Menlu: RI perkuat multilateralisme, perluas ruang strategis

4 jam yang lalu 2

Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono menegaskan bahwa Indonesia akan terus memperkuat multilateralisme agar tetap mampu bekerja di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan penuh ketidakpastian.

Pesan tersebut disampaikan Menlu Sugiono dalam pidato utama saat Jakarta Geopolitical Forum (JGF) ke-10 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI.

“Bebas aktif bukan berarti pasif atau netral. Indonesia tidak akan terseret ke dalam blok-blok eksklusif, tetapi akan terus membangun jembatan dan memperluas ruang strategisnya,” kata Menlu dikutip dari pernyataan pers yang diterima di Jakarta pada Kamis.

Menlu menekankan bahwa politik luar negeri bebas aktif bukan hanya tetap relevan, tetapi justru semakin dibutuhkan dalam menghadapi dinamika geopolitik global saat ini.

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan diwarnai rivalitas strategis, Sugiono menjelaskan, bebas aktif memberikan ruang bagi Indonesia untuk menentukan sikap secara mandiri, sekaligus tetap aktif berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan ketertiban dunia.

Menlu juga menggarisbawahi bahwa kelemahan sistem multilateral saat ini tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan multilateralisme. Namun sebaliknya, sistem tersebut harus diperbaiki agar lebih representatif, inklusif, adaptif, dan efektif.

“Tata kelola global yang dibangun pada 1945 perlu terus diperbarui agar tetap relevan dalam menghadapi realitas dunia tahun 2045,” kata Menlu.

Dalam konteks tersebut, Indonesia akan mempertahankan dan memperbaiki sistem multilateralisme dengan terus mendorong reformasi tata kelola global, termasuk Dewan Keamanan PBB yang lebih transparan, demokratis, efektif, dan akuntabel, kata Sugiono.

Indonesia, lanjutnya, juga akan terus menyuarakan kepentingan tersebut melalui berbagai forum. “Partisipasi di BRICS, peran aktif di G20, kepemimpinan di ASEAN, keterlibatan di D-8 dan dengan Global South, serta proses aksesi menuju OECD, semuanya merupakan bagian dari prinsip yang sama yaitu memperluas ruang strategis diplomasi Indonesia,” katanya.

Menlu juga menekankan bahwa diplomasi yang efektif harus ditopang oleh ketahanan nasional yang kuat.

“Ketahanan pangan adalah otonomi strategis. Ketahanan energi adalah keamanan nasional. Sumber daya manusia adalah kapasitas geopolitik. Dan teknologi bukan hanya inovasi, tetapi juga kekuatan,” tegas Menlu Sugiono.

Acara JGF merupakan forum tahunan yang diselenggarakan Lemhannas RI untuk membahas berbagai isu geopolitik global.

Forum tersebut mempertemukan peserta dari kalangan pemerintah, militer, akademisi, think tank, organisasi internasional, swasta, dan media.

Baca juga: Kemlu: Petinggi NU, Muhammadiyah ikut kunjungan delegasi RI ke Iran

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya