Khutbah Jumat: Keberanian Imam Malik dan Syekh Izzuddin bin Abdissalam Menasihati Penguasa  

2 jam yang lalu 3

Dalam sejarah Islam, ada gelar yang tidak dapat dibeli dengan harta, tidak dapat diwariskan oleh darah, dan tidak dapat diraih oleh sekadar luasnya ilmu. Gelar itu adalah Sulthanul Ulama, rajanya para ulama. Ia hanya tersematkan pada mereka yang berhasil menaklukkan penguasa bukan dengan pedang, melainkan dengan keberanian menyampaikan kebenaran di saat semua orang memilih diam.

Naskah khutbah kali ini berjudul, “Khutbah Jumat: Keberanian Imam Malik dan Syekh Izzuddin bin Abdissalam Menasihati Penguasa”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silahkan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). semoga bermanfaat.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَ وَالْجِنَّ لِيُكَلِّفَهُمْ أَنْ يُوَحِّدُوْهُ وَيَعْبُدُوْهُ وَيُقَدِّسُوْهُ وَيُمَجِّدُوْهُ وَيَشْكُرُوْهُ وَلَا يَكْفُرُوْهُ وَيُطِيْعُوْهُ وَلَا يَعْصُوْهُ وَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ رَسُوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُعَزِّرُوْهُ وَيُوَقِّرُوْهُ وَيُطِيْعُوْهُ وَيَنْصُرُوْهُ فَأَمَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ بِكُلِّ بِرٍّ وَإِحْسَانٍ وَزَجَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ عَنْ كُلِّ إِثْمٍ وَعُدْوِانٍ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ خَيْرِ الْمُوَحِّدِيْنَ وَالْمُسَبِّحِيْنَ وَالْحَامِدِيْنَ وَالْعَابِدِيْنَ وَالسَّائِحِيْنَ أَعْرَفِ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ بِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ عِلْمًا وَعَمَلًا وَكَمَالًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

 أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sebab ketakwaan adalah bekal terbaik dalam perjalanan hidup di dunia dan penentu kebahagiaan kita di akhirat kelak.


Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 104:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Artinya, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran [3]: 104)

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,

Ayat ini bukan sekadar perintah biasa. Ia adalah deklarasi bahwa umat Islam wajib melahirkan dari tengah-tengahnya sekelompok manusia yang tidak takut menyuarakan kebenaran, meski kebenaran itu menghadapi tembok kekuasaan yang paling kokoh sekalipun. 


Dan sejarah telah membuktikan, bahwa mereka yang benar-benar menjalankan ayat ini dengan totalitas adalah para Sulthanul Ulama; rajanya para ulama.


Sulthanul Ulama adalah gabungan dari dua kata: sulthan yang berarti raja, dan ulama yang merupakan bentuk jamak dari alim, yakni orang yang berilmu. Jadi maknanya adalah rajanya para ulama. Bukan gelar yang sembarangan. 


Tidak cukup hanya dengan menghafal ribuan hadis, menguasai puluhan kitab kuning, atau memiliki ribuan santri yang mengaguminya. Yang menjadi syarat mutlak untuk menyandang gelar ini adalah satu: kemampuan menaklukkan penguasa dengan kebenaran, di saat semua orang sedang tunduk dan takut di bawah kuasa mereka.

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,


Dalam sejarah Islam, setidaknya ada dua ulama besar yang telah berhasil menyandang gelar agung ini. Keduanya hidup di zaman berbeda, di tanah yang berbeda, namun memiliki jiwa yang sama: pemberani  dan tidak pernah gentar menyampaikan keadilan dan kebenaran, kendati di hadapan penguasa.

Yang pertama adalah Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki. Kisah ini dinukil oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) dalam kitab ad-Durr al-Matsur fi at-Tafsir bil Ma'tsur (juz 2, hal. 640).

Alkisah, suatu hari, tersebar kabar bahwa Imam Malik sedang membacakan karya agungnya, Al-Muwaththa', di hadapan masyarakat. Berita itu sampai kepada Raja Harun ar-Rasyid, penguasa besar Daulah Abbasiyah.

Tertarik untuk mendengarkannya, sang raja kemudian mengutus perdana menterinya, al-Barmakiy, agar meminta Imam Malik datang ke istana dan membacakan kitab tersebut secara khusus di hadapannya.

Namun Imam Malik tidak memenuhi permintaan tersebut. Ia  justru mengirimkan jawaban yang kemudian dikenang sepanjang sejarah:


"Sampaikan salam kepadanya (Harun ar-Rasyid), dan katakan: ilmu itu dikunjungi bukan mengunjungi, dan didatangi bukan mendatangi."

Jawaban Imam Malik bukan sekadar penolakan atas permintaan raja, tetapi menunjukkan posisinya terhadap ilmu. Baginya, ilmu tidak didatangi karena kekuasaan, melainkan dicari oleh siapa pun yang membutuhkannya.

Beberapa waktu kemudian, Harun ar-Rasyid bertemu langsung dengan Imam Malik dan membicarakan penolakan tersebut. Dalam pertemuan itu, sang imam menyampaikan sejumlah nasihat di hadapan banyak orang.

Tak lama berselang, Harun ar-Rasyid datang ke majelis Imam Malik untuk mendengarkan pembacaan Al-Muwaththa'. Namun setibanya di sana, ia memilih duduk di kursi, berbeda dengan para penuntut ilmu yang duduk di lantai mengikuti majelis sang imam.


Imam Malik tidak tinggal diam. Dengan cara yang elegan, Ia memberi nasihat:


"Wahai amirulmukminin, engkau tahu sendiri bagaimana kondisi ahli ilmu di negeri kita, mereka tidak suka (melihat orang yang tidak) tawaduk kepada ilmu."


Seketika itu juga, Harun ar-Rasyid, raja Abbasiyah yang paling ditakuti di masanya, turun dari kursinya dan duduk bersimpuh di hadapan Imam Malik bin Anas, rajanya para ulama. Inilah makna sejati dari Sulthanul Ulama: bukan yang paling banyak diikuti, tetapi yang paling berani mendidik penguasa.


Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,

Sulthanul Ulama yang kedua adalah Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdissalam. Ia lahir di Damaskus pada tahun 577 atau 578 H, lalu hijrah ke Mesir dan di sanalah gelar Sulthanul Ulama tersematkan padanya.

Kisah nasihatnya kepada penguasa dicatat oleh Imam Tajuddin as-Subki (w. 771 H) dalam kitab Thabaqat as-Syafi'iyah al-Kubra (juz 8, hal. 211).

Peristiwa ini bermula dari sebuah kedai yang menjual minuman keras dan menyediakan berbagai bentuk kemaksiatan. Ketika mengetahui hal tersebut, Syekh Izzuddin bin Abdissalam tidak mendatangi kedai itu atau mengambil tindakan terhadap pemiliknya. Ia justru langsung menghadap Raja Mesir, Najmuddin Ayyub, sebagai pihak yang memiliki kewenangan untuk menangani persoalan tersebut.


Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,


Di hadapan bala tentara yang berbaris rapi, di saat para pejabat kerajaan berdatangan menyembah hingga nyaris mencium tanah, syekh Izzuddin tiba-tiba meneriakinya dengan suara lantang:


"Wahai Ayyub, apa jawabanmu nantinya, kalau Allah menyoalmu dengan pertanyaan: 'Bukankah Aku telah jadikan kamu sebagai raja Mesir, lalu kau legalkan khamar di mana-mana?'"

Raja Ayyub pun tercengang. Dengan penuh kebingungan ia bertanya, benarkah hal itu terjadi? Syekh Izzuddin pun menjawab dan menjelaskan dengan tegas:


"Iya, benar. Di kedai si Fulanah terdapat banyak khamar dan fasilitas-fasilitas kemungkaran lainnya. Sementara kau hanya berkutat di tengah kenikmatan serta kemewahan kerajaan ini."

Raja Ayyub berusaha berdalih bahwa ia tidak mengetahuinya, dan itu sudah ada sejak zaman ayahnya. Syekh Izzuddin tidak membiarkan dalih itu berlalu begitu saja. Dengan tajam ia merespons:

أَنْتَ مِنَ الَّذِينَ يَقُولُونَ: إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ

Artinya; "Kamu termasuk dari orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut satu agama, dan kami mendapati petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.'" (QS. Az-Zukhruf [43]: 23).

Dan seketika itu juga, raja Ayyub menulis surat penutupan kedai remang-remang tersebut. Satu momen keberanian, satu teguran yang beretika, menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat yang tidak berdaya.

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,

Ada satu benang merah dari kedua kisah ini. Imam Malik dan Syekh Izzuddin bin Abdissalam sama-sama menghadapi kemungkaran dengan pendekatan yang berbeda. Imam Malik melakukannya melalui pendidikan dan pembinaan prinsip, sedangkan Syekh Izzuddin langsung mendatangi penguasa yang memiliki kewenangan mengambil keputusan.


Gambaran seperti inilah yang disebut dalam firman Allah pada surat Ali Imran ayat 104, yaitu adanya sekelompok umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari kemungkaran.


Amar ma'ruf nahi mungkar dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, sesuai dengan konteks, peran, dan sasaran yang dihadapi. Kedua tokoh tersebut menunjukkan bahwa upaya menyampaikan kebenaran dan melakukan koreksi terhadap suatu keadaan dapat ditempuh melalui cara yang berbeda-beda.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَأَدَّبَ وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَدَّبَهُ رَبُّهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ اَلْمُتَمِّمِيْنَ اتِّبَاعَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلَيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلّاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ، اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

------------------
Ahmad Dirgahayu Hidayat, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Pengajar di Ponpes Manbaul Ulum Kabul, Lombok Tengah.

Baca Artikel Selengkapnya