Di antara penyakit hati yang paling tersembunyi namun merusak adalah iri hati. Ia tidak terlihat, tidak bersuara, tetapi perlahan mengikis ketenangan dari dalam. Ia muncul saat kita melihat orang lain berhasil, sementara kita merasa sudah berusaha. Ia juga hadir ketika orang lain dipuji, sementara hati kita merasa lebih layak.
Khutbah Jumat dengan judul, “Khutbah Jumat: Jangan Iri Hati Ketika Orang Lain Sukses” Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini. Semoga bermanfa’at.
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَ قَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Setiap lantunan pujian dan ekspresi syukur atas segala nikmat, sepantasnya-lah kita selalu panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Karena berkat kemahabijaksanaan-Nya, kita tetap diberikan kewarasan, meskipun terkadang banyak rintangan hidup yang harus kita hadapi.
Begitu juga, shalawat dan salam, kita tidak boleh lupa haturkan untuk junjungan alam, Nabi Besar Muhammad SAW. Sebab berkat perjuangan beliau dalam berdakwah, manis Iman dan Islam dapat kita rasakan hingga kini. Kemudian untuk para sahabat, kerabat, dan ulama yang senantiasa mendampingi beliau, semoga Allah membalas kebaikan mereka.
Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah, mari tingkatkan ketakwaan kepada Allah dan tetap menjadi insan yang memberikan energi positif untuk sesama. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 119:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Tak bisa dipungkiri, dalam kehidupan sehari-hari manusia kerap dihadapkan pada berbagai perbedaan keadaan. Ada orang yang lebih kaya, lebih cerdas, lebih terkenal, lebih berhasil dalam usaha, bahkan lebih beruntung dalam urusan keluarga dan pekerjaan.
Di tengah derasnya media sosial hari ini, kita semakin mudah melihat keberhasilan orang lain. Namun sayangnya, tidak semua hati mampu menerimanya dengan lapang. Ada hati yang kemudian dipenuhi iri dan dengki. Ketika melihat orang lain berhasil, ia merasa sempit. Ketika melihat orang lain bahagia, ia merasa gelisah. Bahkan terkadang muncul doa-doa buruk agar nikmat itu hilang dari saudaranya.
Padahal sifat iri dan dengki merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia dapat menghapus pahala, merusak persaudaraan, dan membuat hidup seseorang tidak pernah tenang.
Rasulullah bersabda:
لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Artinya; “Janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Imam Muslim)
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT melalui Surah An-Nisa ayat 32 menegaskan bahwa sifat hasad atau iri dengki tidak membawa kebaikan, melainkan dapat memicu permusuhan, merusak hubungan antarmanusia, dan menimbulkan perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
Artinya: “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Iri hati sering muncul karena seseorang terlalu sibuk melihat nikmat orang lain, tetapi lupa mensyukuri nikmat dirinya sendiri. Padahal setiap manusia telah Allah tetapkan jalan hidupnya masing-masing. Sejatinya, rezeki, kedudukan, kemampuan, dan keberhasilan seseorang merupakan bagian dari ketetapan Allah. Karena itu, tidak pantas seorang mukmin membenci keberhasilan saudaranya.
Allah berfirman dalam surat Az-Zukhruf ayat 32;
اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّاۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٣٢
Artinya; Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Lebih jauh lagi, sikap iri hati atau hasad dapat memberikan dampak yang sangat merugikan bagi pelakunya, bahkan dapat menghapus nilai-nilai kebaikan yang telah dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa hasad bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga berdampak pada kualitas spiritual seseorang.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad Saw. riwayat Imam Abu Dawud dari Abu Hurairah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda: “Hindarilah sifat hasad, karena hasad itu menghapus kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Agar terhindar dari dampak buruk hasad, Nabi Muhammad Saw. mengajarkan umatnya untuk saling mencintai dan menghargai sesama. Salah satu caranya adalah tidak iri atas keberhasilan orang lain, melainkan menjaga persaudaraan.
Salah satu cara menghindari hasad adalah dengan turut berbahagia atas kesuksesan orang lain serta menjaga persaudaraan.
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّهُٰ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَقَاطَعُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا
Artinya: Dari Anas, bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Janganlah kalian saling hasad (dengki), saling membenci, saling berselisih, akan tetapi jadilah hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Sebagai penutup, marilah kita senantiasa menjaga hati dari sifat iri dan dengki, serta menggantinya dengan sikap syukur dan menghargai keberhasilan orang lain. Sebab kebahagiaan sejati tidak diukur dari banyaknya apa yang kita miliki, tetapi dari bersihnya hati dalam menerima ketetapan Allah Swt. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu menjaga persaudaraan, memperbanyak kebaikan, dan dijauhkan dari segala penyakit hati. Aamiin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
--
Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman

2 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·