Menjaga rupiah tetap berdaulat di beranda negeri

1 hari yang lalu 2
Menjaga kedaulatan rupiah secara sederhana juga terlihat dari kebiasaan  di Toko Victory di Simpang Take, Kecamatan Jagoi Babang

Bengkayang (ANTARA) - “Anak-anak, coba keluarkan uang yang kalian punya di saku," kata Carsan, seorang guru yang akrab disapa Asep Dea, saat berdiri di depan kelas SDN 08 Risau, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Satu per satu tangan kecil bergerak merogoh saku. Beberapa siswa mengeluarkan lembaran rupiah yang sudah lusuh. Ada pula yang menunjukkan uang kertas ringgit Malaysia.

Pemandangan itu tidak asing bagi Asep. Di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia tempat ia mengajar, ringgit juga hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Sinyal telepon Malaysia bahkan kerap tertangkap, sementara kebutuhan tertentu warga diperoleh dari Sarawak.

Asep kemudian mengangkat pecahan Rp100 ribu.

“Lihat gambar pahlawan dan pemandangan di lembaran ini. Ini adalah rupiah, uang resmi negara kita, Indonesia. Setiap lembar yang kalian pegang punya cerita tentang perjuangan dan keindahan tanah air kita sendiri,” kata Asep Dea.

Anak-anak itu diajak mengenali gambar pahlawan, ciri-ciri keamanan uang, meraba teksturnya, hingga mengikuti simulasi jual-beli menggunakan rupiah.

Pelajaran sederhana itu memiliki makna lebih dalam di wilayah perbatasan. Sebab, bagi Asep, mengenalkan rupiah kepada anak-anak bukan sekadar mengajarkan nilai pecahan, melainkan menanamkan identitas dan rasa memiliki Indonesia.

Bagi dia, menjaga rupiah tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Ia bisa dimulai dari ruang kelas, dari percakapan sederhana dengan anak-anak yang kelak menjadi generasi penerus di kawasan perbatasan.

Di kawasan terdepan seperti Jagoi Babang, paparan terhadap mata uang asing terjadi secara alami sejak mereka mulai mengenal lingkungan. Jika tidak dikenalkan dan dibiasakan sejak kecil, kebergantungan pada mata uang asing dapat mengikis rasa kepemilikan terhadap identitas nasional.

"Mengajarkan rupiah kepada anak-anak bukan sekadar soal hitung-hitungan matematika atau daya beli, melainkan tentang membangun fondasi kesadaran berbangsa," ujar Asep.

Sebagai pendidik, guru memiliki peran strategis untuk menyisipkan edukasi rupiah di tengah rutinitas pembelajaran. Edukasi ini tidak harus terpisah menjadi mata pelajaran khusus yang kaku, melainkan bisa diintegrasikan ke dalam kegiatan sehari-hari.

Lewat permainan peran, cerita sejarah di balik gambar pahlawan, hingga pembiasaan menabung dengan rupiah, guru membentuk sudut pandang baru bagi siswa.

Di perbatasan, penjaga kedaulatan negara bukan hanya prajurit tentara yang berjaga di pos-pos pemeriksaan, tetapi juga para guru dan anak-anak sekolah yang secara konsisten mempertahankan rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran sah di tanah mereka sendiri.

Menjaga kedaulatan rupiah secara sederhana juga terlihat dari kebiasaan di Toko Victory di Simpang Take, Kecamatan Jagoi Babang.

Toko yang dikelola Fanny (31), menantu dari pemilik toko asal Manado, itu menjadi salah satu tempat masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mendapatkan layanan transaksi keuangan. Toko ini sudah menjadi mitra bank puluhan tahun.

Papan nama toko yang mulai memudar tetap mudah dikenali warga. Kalimat sederhana bahkan kerap terdengar di tengah aktivitas masyarakat: “Kalau mau tarik uang atau transfer, ke Victory saja.”

Meski berada dekat dengan Malaysia dan sering melayani pembeli dari negara tetangga, harga barang di toko tersebut tetap menggunakan rupiah.

“Kalau mereka belanja di sini tetap pakai rupiah. Harga di rak juga tetap rupiah,” kata Fanny.

Pembeli dari Malaysia yang datang berbelanja pun menyesuaikan diri dengan mata uang yang berlaku di wilayah Indonesia.

Fanny mengatakan pembeli dari Malaysia cukup sering datang, terutama ketika mobilitas masyarakat meningkat karena kegiatan adat di wilayah Bengkayang.

Bagi Fanny, penggunaan rupiah dalam transaksi sehari-hari sudah menjadi kebiasaan yang tidak perlu diperdebatkan meski jarak geografis dengan Malaysia sangat dekat.

Carsan atau Asep Dea berfoto bersama dengan siswa-siswi di SDN 08 Risau, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. (ANTARA/Narwati)

Dua dekade perubahan

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya