Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui Kurban 

55 menit yang lalu 1

Ibadah kurban mengajarkan umat Islam tentang keikhlasan, pengorbanan, serta kepedulian terhadap sesama. Di tengah kehidupan modern yang sering kali individualistis, kurban hadir sebagai sarana untuk menumbuhkan empati dan solidaritas sosial dalam masyarakat.

Naskah khutbah Jumat ini berjudul: “Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui Kurban ”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الزَّمَانَ مِيْدَانًا لِلطَّاعَةِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِعَلَى بَعْضٍ بِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ، فَجَعَلَ مِنْهَا شَهْرَ َذِيْ الْحِجَّةِ شَهْرًا حَرَامًا، وَمُوْسِمًا لِزِيَادَةِ التَّقْوَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْقِذُنَا مِنْ عَذَابِهِ وَتُبَلِّغُنَا رِضْوَانَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ يَحُثُّ أُمَّتَهُ عَلَى الطَّاعَاتِ وَالْقُرُبَاتِ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah Swt. Atas limpahan nikmat-Nya, manusia tidak akan mampu menghitung karunia yang telah Dia berikan, sekecil apa pun nikmat itu. Karena itu, setiap Muslim wajib menghadirkan rasa syukur, bukan hanya melalui ucapan lisan, tetapi juga melalui amal dan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari.

Wujud syukur yang paling nyata ialah ketika seseorang meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Swt. dengan sungguh-sungguh. Ia menjalankan setiap perintah-Nya dengan penuh kesadaran dan menjauhi setiap larangan-Nya dengan penuh keikhlasan. Dalam Islam, ketakwaan tidak cukup hadir dalam ibadah ritual semata, tetapi juga harus tampak dalam kepedulian sosial terhadap sesama manusia.

Salah satu perintah Allah Swt. yang sangat ditekankan ialah berbagi rezeki kepada orang lain, terutama kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. Sebaliknya, Allah Swt. melarang manusia memiliki sifat individualistis, gemar menimbun harta, serta enggan membantu sesama.

Allah Swt. berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

Artinya: “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.” (QS. Ali ‘Imran: 92).

​​​​​​​Ayat tersebut menegaskan bahwa kebajikan tidak lahir dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari keikhlasan seseorang dalam berbagi. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hidup hanya bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, Islam mengajarkan kepedulian, empati, dan semangat saling menolong.

​​​​​​​Karena itu, Allah Swt. juga memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang gemar menumpuk harta dan merasa aman dengan kekayaannya. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ ۝ ࣙالَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ ۝ يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ ۝

​​​​​​​Artinya: “Celakalah setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” (QS. Al-Humazah: 1–3).

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Di tengah kehidupan saat ini, manusia menghadapi krisis kepedulian yang kian nyata. Teknologi memang mempermudah hidup, tetapi pada saat yang sama juga perlahan menjauhkan manusia dari empati dan kebersamaan. Media sosial membuat kehidupan orang lain mudah terlihat, tetapi tidak selalu membuat hati menjadi lebih peduli.

Hari ini, banyak orang sibuk memamerkan kemewahan hidup, tetapi abai terhadap tetangga yang kesulitan makan. Banyak orang berlomba membangun citra diri, tetapi lalai membantu saudara yang sedang tertimpa musibah. Akibatnya, individualisme tumbuh semakin kuat, hubungan antarwarga makin renggang, dan semangat gotong royong perlahan memudar.

Tidak sedikit orang hidup dalam kecukupan, tetapi tidak mengenal kondisi masyarakat di sekitarnya. Ada yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya menahan lapar. Ada pula yang menghabiskan harta demi gaya hidup berlebihan, sedangkan anak yatim dan kaum dhuafa masih menanti uluran tangan.

Karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk membangun kepedulian sosial. Kesalehan seorang Muslim tidak cukup diukur dari ibadah pribadinya, tetapi juga dari manfaat yang ia hadirkan bagi sesama. Sebab, keberkahan hidup tidak lahir dari banyaknya harta, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain.

Menghadapi kondisi ini, semangat kurban perlu kita hidupkan kembali. Ibadah kurban tidak hanya memperkuat kesalehan pribadi, tetapi juga menumbuhkan kesalehan sosial. Kurban mengajarkan solidaritas, kepedulian, dan kecintaan untuk berbagi.

Saat daging kurban dibagikan kepada sesama, Islam menghadirkan pemerataan kebahagiaan. Mereka yang kurang mampu ikut merasakan nikmat yang mungkin jarang mereka dapatkan pada hari-hari biasa. Islam tidak menghendaki kebahagiaan hanya dinikmati oleh sebagian orang. 

Lebih jauh, Islam mengajarkan setiap Muslim untuk menjadi pribadi yang memberi manfaat bagi orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

​​​​​​​Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR Ahmad).

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Ibadah kurban yang disyariatkan setiap bulan Dzulhijjah semestinya menjadi titik kebangkitan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Kurban pada Hari Raya Idul Adha tidak cukup dimaknai sebagai ritual tahunan semata, tetapi harus dilanjutkan dengan “kurban-kurban” lain dalam kehidupan sehari-hari: mengorbankan ego, menumbuhkan keikhlasan, serta membiasakan diri membantu sesama.

Momentum Idul Adha sejatinya menjadi sarana pendidikan ruhani, sosial, dan kemanusiaan. Dari ibadah kurban, umat Islam belajar tentang keikhlasan, pengorbanan, kepatuhan kepada Allah Swt., sekaligus kepedulian terhadap sesama manusia.

Karena itu, mari kita hidupkan kembali budaya berbagi, saling membantu, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Jangan sampai kesibukan dan gemerlap kehidupan modern menjadikan kita pribadi yang abai terhadap penderitaan sesama.

Allah berfirman;

إِنّا أَعْطَيْناكَ الْكَوْثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَاِنْحَرْ (٢) إِنَّ شانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (٣)

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak, 2. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!, 3. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS Al-Kautsar: 1-3).

Semoga Allah Swt. menerima amal ibadah kurban kita, membersihkan hati kita dari sifat sombong dan cinta dunia yang berlebihan, serta menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas, peduli, dan bertakwa. Amin ya rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَظَّمَ شَهْرَ ذِيْ الْحِجَّةِ وَجَعَلَهُ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَدَعَانَا فِيْهِ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيْ وَالْإِكْثَارِ مِنَ الطَّاعَاتِ، لِنَزْدَادَ تَقْوًى وَقُرْبًا إِلَيْهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

-------------
H  Muhammad Faizin, Ketua PCNU Pringsewu, Lampung

Baca Artikel Selengkapnya