Jakarta, NU Online
Pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenal kehidupan, membangun keteladanan, menghormati kiai, hidup sederhana, dan menanamkan nilai pengabdian. Gambaran itu dihadirkan dalam film Ibadah dan Cinta yang menjadikan Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Bogor, Jawa Barat, sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar.
Film yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 24 September 2026 ini mempertemukan dua latar kehidupan berbeda melalui tokoh Rico (Achmad Megantara) dan Santun (Indah Permatasari). Di balik kisah cinta keduanya, film ini membawa pesan tentang kehilangan, keikhlasan, dan perjalanan menemukan kembali iman.
Film ini juga dimeriahkan oleh Fatayat NU. Ketua Umum Fatayat NU 2022-2026 Margaret Aliyatul Maimunah turut berperan sebagai istri Kiai Usman. Selain itu, Dewan Pembina Fatayat NU Anggia Erma Rini sebagai dokter.
Dalam salah satu dialognya, Margaret menyampaikan pesan sederhana kepada Rico yang sekaligus menjadi salah satu penguat pesan utama film tersebut. “Yang penting bagaimana nak Riko menjadikan cinta itu ibadah,” ujarnya.
Sutradara Jastis Arimba menyampaikan bahwa cinta dalam film ini tidak hanya ditempatkan sebagai persoalan perasaan atau hubungan antarmanusia. Cinta juga diarahkan menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menghadirkan kebaikan dalam kehidupan.
Jastis mengatakan bahwa kehilangan seseorang, baik karena merantau maupun meninggal dunia, menjadi bagian dari proses manusia belajar mengikhlaskan.
“Pesan yang ingin disampaikan adalah ketika kita kehilangan sesorang baik itu dia pergi bersekolah jauh (merantau) ataupun pergi selama-lamanya disitu kita harus belajar ikhlas. Film ini memang di kemas banyak pesan-pesan arti cinta, kehilangan, dan ikhlas,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta pada Sabtu (12/9/2026).
Pesan tentang pencarian iman juga menjadi bagian dari perjalanan karakter Rico. Achmad Megantara menggambarkan perjalanan tersebut sebagai proses menemukan kembali bagian penting dalam kehidupan yang sempat hilang.
“Sebuah perjalanan yang dia alami dari waktu dia merasakan sebuah keresahan sampai akhirnya dia menemukan kembali jalannya sebuah puzzle yang hilang itu,” katanya.
Menurutnya, manusia tidak pernah lepas dari kesalahan. Namun, pintu pertobatan kepada Allah selalu terbuka bagi hamba yang sungguh-sungguh ingin berubah.
“Jadi menurut saya pribadi itu adalah sebuah kesimpulan bahwasannya kita ini manusia memang ada banyak penuh kesalahan,” ucapnya.
Megan juga menilai keikhlasan bukan perkara mudah. Bahkan, seseorang tidak dapat dengan mudah memastikan dirinya benar-benar ikhlas karena hanya Allah yang mengetahui ketulusan hati manusia.
“Bahkan di Surah Al-Ikhlas saja di dalamnya tidak ada kata ikhlas yang artinya mempelajari kata iklas bukan hal yang mudah,” tuturnya.
Indah Permatasari turut merasakan pengalaman berbeda ketika menjalani syuting di lingkungan pesantren. Menurutnya, kehidupan pesantren menghadirkan kedekatan yang lebih dalam dengan agama.
“Kadang-kadang aku ngerasa kaya ih enak kali ya kalau di pesantren, lebih dekat dan dalam lagi tentang agama, di pesantren wawasannya lebih luas dan ada gurunya yang mempunyai banyak pengalaman,” ujarnya.
Sementara itu, Mathias Muchus yang memerankan sosok kiai menyoroti pentingnya hubungan orang tua dan anak di tengah perubahan zaman. Menurutnya, orang tua perlu memahami kegelisahan generasi muda agar komunikasi tidak berubah menjadi pertentangan.
“Perkembangan zaman ini terlalu cepat terlalu dinamis sehingga kita lupa bahwa orang tua mestinya yang harus mencoba untuk beradaptasi sama anak-anak muda sekarang harus tau apa yang mereka lakukan, apa kegelisahan mereka,” ujarnya.

42 menit yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·