Korsel Yakin Trump Pangkas Patroli Bareng Demi Tekan Seoul soal Iran

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun menilai keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengurangi latihan militer bersama ditujukan sebagai tekanan terhadap Seoul.

Cho menilai tekanan itu ditujukan AS agar Korsel mendukung upaya AS dalam perang melawan Iran dan sejumlah masalah lain yang masih belum terselesaikan antara kedua negara seperti investasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya pikir pesan Presiden Trump mencakup tekanan terkait beberapa masalah yang masih tertunda mengenai pemerintah Korea Selatan, serta pesan kepada Korea Utara dan keinginan Amerika Serikat untuk memecahkan kebuntuan dalam perang Iran," kata Cho.

Cho mengatakan salah satu sumber potensi gesekan adalah komitmen Korea Selatan untuk berinvestasi sebesar US$350 miliar di Amerika Serikat berdasarkan kesepakatan perdagangan yang ditandatangani tahun lalu.

Seoul belum mengumumkan rincian rencana investasi tersebut, meskipun Cho mengatakan Washington telah mengirimkan proposal kepada Seoul yang merinci proyek-proyek yang dapat dipertimbangkan.

"Kami tidak dapat bergerak lebih cepat dalam rencana investasi tersebut karena kami harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti kelayakan komersial dan menjalankan prosedur hukum," kata Cho seperti dikutip Reuters.

Ia juga menyebut soal masalah tak terduga lainnya, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Pernyataan Cho itu muncul setelah Korsel dan AS pada Rabu (19/8) mengumumkan akan memperpendek latihan militer tahunan menjadi lima hari dari sebelumnya 11 hari dan mengurangi sebagian latihan lapangan.

Hal ini dilakukan menyusul perintah Trump untuk mengurangi secara signifikan keterlibatan AS dalam militer Korsel, sekutu tradisional Negeri Paman Sam sejak lama.

Menteri Unifikasi Korea Selatan Chung Dong-young, yang menghadiri sidang yang sama, mengatakan ia meyakini Trump sedang bergerak lebih dekat untuk kemungkinan mengatur pertemuan baru dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Menurutnya, Trump ingin mengurangi latihan yang selama ini membuat Pyongyang marah.

Trump belakangan memang mengatakan berniat untuk berdialog lagi dengan Kim Jong Un, setelah pertemuan terakhir keduanya di Vietnam pada 2019 lalu tak menghasilkan hal signifikan terutama soal denuklirisasi Korut.

(rds/bac)

placeholder

Baca Artikel Selengkapnya