Salah satu sifat yang hampir dimiliki setiap manusia adalah tergesa-gesa dalam menginginkan sesuatu. Ketika berdoa ingin segera terkabul, ketika mendapati kesulitan ingin lekas berakhir, dan ketika memiliki keinginan ingin secepatnya terwujud, bahkan terburu-buru mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Kecenderungan setiap manusia untuk tergesa-gesa dalam setiap keinginan dan urusannya ini ternyata sudah pernah disinggung dalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 11. Di dalamnya dijelaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki tabiat tergesa-gesa.
Hanya saja, apa alasan di balik penyebutan tersebut? Nah dalam kesempatan kali ini, penulis hendak menjelaskan mengapa Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk yang tergesa-gesa. Berikut ini adalah ayat dan terjemah dari surat Al-Isra’ ayat 11:
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
Artinya, “Manusia (seringkali) berdoa untuk (mendapatkan) keburukan sebagaimana (biasanya) berdoa untuk (mendapatkan) kebaikan. Manusia itu (sifatnya) tergesa-gesa.”
Sebab Turunnya Ayat
Merujuk beberapa penjelasan para ulama ahli tafsir, ayat ini diturunkan sebagai celaan atas kebiasaan masyarakat Arab Jahiliyah yang senantiasa mendoakan keburukan bagi harta dan anak-anak mereka ketika sedang marah atau kesal.
Dalam keadaan tersebut, mereka langsung mengucapkan doa-doa buruk (tergesa-gesa), padahal ketika dalam keadaan tenang, mereka justru mengharapkan kebaikan bagi diri dan keluarganya. Penjelasan ini sebagaimana dicatat oleh Imam Ibnu Athiyah al-Andalusi (wafat 541 H) dalam kitab al-Muharrar al-Wajiz sebagai berikut:
هَذِهِ الْآيَةُ نُزِلَتْ ذَامَّةً لِمَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنَ الدُّعَاءِ عَلىَ أَمْوَالِهِمْ وَأَبْنَائِهِمْ فِي وَقْتِ الْغَضَبِ وَالضَّجَرِ، فَأَخْبَرَ اللهُ أَنَّهُمْ يَدْعُوْنَ بِالشَّرِّ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ كَمَا تَدْعُوْنَ بِالْخَيْرِ فِي وَقْتِ التَّثَبُّتِ
Artinya, “Ayat ini diturunkan untuk mencela kebiasaan manusia yang mendoakan keburukan bagi harta dan anak-anak mereka ketika sedang marah dan kesal. Allah kemudian menjelaskan bahwa pada saat itu mereka berdoa untuk keburukan, sebagaimana mereka berdoa untuk kebaikan saat dalam keadaan tenang.” (Al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsiril Kitab al-Aziz, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 1993 M], jilid III, halaman 451).
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa sebab diturunkannya ayat ini berkaitan dengan tabiat manusia yang senantiasa tergesa-gesa, terutama saat sedang dikuasai amarah dan kekesalan. Dalam keadaan tersebut, seseorang akan dengan mudah mendoakan keburukan bagi harta dan anak-anaknya sendiri. Padahal jika dalam keadaan tenang, mereka justru mengharapkan kebaikan bagi keduanya.
Namun beruntungnya, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Athiyah dalam lanjutannya, doa-doa yang disampaikan dalam keadaan sedang marah atau tergesa-gesa tidak Allah swt kabulkan, karena jika dikabulkan, manusia bisa mengalami kebinasaan dan kehancuran.
Setelah mengetahui konteks diturunkannya ayat tersebut, pembahasan selanjutnya adalah asal usul dari kata "ajulan" yang berarti tergesa-gesa. Hal ini penting untuk ditelusuri lebih dalam, agar pemahaman terhadap surat Al-Isra’ ayat 11 sempurna, dan berikut penjelasannya:
Asal-Usul Sifat Tergesa-gesa pada Manusia
Para ulama tafsir memiliki dua pendapat mengenai asal-usul sifat tergesa-gesa yang disebutkan dalam ayat tersebut. Pendapat pertama mengaitkannya dengan peristiwa penciptaan Nabi Adam as.
Dikisahkan, ketika ruh telah sampai ke bagian pusar Nabi Adam, ia melihat tubuhnya dan merasa kagum. Ia kemudian berusaha bangkit, tetapi belum mampu melakukannya. Peristiwa ini menggambarkan sifat tergesa-gesa yang telah muncul sejak awal penciptaan manusia.
Sementara itu, pendapat kedua menyatakan bahwa ayat tersebut berbicara tentang sifat manusia secara umum. Sebab, tidak ada seorang pun yang sepenuhnya terbebas dari ketergesa-gesaan. Padahal, meninggalkan sifat tersebut akan membawa kebaikan bagi kehidupan agama maupun dunia mereka.
Kedua pendapat ini dijelaskan oleh Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Mafatihul Ghaib sebagai berikut:
وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّهُ مَحْمُوْلٌ عَلىَ الْجِنْسِ، لِأَنَّ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ لَا يَعْرَى عَنْ عَجَلَةٍ، وَلَوْ تَرَكَهَا لَكَانَ تَرْكُهَا أَصْلَحَ لَهُ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا
Artinya, “Pendapat kedua: ia diarahkan pada jenis (manusia), karena tidak seorang pun dari manusia terbebas dari tergesa-gesa. Padahal seandainya ia meninggalkannya, tentu akan lebih baik baginya dalam urusan agama dan dunia.” (Tafsir Mafatihul Ghaib, [Beirut: Darul Ihya at-Turats, 1420 H], jilid X, halaman 305).
Dalam penjelasan lanjutannya, Imam Fakhruddin ar-Razi menyebutkan bahwa kedua pendapat tersebut pada hakikatnya tidak memiliki perbedaan mendasar. Sebab, sekalipun kata manusia dalam ayat tersebut merujuk kepada Nabi Adam as, ia merupakan manusia pertama sekaligus asal-usul seluruh umat manusia. Dengan demikian, jika Nabi Adam digambarkan memiliki sifat tergesa-gesa, sifat serupa juga dapat ditemukan pada anak keturunannya.
Oleh sebab itu, baik pendapat yang menyatakan bahwa ayat tersebut ditujukan kepada Nabi Adam maupun kepada manusia secara umum, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa sifat tergesa-gesa merupakan tabiat yang melekat pada diri manusia.
Makna Sifat Tergesa-gesa dalam Al-Qur'an
Mengutip penjelasan Syihabuddin al-Alusi, manusia disebut tergesa-gesa karena kerap bertindak tanpa mempertimbangkan sesuatu secara matang. Akibatnya, mereka tidak mampu membedakan mana kebaikan yang layak dimohon dan mana keburukan yang seharusnya dihindari.
Simak penjelasannya berikut ini:
وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا، غَيْرَ مُسْتَبْصِرٍ لَا يَتَدَبَّرُ فِي أُمُوْرِهِ حَقَّ التَّدَبُّرِ لِيَتَحَقَّقَ مَا هُوَ خَيْرٌ حَقِيْقٌ بِالدُّعَاءِ بِهِ وَهُوَ شَرٌّ جَدِيْرٌ بِالْاِسْتِعَاذَةِ مِنْهُ
Artinya, “Manusia itu (sifatnya) tergesa-gesa, tidak memiliki pandangan, tidak memikirkan urusan-urusannya dengan benar, agar ia mengetahui suatu kebaikan yang patut diminta, dan suatu keburukan yang patut diminta perlindungan darinya.” (Ruhul Bayan fi Tafsiril Qur’anil Adzim was Sab’il Matsani, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 1994 M], jilid XV, halaman 24).
Sementara itu, menurut Syekh Abul Qasim az-Zamakhsyari (wafat 538 H) dalam kitab Tafsir al-Kasysyaf, sifat tergesa-gesa merujuk pada kecenderungan manusia untuk segera meminta segala sesuatu yang muncul dalam hati dan pikirannya, tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu.
Simak penjelasannya berikut ini:
وَكَانَ الإِنْسَانُ عَجُولاً، يَتَسَرَّعُ إِلَى طَلَبِ كُلِّ مَا يَقَعُ فِي قَلْبِهِ وَيَخْطُرُ بِبَالِهِ، لَا يَتَأَنَّى فِيْهِ تَأَنِّيَ الْمُتَبَصِّرِ
Artinya, “Manusia itu (sifatnya) tergesa-gesa, ia terburu-buru meminta segala sesuatu yang muncul dalam hatinya dan terlintas dalam pikirannya, serta tidak bersikap tenang dalam hal itu sebagaimana ketenangan orang yang berpikir dengan cermat.” (Al-Kasysyaf ‘an Haqaiqit Tanzil wa ‘Uyunil Aqawil, [Beirut: Darul Kutub al-Arabi, 1407 H], jilid II, halaman 609).
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur'an menyebut manusia sebagai makhluk yang tergesa-gesa karena sifat tersebut merupakan bagian dari tabiat dasar mereka. Bahkan, sifat ini telah digambarkan sejak awal penciptaan Nabi Adam as, ketika ia berusaha bangkit sebelum proses penciptaannya benar-benar selesai.
Kecenderungan ini juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Manusia sering kali ingin segera mendapatkan apa yang muncul dalam hati dan pikirannya, tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan keadaan maupun akibat yang mungkin ditimbulkan.
Karena itu, ayat ini mengingatkan kita agar tidak selalu terburu-buru mengikuti setiap keinginan. Sebaliknya, kita perlu membiasakan diri untuk berpikir jernih dan mempertimbangkan segala sesuatu secara matang. Sebab, sikap tersebut akan membawa kebaikan bagi kehidupan agama maupun dunia kita.
Demikianlah uraian tentang alasan Al-Qur'an menyebut manusia sebagai makhluk yang tergesa-gesa, mulai dari penafsiran ayat hingga makna sifat tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bisshawab.
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan Jawa Timur.

2 jam yang lalu
4



English (US) ·
Indonesian (ID) ·