Khutbah Jumat: Kritik Bukan Ancaman Tapi Jalan Perbaikan Diri

2 jam yang lalu 2

Salah satu akhlak penting yang sering dilupakan dalam kehidupan sehari-hari adalah kemampuan menerima kritik dengan lapang dada. Banyak orang merasa terganggu, tersinggung, bahkan marah ketika mendapatkan masukan atau koreksi dari orang lain. Padahal, kritik yang baik bukanlah ancaman, melainkan cermin untuk memperbaiki diri.

Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Khutbah Jumat: Kritik Bukan Ancaman Tapi Jalan Perbaikan Diri”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَوْضَحَ لَنَا شَرَائِعَ دِينِهِ، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِتَنْزِيلِ كِتَابِهِ، وَأَمَدَّنَا بِسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَلِلَّهِ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ مِنْ هِدَايَتِهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ مُبَيِّنًا عَلَى رِسَالَةِ الرَّحْمَنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَي وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَةِ الْوَرَى.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ، اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى:  بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ، وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِِلَّا الَّذِینَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Dalam sejarah Islam, kekuasaan tidak pernah dipahami sebagai ruang yang steril dari kritik. Ia bukan menara gading yang berdiri jauh dari jangkauan rakyat. Justru sejak awal, ia dibangun di atas kesadaran bahwa manusia yang memimpin tetaplah manusia biasa; yang bisa benar dan bisa salah.

Maka tidak mengherankan jika Abu Bakar Ash-Shiddiq, ketika pertama kali dibaiat sebagai khalifah, tidak mengumandangkan dirinya sebagai sosok sempurna. Ia justru membuka ruang koreksi di tengah legitimasi kekuasaan yang baru saja ia terima. Dengan suara yang jernih ia berkata:

“Wahai manusia, aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian padahal aku bukan orang yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, maka bantulah aku. Tapi jika aku berbuat keburukan (menyimpang), maka luruskanlah aku.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Begitu pun Umar bin Khattab, sosok yang dalam banyak riwayat dikenal keras dalam prinsip, namun lembut dalam menerima kebenaran. Ketika ia dilantik menjadi kepala negara, ia tidak menutup ruang dialog antara penguasa dan rakyat. Dalam sebuah pidato pelantikan ia menyatakan:

“Rakyatku, siapa saja yang melihat ada yang bengkok pada diriku, hendaknya dia meluruskannya.”

Mendengar itu seorang A’rab Badui, orang pedalaman yang tidak dibebani basa-basi politik kekuasaan, menjawab dengan spontan dan tajam:

“Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, kalau saja aku menemukan kebengkokan pada dirimu, aku akan meluruskannya dengan pedangku ini.”

Merespons itu Umar bin Khattab justru bersyukur dan berterima kasih jika ada yang berani menunjukkan kesalahannya. Al-Ghazali mengungkapkan;

كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي

Artinya, "Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: ‘Semoga Allah merahmati seseorang yang menghadiahkan kepadaku aib-aibku’."

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

​​​​​​​
Dalam Islam, kritik disebut dengan istilah nasihat. Nabi Muhammad bersabda:

إِنَّمَا الدِّينُ النَّصِيحَةُ، فَقِيلَ: لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: لِلّٰهِ وَلِكِتَابِهِ وَرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُؤْمِنِينَ وَعَامَّتِهِمْ 

Artinya, “Sungguh agama (Islam) itu adalah nasihat. Maka (nabi) ditanya (oleh sahabat), untuk siapa, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: Untuk Allah, kitab-Nya, utusan-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan umat Islam seluruhnya.” (H.R. Muslim)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

​​​​​​​

Namun persoalannya hari ini agak berbeda. Kritik sering tidak lagi dibaca sebagai nasihat, tetapi sebagai ancaman. Sebaliknya, kekuasaan sering tidak lagi dilihat sebagai amanah, tetapi sebagai wilayah yang harus steril dari gangguan.

Di sinilah letak problemnya: ketika kritik dianggap ancaman, maka yang tumbuh bukan perbaikan, ​​​​​​​tetapi pertahanan diri yang berlebihan. Dan dalam banyak kasus, pertahanan diri itu berubah menjadi penolakan terhadap kebenaran.

Padahal, individu yang paling sulit berkembang bukanlah mereka yang paling sering gagal, melainkan mereka yang paling menolak untuk menerima masukan. Oleh karena hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman: 

وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِِلَّا الَّذِینَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

Artinya, “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

​​​​​​​

Menafsirkan ayat di atas, Imam Al-Qusyairi dalam kitab Lathaif Al-Isyarat jilid 3, halaman 764, menjelaskan manusia yang selamat dari kerugian itu adalah orang-orang yang ikhlas dalam ibadahnya, tetapi tidak berhenti di sana. Mereka juga saling menasihati dalam kebenaran, saling menguatkan dalam kebaikan, dan saling mengingatkan untuk bersabar. 

Dalam surat ini juga ada isyarat dari Allah Ta’ala yang sangat istimewa, yaitu dalam pengulangan lafadz “tawasshaw”, kalimat tersebut berarti harus ada hukum timbal balik. Yakni saling mengkritik, saling mengingatkan dan menasihati apabila terjadi kesalahan dan kelalaian. 

Karena, jika ada yang mengkritik tanpa mau menerima kritik, maka yang terjadi adalah kesombongan. Sebaliknya, jika hanya ada yang menerima kritik, tanpa mau mengkritik, maka yang terjadi adalah kelalaian. 

Artinya, Allah Ta’ala tidak menghendaki orang-orang beriman bersikap individualis dalam meraih keselamatan dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat, maka Allah menekankan untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Menerima kritik adalah keterampilan yang harus dilatih, bukan bakat yang dimiliki sejak lahir. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak sempurna, dan dibutuhkan kebijaksanaan untuk memilih masukan mana yang layak dijadikan bahan evaluasi.

Mari kita ubah cara pandang terhadap kritik. Jangan lagi menganggapnya sebagai vonis yang melemahkan, melainkan sebagai nasihat yang menguatkan. Karena sejatinya, orang yang bersedia mengkritik kita adalah orang yang masih peduli agar kita tidak terjerumus dalam kesalahan.

Demikian khutbah jumat di siang yang penuh berkah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamin ya rabbal alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، 

أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَوَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 

عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ 

----------------
Abdul Karim Malik, alumni Al-Falah Ploso Kediri, pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi, dan pengajar di Pondok Pesantren YAPINK Tambun-Bekasi.

Baca Artikel Selengkapnya