dipendam tanpa ada tempat untuk meluapkannya selain demonstrasi,” sambung Machzun.
Di tengah berbagai harapan tersebut, ia menutup pernyataannya dengan nada bercanda khas seorang komika. “Kalau semua itu terwujud, saya akan pulang ke Sale menjadi rakyat biasa,” pungkasnya.

1 jam yang lalu
5





English (US) ·
Indonesian (ID) ·