Khutbah Jumat: Memahami Gender, Menghindari Penyimpangan Seksual

2 jam yang lalu 3

Di era modern yang penuh dengan arus informasi, anak-anak semakin mudah terpapar berbagai hal, termasuk tentang gender yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai Islam dan Indonesia. Kondisi ini menuntut peran orang tua untuk memberikan pemahaman yang benar tentang gender sebagai bagian dari fitrah, sekaligus melindungi anak dari penyimpangan yang dapat merusak masa depannya.

Oleh karena itu, naskah khutbah Jumat ini berjudul: “Memahami Gender, Menghindari Penyimpangan Seksual.”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ۝٢١

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Sudah seharusnya kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah menciptakan kita dalam bentuk sempurna. Allah jugalah yang memberikan kita petunjuk melalui agama Islam, serta menjadikan kita sebagai orang tua yang diberi amanah besar dalam mendidik generasi penerus peradaban.

Seiring dengan rasa syukur, marilah kita juga senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual semata, tetapi juga dalam bagaimana kita menjaga amanah, termasuk amanah dalam mendidik dan membimbing anak-anak kita agar tetap berada di atas fitrah yang benar.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, menjaga ketakwaan juga berarti memastikan generasi kita tumbuh dengan pemahaman yang lurus tentang jati dirinya, termasuk dalam hal menjaga kehormatan, memahami gender atau jenis kelamin sesuai fitrah, serta terhindar dari berbagai penyimpangan yang dapat merusak masa depan mereka.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Salah satu amanah terbesar yang Allah titipkan kepada kita adalah anak-anak kita. Mereka bukan sekadar penerus keturunan, tetapi juga penentu masa depan peradaban dunia. Di zaman yang penuh tantangan ini, anak-anak kita hidup dalam arus informasi yang begitu deras. Tanpa bimbingan yang benar, mereka bisa terpapar pemahaman yang keliru tentang jati diri, termasuk dalam hal gender atau jenis kelamin dan orientasi seksual.

Islam telah memberikan pedoman yang sangat jelas tentang hal ini. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَاَنَّهٗ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰى. مِنْ نُّطْفَةٍ اِذَا تُمْنٰىۙ

Artinya: “Bahwa sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan. dari mani ketika dipancarkan” (QS. An-Najm: 45-46)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam dua jenis kelamin yang jelas, yaitu laki-laki dan perempuan. Inilah fitrah yang harus kita jaga. Tugas kita sebagai orang tua adalah mengenalkan identitas ini kepada anak sejak dini, agar mereka tumbuh dengan pemahaman yang benar tentang diri mereka.

Sering kali kita merasa tabu untuk membicarakan pendidikan terkait dengan gender kepada anak. Padahal dalam Islam, pendidikan ini justru penting dan harus diberikan dengan cara yang benar. Rasulullah SAW telah memberikan panduan yang sangat jelas dalam mendidik anak sesuai tahap usianya. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda:

مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Artinya: “Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat)! Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan)!” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini tidak hanya berbicara tentang shalat, tetapi juga menunjukkan pentingnya pendidikan bertahap, termasuk dalam menjaga batasan antara laki-laki dan perempuan. Memisahkan tempat tidur adalah bagian dari pendidikan menjaga kehormatan dan identitas diri.

Pada usia dini, anak perlu dikenalkan pada bagian tubuhnya dan mana yang harus dijaga. Ketika beranjak besar, mereka perlu diajarkan adab meminta izin, menjaga pandangan, serta batasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Ketika memasuki masa pubertas, mereka harus memahami perubahan tubuh mereka dan diarahkan untuk menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Perlu kita sadari bahwa fenomena penyimpangan orientasi seksual yang kita lihat hari ini bukanlah sesuatu yang muncul tanpa sebab. Banyak faktor yang memengaruhi, seperti kurangnya pendidikan agama, paparan media yang tidak sehat, lingkungan pergaulan yang bebas, hingga pengalaman buruk seperti pelecehan seksual. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup juga lebih rentan mencari identitas di tempat yang salah.

Islam telah mengingatkan kita melalui kisah kaum Nabi Luth AS tentang bahaya penyimpangan ini. Allah SWT berfirman:

اَتَأْتُوْنَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعٰلَمِيْنَۙ ۝١٦٥ وَتَذَرُوْنَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُوْنَ ۝١٦٦

Artinya: “Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks)? Sementara itu, kamu meninggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu? Kamu (memang) kaum yang melampaui batas.” (QS. Asy-Syu’ara: 165–166)

Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa perilaku menyimpang dari fitrah adalah bentuk pelanggaran terhadap ketentuan Allah. Dan perlu kita pahami bahwa anak-anak bukanlah pelaku utama yang harus disalahkan. Mereka adalah korban dari lingkungan yang tidak sehat dan kurangnya bimbingan. Oleh karena itu, pendekatan kita harus penuh kasih sayang, bukan caci maki, apalagi kekerasan.

Lalu hadirin yang dirahmati Allah,

Bagaimanakah solusi agar anak-anak kita tidak menjadi korban? Pertama, kita harus menanamkan akidah sejak dini. Anak yang mengenal Allah akan memiliki pegangan hidup yang kuat. Ajarkan bahwa dirinya adalah ciptaan Allah yang memiliki tujuan mulia. Selanjutnya, kita juga harus membangun komunikasi yang terbuka. Jadilah orang tua yang bisa diajak bicara. Jangan sampai anak mencari jawaban di luar yang justru menyesatkan.

Sangat penting juga untuk selalu mengawasi lingkungan dan media. Di era digital ini, satu klik bisa membuka pintu kerusakan. Maka pendampingan orang tua menjadi sangat penting. Selain itu penting untuk mengajarkan batasan aurat dan sentuhan. Anak harus tahu bagian tubuh yang tidak boleh disentuh dan harus berani mengatakan “tidak”.

Berikan keteladanan kepada anak dengan menunjukkan peran laki-laki yang baik sebagai ayah, dan ibu menunjukkan peran perempuan yang mulia. Keteladanan akan lebih kuat daripada sekadar nasihat. Bangun kedekatan emosional dengan anak agar mereka merasa dicintai dan tidak akan mudah mencari perhatian di tempat yang salah.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kita semua akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah ini. Jangan sampai kita lalai hingga anak-anak kita tumbuh tanpa arah. Didiklah mereka dengan iman, dengan ilmu, dan dengan kasih sayang. Semoga Allah menjaga anak-anak kita, menjadikan mereka generasi yang shalih dan shalihah, serta melindungi mereka dari segala bentuk penyimpangan. Amin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ  وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung

Baca Artikel Selengkapnya