Jakarta, CNN Indonesia --
Pada tahun 1991, sebuah tim kru media CBS melakukan perjalanan rahasia ke China dengan kamera tersembunyi di dalam tas mereka, dipandu oleh seorang penyintas kamp penjara yang paling mengenal bagian dalam sistem penahanan tersebut: Harry Wu.
Misi mereka adalah membuktikan bahwa barang-barang buatan narapidana di China yang telah diekspor dan masuk ke toko-toko di Amerika Serikat, melanggar hukum federal AS.
Kini, 35 tahun setelah program "60 Minutes" itu ditayangkan, Orville Schell-salah satu pengamat China Barat paling terkenal yang turut serta dalam investigasi tersebut-menerbitkan buku berjudul "Inside China's Secret Prisons: An Undercover Exposé and Its Lasting Legacy" (New York: Columbia University Press, 2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam ulasannya, sosiolog dan direktur CESNUR, Massimo Introvigne, membedah arti penting buku tersebut dalam menyoroti sisi gelap penegakan hukum dan represi sistemik di China.
Sistem Laogai dan doktrin "Reformasi Melalui Buruh"
"Sistem yang didokumentasikan oleh tim Schell adalah laogai, atau singkatan dari laodong gaizao, yang berarti reformasi melalui buruh," ujar Introvigne.
"Schell membandingkannya dengan gulag Soviet yang sama-sama mengeksploitasi tahanan sebagai tenaga kerja murah, namun dengan tambahan khas ala China Maois, yakni reformasi pemikiran (thought reform)," sambungnya.
Introvigne mengatakan bahwa buku Schell menceritakan bahwa kerja paksa di kamp diiringi oleh program indoktrinasi, pengakuan paksa, dan kritik diri di muka umum yang dirancang untuk merombak mental tahanan agar loyal kepada Partai Komunis China (PKC).
Banyak narapidana politik disebut Schell dalam bukunya, dipaksa mengakui kejahatan yang tidak pernah mereka lakukan.
Schell menggambarkan dunia tersebut melalui lensa sastra Franz Kafka ("The Trial") dan konsep "banality of evil dari Hannah Arendt, di mana birokrat memproduksi rasa bersalah dan kekejaman menjadi rutinitas harian.
Peran Harry Wu dan dilema penyensoran diri
Pemandu dalam investigasi tahun 1991 tersebut adalah Harry Wu (1937-2016), seorang tokoh yang menghabiskan 19 tahun hidupnya di kamp-kamp penahanan sebelum beremigrasi ke AS.
Wu kembali ke China berkali-kali dengan risiko pribadi yang luar biasa besar untuk merekam fasilitas tempat ia dan ribuan orang lainnya menderita.
Namun, kisah penundaan penerbitan buku ini selama puluhan tahun juga menjadi sorotan penting. Schell sempat menulis laporan panjang untuk majalah New Yorker, tetapi memutuskan untuk menyimpannya.
Istrinya lahir di China, dan Schell khawatir PKC akan menghukum keluarganya, kerabat, serta menutup akses kerjanya sebagai jurnalis dan akademisi.
"Keputusan Schell untuk secara terbuka mengakui ketakutan ini memberikan gambaran langka mengenai cara kerja intimidasi Beijing dalam memproduksi penyensoran mandiri di kalangan jurnalis, akademisi, dan pebisnis asing," tutur Introvigne.
"Buku Schell menunjukkan betapa metode yang didokumentasikan oleh Wu dan Schell tidak pernah mati, melainkan bermigrasi dan berevolusi ke wilayah Xinjiang."
"Di sana, ratusan ribu warga Uyghur dan Muslim Turkik dikurung di fasilitas yang disebut sebagai 'pusat pelatihan kejuruan' dan dipaksa bekerja di pabrik-pabrik yang terhubung dengan rantai pasok global," sebut Introvigne.
Kini, sistem pengawasan lama tersebut telah disempurnakan oleh teknologi tinggi, mulai dari pengenalan wajah, pengumpulan data biometrik, hingga penyensoran daring, yang memberikan tingkat efisiensi yang di masa lalu hanya dapat diimpikan oleh Mao Zedong.
Akibat pengetatan informasi dan penolakan visa, kata Introvigne, investigasi seperti yang dilakukan CBS pada 1991 hampir mustahil diulangi hari ini.
Runtuhnya ilusi liberalisasi
Introvigne mencatat bahwa buku Schell turut membongkar perdebatan panjang di kalangan pengamat China Barat.
Harapan lama bahwa perdagangan dan keterlibatan ekonomi akan berangsur-angsur meliberalisasi rezim-suatu harapan yang sempat tampak nyata di era Deng Xiaoping-kini runtuh di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, di mana PKC kembali memperkuat kontrol tersentralisasi dan kaku berlandaskan akar Leninis.
"Represi adalah bagian dari 'kode genetik' sistem pemerintahan China," kata Introvigne.
Di bagian akhir, buku Schell menuntut pertanggungjawaban moral dari para pengamat internasional.
Meski jurnalis dan sarjana tidak lagi dapat memasuki kamp secara langsung, Schell menegaskan bahwa mereka tetap memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung inisiatif HAM, menyuarakan para disiden di pengasingan, dan menolak sikap bungkam yang dipaksakan oleh China.
(dna)

1 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·