KTT BRICS: India dan China Sepakat Redakan Sengketa Batas

1 jam yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk bekerja sama dalam menyelesaikan sengketa perbatasan yang menimbulkan ketegangan kedua negara, menurut keterangan Kementerian Luar Negeri India di New Delhi. Hal itu disepakati dalam pertemuan bilateral kedua negara di sela-sela KTT BRICS.

Pemimpin India dan China menggelar pertemuan bilateral pada Sabtu (12/9) di sela-sela KTT BRICS di New Delhi. Kunjungan ini merupakan perjalanan pertama Xi ke India dalam tujuh tahun terakhir, sekaligus menjadi langkah paling signifikan dalam proses pemulihan hubungan antara dua negara bersenjata nuklir tersebut.

"Meskipun kedua negara kita memiliki banyak perbedaan dalam berbagai aspek, kita sangat mampu untuk saling melengkapi keunggulan, saling mendukung, meraih keberhasilan bersama, dan maju berdampingan," ujar Xi dalam rekaman video yang dirilis saat pertemuannya dengan Modi, dilansir dari Al Jazeera, Minggu (13/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selepas pertemuan tersebut, Kementerian Luar Negeri India menyatakan bahwa kedua pemimpin menegaskan komitmen mereka untuk mencapai penyelesaian masalah perbatasan yang adil, masuk akal dan dapat diterima oleh kedua belah pihak.

Kemenlu India menambahkan bahwa Modi menekankan pentingnya bagi kedua belah pihak untuk mematuhi kesepakatan serta pemahaman yang sudah ada terkait isu-isu perbatasan. Selain itu, kedua negara berjanji untuk memperkuat hubungan di bidang kebudayaan, bisnis, dan transportasi.

"Mengenai hubungan ekonomi dan perdagangan, mereka menggarisbawahi perlunya mengatasi kekhawatiran satu sama lain, termasuk ketidakseimbangan perdagangan struktural, kendala rantai pasok, serta fasilitasi akses pasar yang bermakna dan terprediksi," tulis pernyataan resmi tersebut.

Sementara itu, menurut keterangan kantor berita resmi China, Xinhua menyebutkan bahwa Presiden Xi menegaskan Beijing selalu melihat dan mengembangkan hubungan China-India dari perspektif strategis dan jangka panjang.

Menurut Xi, pertukaran kelembagaan antara kedua negara mulai pulih secara bertahap, daftar area kerja sama terus meluas, dan volume perdagangan bilateral telah mencapai rekor tertinggi baru.

Xi tiba di New Delhi pada Sabtu (12/9) pagi didampingi jajaran pejabat tinggi, termasuk Menteri Luar Negeri Wang Yi dan pejabat senior Partai Komunis China, Cai Qi. Kunjungan ini berlangsung enam tahun setelah bentrokan militer mematikan di garis batas wilayah yang dipersengketakan. Sejak saat itu, hubungan kedua negara membaik secara perlahan melalui pembukaan kembali penerbangan langsung, penerbitan visa, serta dimulainya kembali kontak tingkat tinggi.

Kendati demikian, sengketa teritorial mendasar di wilayah Tibet masih belum terselesaikan. Kedua negara tetap menempatkan ribuan personel militer di sepanjang garis perbatasan wilayah dataran tinggi sepanjang 3.500 km (2.175 mil).

"Mereka mengincar pencapaian yang cepat dan signifikan  dalam hal isu perbatasan," ujar Pradeep Taneja, pakar hubungan China-India dari University of Melbourne kepada kantor berita AFP.

"Anda tidak bisa terus menambah penumpukan pasukan di perbatasan... tetapi di saat yang sama mengatakan 'kita harus tetap menjaga hubungan antarmasyarakat dan ekonomi'," tambahnya.

Sengketa di perbatasan Himalaya, defisit perdagangan yang kian melebar bagi India, serta rivalitas strategis di kawasan tetap menjadi faktor pembalik yang memperumit hubungan kedua raksasa Asia ini.

Di sisi lain, aksi protes juga mewarnai kedatangan Xi. Puluhan warga Tibet di pengasingan sempat menggelar demonstrasi di New Delhi pada Jumat (11/9) dengan membentangkan poster menolak kunjungan pemimpin China tersebut.

[Gambas:Video CNN]

(ins)

Baca Artikel Selengkapnya