IRGC Isyaratkan Kabel Internet Selat Hormuz Jadi Sasaran, Dunia Waswas

1 jam yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Iran memperluas ancaman militernya dengan mengisyaratkan kemungkinan menjadikan kabel internet bawah laut di Selat Hormuz sebagai sasaran serangan. Peringatan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tersebut membuka risiko baru bagi jaringan komunikasi internasional yang menopang transaksi perbankan, perdagangan digital, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi lintas negara. Qatar segera memperingatkan bahwa langkah tersebut juga dapat merugikan Iran sendiri.

Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, mengungkapkan keberadaan tujuh kabel komunikasi utama yang melintasi dasar Selat Hormuz. Ia menyampaikan peringatan itu dalam kegiatan peluncuran publikasi baru penerbit 27 Ba'sat di Museum Pertahanan Suci, Teheran, Senin (19/10/2026).

"Tujuh kabel internet utama melintasi dasar Selat Hormuz. Seluruh data internet dan perdagangan melewati kabel-kabel tersebut," kata Mohebbi sebagaimana dilaporkan media Iran, Entekhab, dan IranWire, Selasa (20/10/2026).

Mohebbi kemudian menyatakan Iran tengah mempersiapkan perluasan sasaran militernya apabila ketegangan dengan Amerika Serikat kembali meningkat.

"Kami hanya ingin mereka mengetahui bahwa sasaran-sasaran baru akan diperlihatkan. Senjata-senjata baru juga akan diperkenalkan," ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena disampaikan ketika perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memasuki bulan kedelapan. Meskipun operasi militer besar sebagian besar mereda setelah kesepahaman pada Juni, ketegangan di Selat Hormuz masih berlangsung dan serangan terhadap kapal-kapal komersial kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

IranWire melaporkan Mohebbi juga memperingatkan kemungkinan krisis energi yang lebih berat apabila Washington kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran.

Menurut Mohebbi, setiap tindakan militer baru Amerika Serikat akan memperoleh respons yang lebih keras dari Teheran.

Namun, pernyataan IRGC tersebut belum merupakan pengumuman bahwa pemerintah Iran telah memutuskan untuk menyerang atau memutus kabel komunikasi bawah laut.

Belum terdapat pula laporan terkonfirmasi bahwa tujuh kabel yang disinggung Mohebbi telah diserang.

Qatar Peringatkan Dampaknya Bisa Berbalik ke Iran

Ancaman terhadap jaringan komunikasi bawah laut segera mendapat perhatian negara-negara Teluk. Kementerian Luar Negeri Qatar pada Selasa (20/10/2026) memperingatkan Iran agar mempertimbangkan konsekuensi luas apabila kabel komunikasi internasional di Selat Hormuz diserang.

Direktur Media Kementerian Luar Negeri Qatar, Ibrahim Al Hashmi, mengatakan pemutusan kabel internet dapat merugikan negara-negara di kawasan, termasuk masyarakat Iran sendiri.

Sebagaimana dilaporkan The National, Al Hashmi mengingatkan bahwa gangguan kabel komunikasi, ancaman ranjau laut, serta pencemaran minyak dapat menimbulkan kerugian besar bagi negara-negara yang bergantung pada jalur perdagangan dan infrastruktur regional.

Qatar juga menyerukan penghormatan terhadap kebebasan navigasi serta perlindungan lingkungan laut.

Peringatan Doha menunjukkan bahwa ancaman terhadap infrastruktur digital tidak hanya menjadi persoalan Amerika Serikat dan Iran.

Negara-negara Teluk memiliki kepentingan langsung terhadap keamanan kabel bawah laut karena kawasan tersebut menjadi pusat aktivitas perdagangan, energi, keuangan, dan pengembangan teknologi digital.

Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, dan Arab Saudi mengandalkan jaringan komunikasi internasional untuk mendukung aktivitas ekonomi, termasuk sistem pembayaran dan layanan komputasi awan.

Gangguan terhadap konektivitas regional dapat memengaruhi negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam operasi militer.

Sementara itu, Qatar menyatakan komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran masih berlangsung meskipun perundingan untuk mengakhiri konflik belum menghasilkan penyelesaian.

Ancaman terhadap Infrastruktur Digital Sudah Disuarakan Sebelumnya

Peringatan terbaru IRGC bukan pertama kalinya pejabat Iran menempatkan infrastruktur digital sebagai bagian dari kemungkinan sasaran dalam konflik.

Al Jazeera pada 13 Oktober 2026 melaporkan bahwa Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, sebelumnya memperingatkan kemungkinan serangan terhadap kabel komunikasi, pusat data, dan fasilitas kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kawasan.

Menurut Rezaei, infrastruktur digital yang berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat dapat menjadi sasaran apabila permusuhan militer meningkat kembali.

Ancaman tersebut menunjukkan meluasnya perhatian Iran dari fasilitas energi dan jalur pelayaran menuju infrastruktur teknologi yang menopang perekonomian modern.

Dalam laporannya, Al Jazeera mengutip Andreas Krieg, pengajar senior studi keamanan di King's College London, yang menilai ancaman Rezaei harus dipandang serius.

Krieg menjelaskan bahwa pusat data merupakan infrastruktur yang bergantung pada pasokan listrik, sistem pendinginan, dan konektivitas telekomunikasi yang stabil.

Gangguan terhadap salah satu komponen penting tersebut dapat menghentikan operasional fasilitas meskipun perangkat komputasi utamanya tidak mengalami kerusakan langsung.

Namun, Krieg membedakan kemampuan suatu negara menimbulkan gangguan besar dengan kemampuan menghancurkan infrastruktur digital secara menyeluruh.

Menurutnya, ancaman Iran juga memiliki dimensi politik untuk menekan pemerintah negara-negara Teluk agar mempertimbangkan konsekuensi apabila operasi militer Amerika Serikat kembali meningkat.

Baca Artikel Selengkapnya