Jakarta, CNN Indonesia --
Di sela-sela kunjungan misi diplomatik yang dipimpinnya ke Mesir tahun 1947, Menteri Luar Negeri Pertama Indonesia, Haji Agus Salim dan rombongan menginap di Hotel Continental.
Pada suatu malam sambil menikmati cahaya bulan, Agus Salim ngobrol sambil bercanda. Namun di tengah obrolan itu, tiba-tiba Agus Salim menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan suara lantang memecah keheningan malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami yang hadir semua terdiam seperti terpukau," kata Zain Hasan, aktivis di Kairo yang ikut hadir di sana, seperti dikutip dari buku "Seratus Tahun Haji Agus Salim" (penerbit Sinar Harapan).
Tak lama kemudian, suasana tambah sunyi ketika Agus Salim tiba-tiba menangis tersedu-sedu seperti hendak melepas segala sesak di dadanya.
Tak ada seorang pun yang berani bertanya atau pun memulai suara. Tak lama kemudian, Agus Salim sendiri yang memecah keheningan.
"Lagu itulah yang dinyanyikan anak saya ketika pelor Belanda menembus dadanya," ujarnya.
Cerita sang anak gugur ditembak Belanda
Kemudian dia berhenti sebentar seperti mengenang sesuatu. Rombongan yang hadir di sana makin tercenung dan tak ada yang berani berkata-kata.
"Baju inilah," katanya melanjutkan sambil menunjuk pakaian yang dia kenakan.
"Baju ini yang dipakainya ketika ia jatuh menjadi syahid," lanjutnya. Kalimat "syahid" diberi penegasan, kata Zain Hasan, itu menjadi semacam penawar bagi hatinya yang luka dan duka.
Anak Haji Agus Salim yang syahid dalam pertempuran melawan penjajah, terjadi pada masa revolusi, yaitu Achmad Sjewket Salim. Ia anak kelima, yang gugur sekitar akhir Januari 1946. Dari pernikahannya dengan Zaenatun Nahar, Agus Salim dikarunia 10 anak. Namum dua meninggal saat masih kecil.
Misi diplomatik yang dipimpin oleh Agus Salim berlangsung selam tiga bulan di Mesir. Mesir adalah negara pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1946.
Sepulang dari Mesir rombongan membawa "oleh-oleh" yang dikenang sepanjang sejarah, yaitu Penandatanganan Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir.
Dari pihak Mesir ditandatangani langsung oleh Perdana Menteri Nokrashi Pasha. Perjanjian itu menjadi pengakuan de jure atas kemerdekaan Indonesia dan menjadi dasar negara-negara Arab mengikuti langkah Mesir.
(imf/bac)

1 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·