Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menyatakan ketahanan siber merupakan aspek penting untuk menjaga kepercayaan investor di sektor keuangan.
Ia mengatakan, saat ini sektor keuangan semakin berkembang luas dengan kehadiran berbagai inovasi dan teknologi sehingga membutuhkan peningkatan keamanan siber.
“Kalau dalam situasi seperti ini di mana produk keuangan itu sudah begitu banyak bervariasi, dari penggunaan e-banking, penggunaan dari produk-produk non-financial institution seperti kripto, kemudian Bitcoin, kemudian fintech, itu begitu luas maka itu harus diperkuat yang namanya sistem keamanan siber,” ujarnya di Jakarta, Kamis.
Anggito menyatakan, ketahanan siber dan keamanan teknologi informasi merupakan hal yang penting untuk mendorong pendalaman sektor keuangan.
Pihaknya pun bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), hingga Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk mengevaluasi aspek tersebut secara rutin.
“Kami juga memonitor bank-bank itu masing-masing kalau ada yang kurang baik lalu kami ingatkan supaya meng-improve (sistem siber dan teknologi informasi mereka),” katanya.
Selain meningkatkan keamanan siber, Anggito menyampaikan bahwa penguatan kebijakan fiskal juga diperlukan untuk menjaga kepercayaan investor di sektor keuangan.
Salah satunya, Kemenkeu berupaya untuk menjaga tingkat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak melebihi 3 persen hingga akhir tahun.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong peningkatan penyaluran pembiayaan ke sektor riil untuk memacu pertumbuhan perekonomian nasional.
“Kemarin Bank Indonesia juga mengumumkan bahwa cukup banyak sektor yang masih punya kesempatan untuk ekspansi,” ucap Anggito Abimanyu.
Pada konferensi pers daring pada Rabu (22/4), BI mengungkapkan kredit perbankan tumbuh sebesar 9,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret 2026, lebih tinggi dibandingkan pada Februari 2026 sebesar 9,37 persen yoy.
Berdasarkan kelompok penggunaan, peningkatan tersebut didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada Maret 2026 masing-masing tumbuh sebesar 20,85 persen yoy, 4,38 persen yoy, dan 5,88 persen yoy.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan minat penyaluran kredit perbankan dinilai tetap baik, tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang masih longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.
Baca juga: BPJPH-LPS perkuat sinergi pengembangan ekosistem jaminan produk halal
Baca juga: LPS bukukan surplus setelah pajak Rp31,3 triliun pada 2025
Baca juga: Komisi XI ungkap wacana penghapusan pungutan OJK lewat revisi UU P2SK
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·