Warga Iran berkumpul di Lapangan Enqelab untuk menunjukkan dukungan kepada Pemimpin Tertinggi yang baru dilantik, Ayatollah Mojtaba Khamenei, di Teheran, Iran, 9 Maret 2026. Almarhum Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi militer gabungan Israel dan AS di seluruh Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Penasihat dan utusan dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohammad Mokhber pada Kamis (13/8/2026) mengatakan bahwa, Iran kemungkinan akan mengubah strategi perang menjadi ofensif ketimbang membalas setiap serangan musuh seperti sebelumnya. Strategi itu akan diterapkan jika syarat-syarat yang ditetapkan Teheran tak dipenuhi Amerika Serikat (AS).
"Strategi definitif Pemimpin Tertinggi adalah perang menjadi ofensif jika syarat-syarat dari Iran tidak dipenuhi," kata Mokhber dalam unggahan di X, dikutip Anadolu.
Mokhber mengeklaim bahwa kegagalan AS dalam melindungi sekutunya di Teluk mendemonstrasikan keterbatasan jaminan keamanan dari Washington. Menurut Mokhber, fondasi paling kuat untuk sebuah tatanan kawasan yang baru adalah implementasi dari mekanisme keamanan Selat Hormuz yang bebas dari pengaruh AS.
Secara terpisah, Ebrahim Azizi, kepala dari Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen Iran, mengingatkan negara-negara di kawasan untuk tidak bergantung kepada apa yang dia gambarkan sebagai "musuh-musuh Islam". Tindakan bergantung kepada musuh Islam, menurutnya, akan menempatkan kedaulatan dalam risiko.
Menurut Azizi, instabilitas kawasan akibat dari ketergantungan pada pengaruh asing akan "memicu sebuah respons tegas dan menentukan yang tak terhindarkan dari Iran."
Pernyataan Mokhber dan Azizi itu bersamaan dengan proses negosiasi antara Iran dan Oman untuk pengaturan navigasi Selat Hormuz. Teheran telah mengajukan proposal mekanisme Hormuz sebagai sebuah kerangka kerja untuk mengatur navigasi komersial dan keamanan di selat strategis itu.
Sebelumnya pada Kamis, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya membantah klaim Washington yang menjamin kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz dengan menyebut kalim itu sebagai "kebohongan tanpa dasar". Dalam sebuah pernyataan ditayangkan IRIB, Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap "dalam manajemen dan kontrol penuh" Iran dan mengeklaim bahwa tidak ada kapal komersial atau kapal tanker yang bisa transit secara aman di Selat Hormuz tanpa otorisasi dan pengawasan dari Angkatan Bersenjata Iran.

7 jam yang lalu
16






English (US) ·
Indonesian (ID) ·