Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi bergerak menguat di tengah meningkatnya ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed.
Dibuka melemah, IHSG pada pukul 09.15 WIB bergerak menguat 35,64 poin atau 0,55 persen ke posisi 6.496,79. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,86 poin atau 0,29 persen ke posisi 652,62.
“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.440-6.600,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta, Rabu
Dari mancanegara, Nico menjelaskan pelaku pasar bertaruh dengan kombinasi ketidakpastian akan perang AS dengan Iran, harga minyak melewati 100 dolar AS per barel, inflasi yang berpotensi terus naik, imbal hasil obligasi US Treasury 10y yang melewati 5 persen dan berada di level 5,04 persen.
Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut, data CME FedWatch melaporkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin pada rapat FOMC September 2026 telah menembus kisaran 92-93 persen.
“Kondisi tersebut membuat The Fed sulit rasanya untuk tidak menaikkan tingkat suku bunganya,” ujar Nico.
Apabila The Fed justru menahan tingkat suku bunga acuannya, Nico menilai tentu saja pelaku pasar dan investor akan tetap menuntut imbal hasil obligasi US Treasury yang jauh lebih tinggi.
Di sisi lain, AS dan China tengah berdiskusi mengenai pengurangan tarif pada beberapa barang tertentu, termasuk energi dan produk pertanian dari AS. Meskipun terbatas, namun perdagangan bilateral ini berpotensi memberikan pengaruh lebih dari 400 miliar dolar AS dalam delapan bulan pertama pada tahun ini.
“Sehingga kami yakin adanya sebuah harapan baru bahwa gencatan perang dagang berpotensi ditambah satu tahun lagi,” ujar Nico.
Nico menyebut China juga memenuhi komitmennya untuk membeli 25 juta ton kedelai dari AS setiap tahunnya hingga 2028 mendatang. Selain itu, China juga berkomitmen untuk membeli produk pertanian lainnya di luar kedelai dengan nilai hampir 17 miliar dolar AS.
“Setidaknya, di tengah gersangnya pasar saat ini, hubungan yang mesra dapat membuat segalanya dapat dilewati dengan baik,” ujar Nico.
Dari dalam negeri, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per Juli 2026 mencapai 453,4 miliar dolar AS atau tumbuh 4,9 persen year on year (yoy), dengan ULN publik 218,4 miliar dolar AS dan ULN swasta 194,6 miliar dolar AS.
ULN pemerintah terutama digunakan untuk sektor kesehatan, administrasi, pendidikan, konstruksi, serta transportasi, dan didominasi utang jangka panjang.
Adapun, rasio ULN terhadap PDB berada di level 30,7 persen, dengan BI menilai struktur utang tetap sehat dan terkendali.
“Kami menilai kenaikan ULN Indonesia terutama dari sektor publik masih relatif terkendali karena didominasi utang jangka panjang dan digunakan untuk pembiayaan sektor produktif," ujar Nico.
Namun demikian, di tengah meningkatnya biaya pengiriman minyak AS ke kawasan Asia akibat gangguan pasokan Timur Tengah, tekanan biaya energi dan impor berpotensi meningkat, yang dapat berdampak pada neraca eksternal dan kebutuhan pembiayaan.
“Kami memperkirakan kondisi ini perlu dicermati terhadap stabilitas rupiah dan beban pembayaran eksternal, meski rasio ULN terhadap PDB sebesar 30,7 persen masih menunjukkan ruang pengelolaan utang," ujar Nico.
Bursa Eropa kompak melemah pada penutupan Selasa (15/09), diantaranya Euro Stoxx 50 melemah 0,36 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,37 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,15 persen, dan indeks CAC 40 Prancis melemah 0,34 persen.
Bursa Wall Street AS juga kompak melemah pada penutupan Selasa (15/09), diantaranya indeks S&P 500 melemah 0,45 persen ke level 7.585,68, indeks Nasdaq Composite melemah 0,78 persen ke 25.981,57, serta Dow Jones Industrial Average melemah 0,63 persen ke 52.092,57.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 0,13 persen ke 63.403,00, indeks Shanghai melemah 0,54 persen ke 3.864,25, indeks Kospi melemah 0,30 persen ke 6.646,46, indeks Hang Seng melemah 1,00 persen ke 24.667,24, dan indeks Straits Times menguat 0,20 persen ke 5.649,98.
Baca juga: IHSG berbalik arah, pasar cermati Suahasil dilantik sebagai Menkeu
Baca juga: Analis: Harga minyak tekan selera risiko investor ke "emerging market"
Baca juga: Mirae: Kredibilitas fiskal dan rupiah akan jadi perhatian pasar saham
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·