Menumpahkan air ke lantai, mencoret-coret dinding rumah, berebut mainan dengan adiknya, menangis keras karena tak dibelikan jajan, mengacak-acak barang yang sudah dirapikan, enggan mandi ketika waktunya tiba, hingga merengek berkali-kali karena keinginannya tidak dituruti.
Tingkah anak-anak seperti inilah yang seringkali membuat orang tua kehilangan kesabarannya. Niat awal hendak membimbing dengan lembut bisa berubah menjadi bentakan, khususnya ketika anak terus mengulangi kesalahan yang sama meski sudah diingatkan berkali-kali. Apalagi jika orang tua sedang lelah, hal-hal kecil yang anak lakukan pun terkadang terasa begitu menjengkelkan.
Dalam keadaan seperti ini, memarahi anak kerap menjadi pilihan spontan orang tua untuk menghentikan perilakunya yang dianggap keliru. Ada yang memerahinya dengan suara keras, membentak agar anak segera menurut, hingga ada juga yang melontarkan kata-kata yang tidak pantas. Sebagian orang tua menganggap cara tersebut sebagai sesuatu yang wajar sebagai bentuk ketegasan dalam mendidik anak.
Nah dalam kesempatan kali ini, penulis hendak membahas bagaimana Islam memandang sikap orang tua ketika anak melakukan perbuatan yang dianggap salah, mulai dari apakah anak harus dimarahi, atau ada cara lain yang lebih baik untuk mendidiknya.
Memarahi Anak ketika Berbuat Salah
Salah satu persoalan yang kerap muncul dalam proses mendidik anak adalah menentukan sikap yang benar dan bijak ketika mereka melakukan kesalahan. Dalam hal ini, ketika anak melakukan kesalahan, sebagian orang tua merasa perlu segera menegurnya agar ia jera dan tidak mengulangi perbuatan yang sama kedua kali. Bahkan ada yang beranggapan bahwa anak yang tidak dimarahi ketika berbuat salah akan tumbuh menjadi pribadi yang manja dan sulit diatur.
Anggapan ini membuat sebagian orang tua terbiasa memerahi anak hingga meninggikan suara ketika sang buah hati melakukan sesuatu yang dianggap kesalahan. Padahal, tidak semua kesalahan anak dilakukan dengan sengaja, dan tidak setiap perilaku yang membuat orang tua kesal harus dibalas dengan kemarahan.
Berkaitan dengan hal ini, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa orang tua hendaknya tidak selalu langsung menegur anak setiap kali melakukan kesalahan. Apabila anak baru sekali melakukan kesalahan, hendaknya orang tua bersikap seolah-olah tidak mengetahuinya, tidak membuka aibnya, dan tidak menegurnya secara terang-terangan, apalagi jika anak telah berusaha menyembunyikan kesalahannya.
Hal ini karena memperlihatkan bahwa kesalahan tersebut diketahui hingga memarahi dan mempermalukannya secara langsung, justru dapat membuat anak semakin berani melakukan kesalahan yang serupa.
Namun apabila anak kembali mengulangi kesalahannya, orang tua hendaknya menegurnya secara pribadi dan menjelaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan kesalahan serius yang tidak boleh diulangi. Orang tua juga perlu mengingatkan agar anak tidak kembali melakukan hal serupa, apalagi sampai kesalahannya diketahui orang lain dan membuatnya merasa malu.
Simak sebagian kutipan penjelasan al-Ghazali berikut ini:
إِنْ عَادَ ثَانِيًا فَيَنْبَغِي أَنْ يُعَاتَبَ سِرًّا وَيُعَظَّمَ الْأَمْرُ فِيْهِ، وَيُقَالُ لَهُ: إِيَّاكَ أَنْ تَعُوْدَ بَعْدَ ذَلِكَ لِمِثْلِ هَذَا، وَأَنْ يُطْلَعَ عَلَيْكَ فِي مِثْلِ هَذَا فَتَفْتَضِحَ بَيْنَ النَّاسِ
Artinya, “Jika anak mengulangi kesalahannya untuk kedua kalinya, hendaknya ia ditegur secara diam-diam dan hal tersebut dianggap serius. Katakan kepadanya: ‘Jangan sekali-kali kamu lakukan kembali hal ini setelah itu, dan jangan sampai kamu diketahui melakukan hal ini sehingga kamu dipermalukan di hadapan banyak orang’.” (Ihya’ Ulumiddin, [Beirut: Darul Ma’rifah, t.t.], jilid III, halaman 73).
Penjelasan al-Ghazali tersebut memberikan Gambaran bahwa menegur anak bukan berarti harus meluapkannya dengan emosi dan kemarahan. Terkadang, orang tua cukup membiarkan kesalahan kecil yang baru pertama kali dilakukan, dan terkadang pula, orang tua perlu memberikan teguran secara langsung ketika anak mengulangi kesalahan yang sama.
Namun dalam hal menegur anak, orang tua tidak boleh selalu memerahi anak dan mencelanya setiap kali melakukan kesalahan. Sebab teguran yang dilakukan berulang kali dan terus-menerus justru dapat membuat anak terbiasa mendengar celaan, sehingga nasihat yang disampaikan kehilangan pengaruhnya dan tidak lagi membekas dalam hati sang anak.
Karenanya, orang tua perlu menjaga perkataannya dengan tidak selalu melontarkan teguran pada setiap anak melakukan kesalahan. Hal ini bukan berarti untuk membiarkan kesalahan anak diulang berkali-kali, melainkan teguran perlu disampaikan pada saat yang tepat agar anak dan memahami dan mempertimbangkan teguran tersebut.
Simak penjelasan lanjutan dari al-Ghazali berikut ini:
وَلَا تُكْثِرِ الْقَوْلَ عَلَيْهِ بِالْعِتَابِ فِي كُلِّ حِيْنٍ فَإِنَّهُ يَهُوْنُ عَلَيْهِ سَمَاعُ الْمَلَامَةِ وَرُكُوْبُ الْقَبَائِحِ، وَيَسْقُطُ وَقْعُ الْكَلَامِ مِنْ قَلْبِهِ، وَلْيَكُنِ الْأَبُ حَافِظًا هَيْبَةَ الْكَلَامِ مَعَهُ فَلَا يُوَبِّخْهُ إِلَّا أَحْيَانًا وَالْأُمُّ تُخَوِّفُهُ بِالْأَبِ وَتَزْجُرُهُ عَنِ الْقَبَائِحِ
Artinya, “Jangan terlalu sering memarahinya setiap saat, sebab akan membuatnya terbiasa mendengar celaan dan melakukan perbuatan buruk, serta menghilangkan pengaruh perkataan dari hatinya. Hendaknya ayah menjaga wibawa perkataannya di hadapan anak, sehingga ia tidak menegurnya dengan keras kecuali sesekali. Sementara ibu, menakut-nakutinya dengan ayah dan mencegahnya dari perbuatan buruk.” (Al-Ghazali, Jilid III, halaman 74).
Dari penjelasan al-Ghazali tersebut, dapat dipahami bahwa mendidik anak memang membutuhkan ketegasan tetapi juga harus disertai dengan kebijaksanaan. Orang tua tidak perlu selalu memarahi anak setiap kali mereka melakukan kesalahan, tetapi juga tidak seharusnya membiarkan perilaku buruk terus berulang tanpa adanya teguran.
Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu melihat keadaan dan mempertimbangkan cara yang terbaik untuk mendidiknya. Jika kesalahan itu baru pertama kali dilakukan, apalagi karena sang anak memang belum memahami akibat perbuatannya, orang tua dapat memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri tanpa langsung menegurnya.
Namun jika kesalahan yang sama terus diulangi, maka teguran perlu disampaikan dengan jelas dan sewajarnya, tanpa perlu mempermalukan atau mencela anak secara berlebihan. Hal yang tidak kalah penting juga adalah orang tua hendaknya menjaga perkataannya agar nasihat tidak kehilangan pengaruh akibat terlalu sering disampaikan dengan kemarahan.
Cara Menegur Anak yang Benar
Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua sebaiknya tidak hanya menegurnya dengan mengatakan “Jangan begitu” atau “Kamu nakal”, tetapi juga perlu menjelaskan letak kesalahannya dan mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan.
Contohnya, ketika anak merebut mainan saudaranya, orang tua tidak cukup hanya melarangnya, tetapi juga perlu menjelaskan bahwa merebut barang orang lain tidak diperbolehkan, kemudian mengajarinya untuk meminta izin terlebih dahulu. Dengan cara ini, anak tidak hanya tahu letak kesalahannya, tetapi juga memahami bagaimana seharusnya bersikap.
Cara mendidik seperti inilah yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw ketika menegur seorang anak. Dikisahkan, suatu saat ketika Umar bin Abi Salamah masih kecil dalam pengasuhan Nabi, ia makan bersama Rasulullah, namun tangannya bergerak ke berbagai bagian wadah makanan yang ada.
Melihat hal itu, beliau tidak memarahinya melainkan memberikan teguran mendidik dengan mengajarkan tiga adab makan sebagai berikut:
يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ
Artinya, “Wahai anak, sebutlah nama Allah (basmalah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di dekatmu. Maka sejak saat itu, demikianlah tata cara makanku.” (HR. Bukhari).
Sikap Rasulullah tersebut memberikan pelajaran penting bagi setiap orang tua dalam mendidik anak ketika melakukan kesalahan, untuk menunjukkan perilaku yang benar sebagai pengganti dari perbuatan yang keliru, sehingga anak memperoleh arahan yang jelas tentang apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana melakukannya.
Demikian tulisan tentang cara bijak menyikapi kesalahan anak dan menegurnya sesuai dengan tuntunan syariat. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.
---------------
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan Jawa Timur.

4 hari yang lalu
7



English (US) ·
Indonesian (ID) ·