Mengapa Israel Sangat Ingin Berteman dengan Arab Saudi?

2 jam yang lalu 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Membuka hubungan dengan Arab Saudi adalah impian terbesar Israel, seperti disampaikan Presiden Israel Isaac Herzog, dalam sebuah wawancara langka dengan saluran Al Arabiya yang berbasis di Riyadh, ibu kota Saudi.

"Impian saya adalah melihat perdamaian antara Israel dan Arab Saudi. Saya sangat menghormati Putra Mahkota Mohammed Bin Salman," kata Herzog kepada Al-Arabiya, merujuk pada pemimpin de facto Arab Saudi.

Bahkan, kesepakatan Amerika Serikat dengan Arab Saudi soal nuklir, bergantung pada pengakuan kerajaan tersebut terhadap Israel. Padahal kesepakatan tersebut hanya sehari setelah ditandatangani. Syarat baru ini muncul meskipun pemerintah Saudi telah lama menolak bergabung dengan apa yang disebut Perjanjian Abraham Accord dengan Israel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, selama ini sikap Arab Saudi terhadap Israel dan Palestina sangat jelas. Negara Muhammad bin Salman ini selalu mengaitkan pengakuan negara Palestina sebagai syarat terbukanya hubungan diplomatik kedua negara.

Bahkan Arab Saudi telah memberi tahu Washington bahwa mereka tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel kecuali negara Palestina merdeka diakui berdasarkan perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, seperti dikutip Reuters pada 2024 silam.

Sementara bagi Israel, membuka hubungan dengan Arab Saudi memberikan banyak keuntungan strategis. Seperti dikutip dari Brookings, hubungan resmi dengan Saudi akan menjadi legitimasi terbesar bagi Israel untuk mengakhiri isolasi politik Israel di kawasan.

Lebih jauh hal ini akan mengubah paradigma bahwa integrasi Israel di Timur Tengah bisa berjalan tanpa harus menunggu penyelesaian mutlak atas kemerdekaan Palestina terlebih dahulu.

Dan pada kenyataannya, kedua negara pernah bekerjasama secara rahasia sejak awal tahun 1960-an, ketika keduanya mendukung kaum Royalis di Yaman melawan pemerintah Republik yang didukung Mesir dan Uni Soviet di Sana'a.

Dinas intelijen kedua negara mengoordinasikan pengiriman senjata dan keahlian kepada kaum Royalis, yang berbasis di Arab Saudi.

Kepala Mossad dan intelijen Saudi pernah bertemu di Hotel Dorchester di London. Perjanjian Oslo tahun 1993 antara Israel dan Palestina, memfasilitasi lebih banyak kontak di balik layar.

Namun dukungan publik Arab Saudi justru terus menurun sejak Israel menyerang Gaza. Dari tujuh negara yang disurvei oleh Arab Barometer pada 2023-2024, dukungan tidak pernah melebihi 13 persen.

Di sebagian besar negara, ini menandai penurunan kecil dari tingkat yang sudah rendah. Di Maroko, yang menormalisasi hubungan dengan Israel pada tahun 2020, dukungan turun dari 31 persen pada tahun 2022 menjadi 13 persen setelah 7 Oktober 2023.

Dalam survei komprehensif yang diterbitkan pada Agustus 2025 oleh Washington Institute for Near East Policy, warga Saudi ditanya apakah membangun "hubungan normal dan perdamaian" dengan Israel akan menjadi langkah positif atau negatif: 99 persen responden Saudi menjawab bahwa itu akan menjadi langkah negatif.

Sebagai perbandingan, dalam survei tahun 2020, 41 persen responden Saudi memandang Abraham Accord sebagai perkembangan regional yang positif, tetapi angka ini menurun menjadi 20% pada 2023 dan menjadi 13 persen pada 2025, dikutip dari The Institute National Security Studies (INSIS).

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya