Ada kabar yang seharusnya membuat kita semua berhenti sejenak. Bukan semata-mata karena jumlahnya, tetapi karena mereka yang berada di balik angka itu adalah anak-anak dan remaja. Mereka yang semestinya sedang belajar, bermain, dan menata cita-cita, justru harus berhadapan dengan penyakit yang hingga hari ini masih menjadi salah satu tantangan terbesar dunia kedokteran.
Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2026 terdapat 522 anak di Sidoarjo yang hidup dengan HIV/AIDS. Angka ini mengejutkan banyak pihak sekaligus menjadi peringatan bahwa HIV/AIDS tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan kelompok tertentu. Generasi muda kini berada dalam posisi yang semakin rentan. Pertanyaannya, bagaimana ilmu kedokteran menjelaskan fenomena ini, dan bagaimana Islam memandangnya?
HIV/AIDS merupakan penyakit infeksi yang hingga kini belum ditemukan obat yang mampu menghilangkan virus secara sempurna. Berbeda dengan berbagai penyakit lain yang dapat dicegah melalui vaksin atau disembuhkan dengan terapi tertentu, penanganan HIV masih bertumpu pada penggunaan Anti Retro Viral (ARV).
Obat ini bukan untuk membunuh virus, melainkan menekan perkembangannya agar daya tahan tubuh penderita tetap terjaga. Karena itu, terapi ARV harus dijalani seumur hidup dan tidak sedikit pasien yang mengalami efek samping selama pengobatan.
Dalam perspektif ilmu kedokteran, HIV menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga penderita menjadi sangat rentan terhadap berbagai infeksi oportunistik. Mikroorganisme yang pada orang sehat tidak menimbulkan masalah, pada penderita HIV justru dapat berkembang menjadi penyakit yang berat.
Menariknya, gambaran ini memiliki kesesuaian dengan penjelasan ulama sekaligus ilmuwan besar, Al-Hafizh adz-Dzahabi. Dalam kitab At-Thibb an-Nabawi (Daar Ihya' al-'Ulum, 1990, hlm. 63), beliau menjelaskan bahwa anak-anak yang memiliki daya tahan tubuh lemah termasuk kelompok pasien yang paling sulit ditangani.
Walaupun beliau tentu tidak sedang membahas HIV/AIDS yang baru dikenal pada masa modern, prinsip yang beliau kemukakan menunjukkan bahwa lemahnya sistem imun telah lama dipahami sebagai kondisi yang membutuhkan perhatian serius.
Persoalan HIV semakin kompleks karena virus ini sering tidak menampakkan gejala selama bertahun-tahun. Seorang remaja dapat terlihat sehat, aktif, bahkan berprestasi, padahal virus terus berkembang di dalam tubuhnya. Ketika gejala mulai muncul, seperti batuk berkepanjangan, diare yang tidak kunjung sembuh, atau infeksi jamur yang sering dianggap sebagai sariawan biasa, kondisi tersebut sering kali telah memasuki fase AIDS.
Dokter Muhammad Ali al-Bar dalam bukunya Riwayat Tha'un dan Wabah dalam Sejarah Islam (PT Pustaka Alvabet, 2020, hlm. 87) menjelaskan bahwa keberadaan orang tanpa gejala merupakan fenomena yang membingungkan dalam dunia epidemiologi. Mereka tampak sehat, tetapi sebenarnya membawa mikroorganisme yang dapat menularkan penyakit kepada orang lain. Inilah salah satu sebab mengapa HIV/AIDS menjadi penyakit yang sangat sulit dikendalikan.
Virus HIV sendiri menular melalui cairan tubuh manusia. Jalur penularan yang paling dikenal adalah hubungan seksual dengan penderita HIV, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, serta transfusi darah yang telah terkontaminasi.
Namun demikian, terdapat pula penularan yang sering luput dari perhatian, seperti bayi yang tertular dari ibunya sejak dalam kandungan atau saat persalinan, maupun pasangan suami istri yang hidup setia tetapi salah satunya telah membawa virus tanpa pernah mengetahuinya. Karena itu, persoalan HIV/AIDS tidak dapat dipandang hanya dengan kacamata stigma, melainkan harus dilihat secara ilmiah, objektif, dan penuh empati.
Dampak HIV/AIDS tidak berhenti pada persoalan kesehatan. Dalam skala yang lebih luas, penyakit ini berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Meningkatnya angka penderita usia muda dapat menurunkan harapan hidup, mengurangi produktivitas angkatan kerja, memperbesar beban pembiayaan kesehatan, dan memperlebar kesenjangan sosial. Di balik itu semua terdapat beban psikologis yang tidak ringan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa vonis HIV/AIDS merupakan salah satu diagnosis yang menimbulkan tingkat stres paling tinggi dibandingkan banyak penyakit kronis lainnya. Anak-anak dan remaja yang sedang membangun jati diri harus menghadapi kecemasan, rasa takut, bahkan stigma sosial yang sering kali lebih menyakitkan daripada penyakitnya sendiri.
Lalu, apa yang harus dilakukan?
Persoalan sebesar ini tidak mungkin diselesaikan hanya oleh tenaga kesehatan. Diperlukan langkah bersama yang melibatkan pemerintah, keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan masyarakat. Skrining HIV bagi kelompok yang berisiko, termasuk pelajar, mahasiswa, dan pasangan sebelum menikah, perlu terus diperkuat.
Demikian pula edukasi mengenai pergaulan yang sehat harus diberikan melalui pendekatan ilmiah sekaligus religius, disertai penguatan layanan klinis bagi para penderita agar mereka memperoleh pendampingan yang layak.
Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan dan melindungi jiwa merupakan bagian dari tujuan utama syariat (hifzh an-nafs). Karena itu, setiap ikhtiar untuk mencegah penularan, mengobati penderita, dan menghilangkan stigma merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
Apabila penyakit telah terjadi, Islam juga mengajarkan agar ikhtiar medis berjalan beriringan dengan ikhtiar spiritual. Di antara tuntunan Rasulullah adalah membaca al-Mu'awwidzat ketika menghadapi sakit yang berat. Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari:
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفِثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي مَرَضِهِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنَا أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ، فَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا، فَسَأَلْتُ ابْنَ شِهَابٍ: كَيْفَ كَانَ يَنْفِثُ؟ قَالَ: يَنْفِثُ عَلَى يَدَيْهِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ.
Artinya: "Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi ﷺ ketika sakit yang mengantarkan beliau wafat selalu membaca al-Mu'awwidzat lalu meniupkannya ke tubuh beliau. Ketika sakit beliau semakin berat, akulah yang membacakannya untuk beliau, kemudian aku mengusap tubuh beliau dengan tangan beliau sendiri karena mengharapkan keberkahannya." (HR. al-Bukhari).
Menariknya, semangat yang terkandung dalam al-Mu'awwidzat tersebut tidak hanya dipraktikkan sebagai ibadah personal. Islamic Medical Association of Uganda menjadikannya sebagai salah satu inspirasi dalam modul penanggulangan HIV/AIDS di negaranya. Para dokter Muslim bersama para ulama melatih tokoh agama dan tokoh masyarakat agar mampu mendampingi pasien dengan pendekatan spiritual yang membangkitkan harapan sekaligus tanggung jawab sosial.
Surat An-Nas dipahami bukan sekadar sebagai bacaan doa, melainkan sebagai spirit jihad melawan penyakit, melawan keputusasaan, dan melawan berbagai faktor yang menyebabkan penyebaran HIV/AIDS. Bersamaan dengan edukasi kesehatan dan penguatan pelayanan medis, pendekatan spiritual tersebut mampu membangun kesadaran masyarakat sehingga angka kejadian HIV/AIDS di Uganda dapat ditekan.
Pelajaran penting yang dapat kita petik adalah bahwa HIV/AIDS tidak cukup dilawan hanya dengan obat. Ia harus dihadapi melalui perpaduan ilmu pengetahuan, edukasi, kepedulian sosial, penguatan layanan kesehatan, serta ikhtiar spiritual yang terus menumbuhkan harapan.
Melindungi anak-anak dan remaja dari HIV/AIDS berarti menjaga masa depan bangsa. Apabila pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh agama, keluarga, dan seluruh komponen masyarakat bersatu dalam ikhtiar tersebut, maka harapan untuk mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berkualitas bukanlah sesuatu yang mustahil. Wallahu a'lam bish-shawab.
-------
Yuhansyah Nurfauzi, Apoteker dan Peneliti Farmasi

3 jam yang lalu
2




English (US) ·
Indonesian (ID) ·