Khutbah Jumat: Menyeimbangkan Antara Percaya Takdir dan Tuntutan Menjaga Kesehatan

2 jam yang lalu 3

Salah satu nikmat besar yang telah Allah berikan kepada semua manusia adalah kesehatan. Dengan tubuh yang sehat, setiap orang dapat menjalankan berbagai aktivitas, menunaikan ibadah dengan lebih sempurna, serta menjalani hidup secara maksimal. Karena itu, Islam mengajarkan agar setiap muslim senantiasa berusaha untuk menjaga kesehatan.

Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Menyeimbangkan Antara Percaya Takdir dan Tuntutan Menjaga Kesehatan”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ، وَجَعَلَ فِيْهِ مَنَاهِجَ الْهِدَايَةِ لِلنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Seyogianya kita mengucapkan rasa syukur, alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala limpahan nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah kepada kita semua, terkhusus nikmat sehat dan sempat, sehingga kita bisa menunaikan ibadah dengan istiqamah. Shalawat dan salam semoga terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Selanjutnya, sebagaimana Rasulullah senantiasa mengawali khutbahnya dengan wasiat takwa, maka sebagai bentuk meneladani jejaknya, izinkan kami sebagai khatib berwasiat kepada diri sendiri dan segenap jamaah sekalian, marilah kita semua terus berusaha meningkatkan takwa kepada Allah swt, dengan cara menjaga setiap amanah yang telah diberikan kepada kita semua, terkhusus amanah sehat.


Kesehatan merupakan salah satu amanah besar yang Allah swt berikan kepada kita semua. Amanah ini tidak hanya patut kita syukuri, tetapi juga wajib kita jaga dengan sebaik-baiknya. Al-Qur’an secara implisit telah memberikan penegasan perihal kewajiban menjaga kesehatan, mulai dari perintah mengonsumsi makanan yang halal dan baik, hingga menghindari segala sesuatu yang dapat membahayakan diri sendiri.

Salah satu dari beberapa ayat tersebut di antaranya adalah Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأرْضِ حَلالا طَيِّبًا

Artinya, “Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah, [2]: 168).


Dalam ayat yang lain, Allah swt berfirman:


وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ


Artinya, “Janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuatbaiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah, [2]: 195).


Meski konteks ayat di atas pada hakikatnya melarang kita semua menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan, tetapi kandungan di dalamnya juga mencakup kelalaian dalam menjaga kesehatan. Mengabaikan pola hidup sehat, menolak berikhtiar untuk berobat, serta membiarkan diri rusak karena kebiasaan buruk, dan contoh lainnya adalah bagian dari menjerumuskan diri pada hal yang membahayakan.


Selain dua ayat di atas, Allah swt juga mengatur pola hidup sehat dengan senantiasa makan secukupnya saja tanpa berlebihan (israf). Dalam surat An-Nisa’, Allah swt berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوْهَآ اِسْرَافًا

Artinya, “Janganlah kamu memakannya melebihi batas kepatutan.” (QS. An-Nisa’: 6).


Menurut Syekh Muhammad Thahir bin Asyur dalam kitab at-Tahrir wat Tanwir, jilid VIII, halaman 95, ayat di atas melarang setiap orang untuk mengonsumsi makanan melebihi batas biasanya, karena hal itu dapat menimbulkan penyakit. Bahkan ada pula pendapat yang menjelaskan bahwa ayat ini telah menghimpun prinsip-prinsip dasar dalam menjaga kesehatan dari pola makanan.

Syekh Muhammad Thahir bin Asyur mengatakan:


 
وَهُوَ تَجَاوُزُ الْحَدِّ الْمُتَعَارَفِ فِي الشَّيْءِ، أَيْ: وَلَا تُسْرِفُوا فِي الْأَكْلِ بِكَثْرَةِ أَكْلِ اللُّحُومِ وَالدَّسَمِ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ يَعُودُ بِأَضْرَارٍ عَلَى الْبَدَنِ، وَتَنْشَأُ مِنْهُ أَمْرَاضٌ مُعْضِلَةٌ. وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ هَذِهِ الْآيَةَ جَمَعَتْ أُصُولَ حِفْظِ الصِّحَّةِ مِنْ جَانِبِ الْغِذَاءِ.

Artinya, “Israf adalah melampaui batas yang lazim dalam suatu hal. Maksudnya, janganlah kalian berlebihan dalam makan dengan terlalu banyak mengonsumsi daging dan makanan berlemak, karena hal itu akan menimbulkan dampak buruk bagi tubuh dan dapat menyebabkan berbagai penyakit yang berat. Dikatakan, ayat ini telah menghimpun prinsip-prinsip dasar dalam menjaga kesehatan dari sisi pola makan.”

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Penjelasan tentang kewajiban menjaga kesehatan ini penting untuk kita pahami bersama. Sebab tidak sedikit orang yang memahami takdir dengan keliru. Misalnya beranggapan bahwa, karena sakit dan sehat sudah ditentukan oleh Allah swt, maka tidak perlu lagi menjaga kesehatan.

Padahal, pemahaman seperti ini tidak benar dan tidak sejalan dengan ketentuan syariat Islam. Iman pada takdir tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Justru sebaliknya, seorang muslim diperintahkan untuk berusaha mendatangkan kemaslahatan dan menjauhkan diri dari segala hal yang membahayakan.

Juga perlu kita ketahui, bahwa menjaga kesehatan tidak hanya dilakukan ketika kita telah jatuh sakit, tetapi dimulai sejak tubuh masih dalam kondisi sehat. Misalnya dengan menjaga pola makan, mengonsumsi makanan yang halal dan baik, berolahraga secara rutin, beristirahat yang cukup, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta menghindari kebiasaan yang dapat merusak tubuh, semua ini merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan yang diperintahkan dalam Islam.


Dan apabila kita telah jatuh sakit, kita tidak boleh pasrah tanpa usaha, melainkan dianjurkan untuk segera mencari pengobatan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah dalam salah satu haditsnya, yaitu:

يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً

Artinya, “Wahai hamba Allah, berobatlah! Karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya.” (HR. At-Tirmidzi).


Demikian pula ketika kita menghadapi wabah penyakit, Islam mengajarkan langkah-langkah pencegahan agar bahaya tidak semakin meluas, misalnya dengan tidak memasuki daerah yang sedang terkena wabah, atau tidak keluar dari daerah jika kita kebetulan ada di dalamnya. Hal ini sebagaimana Rasulullah tegaskan dalam salah satu haditsnya, yaitu:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya, “Apabila kalian mendengar wabah taun di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Aan apabila wabah itu terjadi di negeri tempat kalian berada, maka janganlah keluar darinya.” (HR. Bukhari).

Dua hadits ini menunjukkan kepada kita semua bahwa syariat Islam tidak mengajarkan sikap pasrah, tetapi memerintahkan ikhtiar untuk menjaga bahaya agar badan tetap sehat dan terhindar dari musibah. Inilah gambaran utama dari menyeimbangkan takdir dengan menjaga kesehatan, yaitu dengan tetap menjaga kesehatan semaksimal mungkin, dan memasrahkan hasilnya kepada Allah swt.

Oleh sebab itu, apabila seorang muslim menggunakan helm saat berkendara, mengenakan sabuk pengaman ketika mengemudi, menggunakan alat pelindung saat bekerja, menjaga pola hidu sehat, hingga senantiasa memeriksakan diri ke dokter ketika sakit, itu semua bukan berarti tidak percaya takdir, tetapi bagian dari menjalankan syariat Islam yang memerintahkan pemeluknya untuk senantiasa menjaga diri dan kesehatannya.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Demikian adanya khutbah Jumat perihal menyeimbangkan antara percaya takdir dan tuntutan menjaga kesehatan. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ،
صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ


عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


-----
Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop Bangkalan Jawa Timur.

Baca Artikel Selengkapnya