Jakarta, NU Online
Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar Ke-35 NU Prof Mohammad Nuh mengatakan bahwa Muktamar Ke-35 NU akan memberikan perhatian khusus terhadap penguatan generasi digital native sebagai bagian dari agenda pembahasan menuju abad kedua Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menyiapkan fondasi organisasi dalam menghadapi era digital yang menjadi karakter utama abad kedua NU.
Hal tersebut disampaikan Prof Nuh usai rapat Steering Committee Muktamar Ke-35 NU di Lantai 4 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2026).
"Kita ingin Muktamar ini tidak hanya urusan suksesi kepemimpinan, tapi juga NU ke depan karena ini menyangkut 100 tahun, abad kedua, dan eranya beririsan dengan era baru, yaitu era digital," katanya.
Prof Nuh menegaskan, Muktamar Ke-35 harus mampu merumuskan arah pengembangan NU untuk menghadapi tantangan masa depan. Menurutnya, dalam dua dekade mendatang, Generasi Alfa, Generasi Z, dan kelompok digital native lainnya akan menjadi kelompok yang mengisi sekaligus menentukan arah perjalanan organisasi.
"Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mempersiapkan masa depannya, dia tidak punya masa kini, karena masa depan menjadi masa kini dan masa kini akan menjadi masa lalu," ujarnya.
Ia menambahkan, Muktamar Ke-35 juga diharapkan mampu menyiapkan ekosistem yang menjawab kebutuhan generasi tersebut, mulai dari budaya digital (digital culture), masyarakat digital (digital society), hingga perubahan struktur sosial yang menyertainya.
"Jangan sampai kita memasuki wilayah digital, tapi kita tidak paham perubahan struktur sosial dan seterusnya," jelasnya.
Menurut Prof Nuh, NU pada masa depan tidak cukup hanya hadir di ruang digital, tetapi juga harus memahami perubahan sosial yang lahir dari perkembangan teknologi agar tetap mampu menjalankan peran keagamaan dan kemasyarakatannya.
"Karena ini di awal abad kedua, maka Muktamar sekarang ini harus mampu merancang dan menyiapkan apa yang harus dilakukan di awal abad kedua sebagai fondasi," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi masyarakat saat ini sangat berbeda dibandingkan ketika NU didirikan pada 1926. Perubahan jumlah penduduk, perkembangan teknologi, hingga pergeseran dari literasi fisik menuju literasi digital menuntut NU melakukan berbagai penyesuaian.
"Semuanya sudah beda, semua. Sehingga bagaimana menyambungkan abad pertama itu dengan abad kedua? Menyambungkannya, yang tidak berubah itu ruh-nya," katanya.
Menurut Prof Nuh, ruh keikhlasan, ketangguhan, dan kemaslahatan harus tetap menjadi fondasi yang menghubungkan perjalanan NU dari abad pertama menuju abad kedua.
"Oleh karena itu, meskipun berbeda zamannya, energi yang tersalurkan dari abad pertama ke abad kedua harus tetap terjaga. Kalau tidak, bubar rezim, bubar semua," terangnya.

2 jam yang lalu
1




English (US) ·
Indonesian (ID) ·