Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat, bergerak datar 0 poin atau 0,00 persen menjadi Rp17.748 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.748 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede kurs rupiah hari ini akan dipengaruhi rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2026.
“Bank Indonesia dijadwalkan merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2Q26 hari ini,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Pihaknya memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) melebar menjadi 3,09 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dari 1,09 persen terhadap PDB pada kuartal I-2026.
Baca juga: BI: Net inflow portofolio asing 1,8 miliar dolar AS hingga 14 Agustus
Pelebaran defisit, katanya, terutama didorong oleh peningkatan musiman pada arus keluar pendapatan primer, khususnya pembayaran imbal hasil atas aset domestik kepada non-residen, serta memburuknya kinerja neraca barang seiring dengan tercatatnya defisit perdagangan pada Mei dan Juni 2026.
Di samping itu, sentimen lain berasal dari pengumuman program pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah AS berjangka panjang.
Operasi tersebut bertujuan menurunkan imbal hasil obligasi jangka panjang yang sebelumnya terus naik mencapai level tertinggi dalam 20 bulan (obligasi 10 tahun AS). Dengan imbal hasil obligasi AS yang menurun, maka membuat dolar AS lebih kurang menarik.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.700-Rp17.825 per dolar AS.
Baca juga: BI: Permintaan renminbi di pasar domestik setara 38,9 miliar dolar AS
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·