Jakarta (ANTARA) - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin melepas 313 pekerja migran Indonesia (PMI) skema kerja sama antar pemerintah (G-to-G) Batch 19 ke Jepang melalui kerangka Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA) untuk penempatan 2026.
"Hari ini adalah buah dari perjuangan panjang yang telah kalian lalui," kata Mukhtarudin di acara pelepasan di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Depok, Jawa Barat, pada Rabu.
Mukhtarudin dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Jepang atas kerja sama strategis yang telah terjalin erat sejak 2008.
Menteri menilai kerja sama tersebut tidak hanya memperkuat hubungan ekonomi kedua negara, tetapi juga membuka peluang besar bagi tenaga kerja terampil asal Indonesia.
Sebanyak 313 pekerja migran yang diberangkatkan ke Jepang itu terdiri dari 19 perawat dan 297 pendamping lansia.
Skema IJ-EPA, kata dia, menawarkan kontrak kerja yang menjanjikan, serta kesempatan pengembangan karier yang luas bagi para pekerja migran.
Untuk sektor perawat, peserta akan bekerja sebagai asisten perawat dengan masa kontrak 3 tahun dan diberikan kesempatan mengikuti Ujian Nasional Perawat Jepang hingga 3 kali.
Sementara itu, di sektor pendamping lansia, kontrak kerja berlaku selama 4 tahun sebagai asisten pendamping lansia dengan kesempatan mengikuti Ujian Nasional sektor itu sebanyak 1 kali.
Di samping pengembangan karier, kedua skema itu juga menawarkan estimasi pendapatan yang cukup kompetitif, yakni berkisar antara ¥150.000 (sekitar Rp16 juta) hingga ¥220.000 (sekitar Rp24 juta) per bulan.
Pendapatan tersebut merupakan gaji pokok yang belum termasuk uang lembur, tunjangan, bonus, serta hak cuti tahunan dan libur hari nasional sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Jepang.
Mukhtarudin menjelaskan bahwa sepanjang 2023 hingga 2026, jumlah penempatan pekerja migran skema G-to-G ke Jepang telah mencapai 1.240 orang, terdiri dari 1.178 pendamping lansia dan 62 perawat.
Tren penempatan itu tercatat stabil dan terus bertambah dari tahun ke tahun.
"Saya berpesan, jaga nama baik bangsa karena pekerja migran adalah wajah Indonesia di mata dunia. Apa yang kalian perbuat hari ini, dapat berimbas di masa depan, entah itu baik maupun buruk," tegas Mukhtarudin kepada para peserta.
Selain melakukan pelepasan para calon pekerja migran (CPMI), Menteri P2MI juga membuka Orientasi Pra-Pemberangkatan (OPP) bagi 200 CPMI melalui skema G-to-G Korea Selatan.
Baca juga: Menteri P2MI: GSP jadi tonggak penempatan pekerja profesional ke Eropa
Pewarta: Katriana
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·