Mirae: Kredibilitas fiskal dan rupiah akan jadi perhatian pasar saham

1 jam yang lalu 1
Yang paling penting tetap implementasi dan konsistensi kebijakan, khususnya dalam menjaga kredibilitas APBN dan disiplin fiskal.

Jakarta (ANTARA) - Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan bahwa arah kebijakan fiskal dan kredibilitas pengelolaan APBN, serta pergerakan rupiah akan menjadi perhatian pelaku pasar saham Indonesia.

Terkait dilantiknya Menteri Keuangan Suahasil Nazara, ia mengatakan pelaku pasar akan mencermati konsistensi kebijakan dan dukungan pemerintah terhadap disiplin fiskal dalam jangka panjang.

“Yang paling penting tetap implementasi dan konsistensi kebijakan, khususnya dalam menjaga kredibilitas APBN dan disiplin fiskal,” ujar Rully dalam Media Day bertajuk "Navigating Indonesia’s Market: Policy Shifts, Commodities & Opportunities", di Jakarta, Selasa.

Bersamaan dengan itu, Rully mengatakan pelaku pasar akan mencermati pergerakan rupiah seiring The Fed yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada pertemuan 15-16 September 2026.

“Kenaikan 25 basis poin dari The Fed relatif sudah priced in. Bagi Indonesia, perhatian berikutnya akan tertuju pada pergerakan rupiah karena menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia,” kata Rully.

Rully menjelaskan bahwa IHSG telah mengalami re-rating sekitar 18 persen sejak awal semester II-2026, sehingga kenaikan berikutnya membutuhkan dukungan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas, serta kondisi eksternal yang lebih berkelanjutan.

Saat ini, ia menyebut arus dana asing masih terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan sejumlah saham komoditas.

“Setelah re-rating yang cukup cepat, investor tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan indeks. Next leg dari pasar akan membutuhkan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas. Karena itu, pasar akan semakin selektif,” ujar Rully.

Ia mengatakan pula penguatan rupiah masih ditopang kondisi eksternal yang lebih kondusif dan capital inflows (arus masuk dana asing), meski ketahanannya tetap bergantung pada arus dana.

Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), menurutnya, koordinasi kebijakan menjadi penting untuk menjaga kenaikan yield tetap gradual. Perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating menjadi risiko yang perlu dicermati karena dapat memicu repricing yang lebih tajam.

“Yang perlu diwaspadai adalah apabila terjadi perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating, karena itu bisa menghasilkan repricing yang lebih tajam,” kata Rully.

Data perdagangan sesi I di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 49,77 poin atau 0,76 persen ke posisi 6.484,92. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 5,96 poin atau 0,90 persen ke posisi 653,07.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.048.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 16,23 miliar lembar saham senilai Rp7,14 triliun. Sebanyak 333 saham naik, 317 saham menurun dan 313 tidak bergerak nilainya.

Baca juga: IHSG berbalik arah, pasar cermati Suahasil dilantik sebagai Menkeu

Baca juga: IHSG diprediksi sideways, pasar cermati kebijakan Suahasil dan The Fed

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya