Oleh Alaa Shamali, jurnalis dan warga Gaza
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di saat miliaran penggemar sepak bola di seluruh dunia mengalihkan perhatian mereka ke Piala Dunia 2026 untuk merayakan pertandingan ke-1000 dalam sejarah turnamen tersebut, angka lain berlalu nyaris tanpa suara di Jalur Gaza: seribu hari sejak perang dimulai, dan seribu atlet Palestina telah kehilangan nyawa dalam salah satu tragedi terbesar yang pernah menimpa dunia olahraga modern.
Ini adalah sebuah ironi yang sulit diabaikan. Di stadion-stadion dunia, sorak-sorai menggema untuk merayakan sejarah sepak bola, sementara lapangan-lapangan di Gaza berubah menjadi puing-puing. Daftar korban kini mencakup pemain sepak bola, pelatih, wasit, atlet cabang olahraga individu, hingga para pengurus olahraga, setelah jumlah korban dari komunitas olahraga Palestina melampaui seribu orang, menurut statistik lembaga-lembaga olahraga Palestina.
Pertandingan ke-1000 dalam sejarah Piala Dunia – yang mempertemukan Jepang melawan Tunisia di Estadio Monterrey in Guadalupe, Mexico – menjadi tonggak istimewa bagi turnamen sepak bola paling populer di dunia. Namun, momen itu bertepatan dengan genap seribu hari perang di Gaza, sebuah periode yang menyaksikan hampir runtuhnya seluruh sistem olahraga di wilayah tersebut.
Kerugian tidak hanya menimpa para atlet. Ratusan fasilitas olahraga hancur, kompetisi lokal terhenti, dan stadion yang dahulu dipenuhi penonton berubah menjadi tempat pengungsian atau tumpukan reruntuhan. Akibatnya, olahraga Palestina menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh perang.
Seribu Atlet, Seribu Impian yang Terhenti
Di balik angka 1.000 tersembunyi kisah para atlet yang bermimpi mewakili Palestina di ajang regional dan internasional, para pelatih yang mengabdikan bertahun-tahun untuk membina talenta muda, serta anak-anak yang mengenakan seragam klub mereka untuk terakhir kalinya sebelum perjalanan mereka terhenti.
Daftar korban mencakup sejumlah tokoh penting olahraga Palestina, di antaranya pelatih tim nasional Olimpiade Hani Al-Masdar, atlet Olimpiade, pemain tim nasional, serta juara dari berbagai cabang olahraga. Sementara itu, daftar tersebut terus bertambah seiring berlanjutnya proses pendataan oleh lembaga-lembaga olahraga Palestina.
Yang terkini, penjaga gawang asal Palestina, Salim Khader Al-Ashqar, gugur akibat tembakan pasukan Israel saat berusaha mendapatkan tabung gas memasak untuk keluarganya di wilayah selatan Gaza.
Ashqar (32 tahun), yang bermain untuk Klub Khadamat Khan Younis, keluar rumah bukan untuk bertanding sepak bola, melainkan demi mencari gas memasak bagi keluarga kecilnya. Saat ini, istrinya mengandung anak pertama mereka,
Ketika Angka Menjadi Sebuah Pesan
Sejarah Piala Dunia mungkin akan mengenang pertandingan ke-1000 sebagai tonggak baru dalam warisan turnamen. Namun, angka yang sama memiliki makna yang sangat berbeda di Gaza: seribu hari perang dan seribu atlet yang tak lagi kembali ke lapangan.
Di tengah perayaan dunia terhadap sepak bola, olahraga Palestina tetap menjadi saksi hilangnya satu generasi atlet, hancurnya fasilitas olahraga, dan pupusnya berbagai impian—sebuah gambaran yang memperlihatkan kontras antara kegembiraan di lapangan hijau dan sunyinya stadion-stadion di Gaza.

1 jam yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·