Muktamar Kebudayaan 2026 Soroti Kontras Cita-cita Pendirian dan Realitas NKRI Hari Ini

3 jam yang lalu 1

Jombang, NU Online

Kata demi kata Pembukaan UUD 1945 menggema dalam pembukaan Muktamar Kebudayaan yang digelar oleh Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU di halaman Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha), Tambakberas, Jombang pada Jum'at (12/6/2026).

Pembacaan pembukaan UUD 1945 ini menjadi alarm betapa mulianya cita-cita negara sejak awal berdiri, sekaligus cermin seberapa jauh realitas hari ini dengan cita yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945.

Di hadapan para ulama, Ketua Lesbumi PBNU KH Muhammad Jadul Maula mengajak seluruh elemen untuk melakukan otokritik terhadap arah gerak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Dalam forum ini, kita akan bicarakan cita-cita luhur yang termaktub di dalam UUD 1945, untuk nantinya kita bandingkan dengan realitas tatanan hukum, politik, dan ekonomi saat ini. Dari perbandingan inilah kita mengambil sikap kebudayaan selanjutnya," paparnya.

Kiai Jadul, sapaan akrabnya, kemudian menjelaskan beberapa hal yang menjadi pilar sebuah kebudayaan. Pilar-pilar tersebut ia bagi menjadi pilar suprastruktural dan basis material.

"Pilar suprastruktural ini meliputi ilmu pengetahuan, agama, dan seni, pilar ini juga bisa disebut pilar langit. Sedangkan basis material yang meliputi politik, hukum, ekonomi sering disebut sebagai pilar bumi," jelasnya.

Menurutnya, potret kebudayaan sebuah negara tercermin langsung dari kondisi materialnya. Ketika pilar suprastruktural seperti ilmu pengetahuan, agama, dan seni gagal diwujudkan ke dalam basis material masyarakat (politik, hukum, dan ekonomi), maka di situlah terjadi degradasi kebudayaan.

"Degradasi ini akan terus terjadi kalau kita putus asa dan tidak berusaha memperbaikinya. Maka itulah fungsi adanya forum ini, yaitu untuk menjadi ruang dialektika yang membawa pesan optimisme," tuturnya.

Tak hanya melakukan dialektika rasional dan kultural, Muktamar Kebudayaan ini juga disempurnakan dengan pendekatan spiritual. Usai pembacaan UUD 1945, seluruh hadirin langsung melantunkan doa bersama lewat istighosah.

"Ini adalah bukti kalau kita tidak akan menyerah, kita harus tetap optimis. Maka kita tidak cukup menyadarkan diri sendiri, tetapi juga tetap mengharapkan ridha dan rahmat Allah swt," kata Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta itu.

Kontributor: Umi Kholifah

Baca Artikel Selengkapnya