Mengapa Al-Qur'an Menyebut Anak sebagai Perhiasan Kehidupan Dunia?

50 menit yang lalu 3

Anak merupakan amanah berharga yang dititipkan Allah SWT kepada orang tua. Karena itu, mereka perlu dididik dengan penuh kasih sayang dan sebaik mungkin agar tidak terbawa arus perkembangan zaman yang semakin sulit dibendung.


Dalam Al-Qur'an, anak disebut sebagai perhiasan kehidupan dunia. Artinya, sebagaimana harta dan perhiasan dunia lainnya, keberadaan anak juga tidak kekal dan suatu saat akan berakhir.


Nah, tugas kita sebagai orang tua adalah mendidik anak agar tidak hanya menjadi perhiasan dunia, tetapi juga membawa kebaikan hingga akhirat. Caranya? Tentu dengan membimbing mereka menjadi anak saleh dan salehah.


Sebab, anak yang saleh dan salehah dapat terus mendoakan orang tuanya, bahkan ketika mereka telah meninggal dunia. Doa dan kebaikan anak inilah yang diharapkan menjadi amal yang terus memberikan manfaat bagi kedua orang tuanya.


Dalam Surat Al-Kahf ayat 46, Allah SWT menyebut anak sebagai perhiasan dunia, bersanding dengan harta. Allah berfirman:


اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا


Artinya, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (QS. Al-Kahf [18]: 46).


Lantas, mengapa harta dan anak disebut sebagai perhiasan dunia? Sebab, keduanya tidak kekal dan hanya dapat dinikmati selama kehidupan dunia berlangsung. Sebagaimana perhiasan lainnya, harta dan anak juga tidak selamanya berada bersama kita.


Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam al-Baidhawi dalam tafsirnya:


الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا يَتَزَيَّنُ بِهَا الْإِنْسَانُ فِي دُنْيَاهُ وَتَفْنَى عَنْهُ عَمَّا قَرِيبٍ


Artinya, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Di dunia manusia berhias dengannya dan akan sirna dalam waktu dekat." (Imam Nashiruddin al-Baidhawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta'wil, [Beirut: Daru Ihya'it Turats, 1481 H], jilid III, hlm. 283).


Berbeda dengan harta dan anak yang tidak kekal, amal kebaikan memiliki pahala yang terus bermanfaat hingga akhirat. Dalam ayat tersebut, amal ini disebut al-baqiyatus shalihat, yaitu amal kebajikan yang kekal pahalanya.


Syekh Nawawi Banten dalam tafsirnya menyebutkan beberapa contoh amal tersebut, seperti shalat lima waktu, ibadah haji, puasa Ramadhan, dan berkata baik. (Lihat: Marahul Labid li Kasyfi Ma'nal Qur'anil Majid, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah], jilid I, hlm. 651).


Lebih jauh, Imam Abu Hayyan menjelaskan alasan Al-Qur'an menyebut harta dan anak sebagai perhiasan dunia. Ia menuturkan:


الْمالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَياةِ الدُّنْيا وَكُلُّ مَا كَانَ زِينَةُ الْحَياةِ الدُّنْيا فَهُوَ سَرِيعُ الِانْقِضَاءِ فَالْمَالُ وَالْبَنُونَ سَرِيعُ الِانْقِضَاءِ، وَمِنْ بَدِيهَةِ الْعَقْلِ أَنَّ مَا كَانَ كَذَلِكَ بِقَبْحٍ بِالْعَاقِلِ أَنْ يَفْتَخِرَ بِهِ أَوْ يَفْرَحَ بِسَبَبِهِ، وَهَذَا بُرْهَانٌ عَلَى فَسَادِ قَوْلِ أُولَئِكَ الْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ افْتَخَرُوا عَلَى فُقَرَاءِ الْمُؤْمِنِينَ بِكَثْرَةِ الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ.


Artinya, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan segala sesuatu yang termasuk perhiasan kehidupan dunia akan cepat musnah. Karena itu, harta dan anak-anak pun cepat musnah. Secara rasional, sesuatu yang keadaannya seperti itu merupakan hal yang buruk bagi orang yang berakal untuk membanggakannya atau merasa gembira karenanya.


“Penjelasan ini adalah burhan (bukti nyata) atas kerusakan perkataan orang-orang musyrik yang menyombongkan diri dengan banyaknya harta dan anak di hadapan orang-orang fakir dari kalangan kaum Mukminin." (Imam Abu Hayyan, Al-Bahrul Muhith, [Beirut: Darul Fikr, 1420 H], jilid VII, hal. 186).


Penjelasan Abu Hayyan ini mengingatkan bahwa harta dan anak bukanlah sesuatu yang layak dijadikan alasan untuk menyombongkan diri. Sebab, sebanyak apa pun harta dan anak yang dimiliki, semuanya tetap bersifat sementara.


Namun, bukan berarti harta dan anak sama sekali tidak dapat menjadi bekal akhirat. Yang dimaksud dalam penjelasan tersebut adalah harta dan anak yang tidak disertai amal saleh.


Harta yang hanya digunakan untuk kepentingan dunia, tanpa dimanfaatkan untuk kebaikan, tidak akan memberikan manfaat akhirat. Begitu pula anak yang tidak dididik dengan baik sehingga tidak tumbuh menjadi pribadi yang saleh.


Sebaliknya, harta yang digunakan untuk membangun masjid, bersedekah, atau amal jariah lainnya dapat menjadi bekal akhirat. Demikian pula anak yang dididik hingga menjadi saleh dan salehah serta senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.


Hal ini sejalan dengan penjelasan lanjutan Imam Abu Hayyan berikut:


وَخَيْرٌ أَمَلًا أَيْ وَخَيْرٌ رَجَاءً لِأَنَّ صَاحِبَهَا يَأْمُلُ فِي الدُّنْيَا ثَوَابَ اللَّهِ وَنَصِيبَهُ فِي الْآخِرَةِ دُونَ ذِي الْمَالِ وَالْبَنِينَ الْعَارِي مِنَ الْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ فَإِنَّهُ لَا يَرْجُو ثَوَابًا


Artinya, "Serta lebih baik untuk menjadi harapan, karena pemiliknya di dunia mengharapkan balasan dari Allah SWT dan di akhirat juga mengharapkan bagian tersebut. Hal tersebut tidak berlaku untuk harta dan anak yang sepi dari al-baqiyatus shalihat, karena hal itu tidak ada harapan balasannya." (Lihat: Al-Bahrul Muhith, jilid VII, hlm. 186).


Penjelasan serupa disampaikan Imam al-Qurthubi. Menurutnya, amal kebaikan yang kekal pahalanya, seperti shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan amal saleh lainnya, memang lebih utama daripada harta dan anak. Namun, yang dimaksud dalam perbandingan tersebut adalah harta dan anak yang tidak disertai amal kebaikan. (Lihat: Tafsir al-Qurthubi, [Mesir: Darul Kutub al-Mishriyyah, 1964], jilid X, hlm. 413–414).


Dengan demikian, anak yang dididik dengan baik hingga menjadi saleh dan salehah tidak hanya menjadi kebahagiaan orang tua di dunia, tetapi juga dapat menjadi sumber pahala di akhirat melalui doa dan amal kebaikannya.


Dari beberapa penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa Al-Qur'an menyebut anak sebagai perhiasan dunia karena keberadaannya tidak kekal, sebagaimana harta dan perhiasan dunia lainnya. Namun, manfaat dari pendidikan dan kebaikan yang ditanamkan kepada anak dapat terus berlanjut hingga akhirat.


Karena itu, tugas orang tua bukan sekadar membesarkan dan memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga mendidik mereka dengan sepenuh hati agar tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah.


Dengan begitu, anak tidak hanya menjadi perhiasan yang membahagiakan selama hidup di dunia, tetapi juga menjadi jalan kebaikan yang pahalanya terus mengalir hingga akhirat. Wallahu a'lam bisshawab.


Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil, Perumus LBM Nurul Cholil, dan Pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan.

Baca Artikel Selengkapnya